ISIS Hancurkan Patung Berusia 3.000 Tahun

ISIS Hancurkan Patung Berusia 3.000 Tahun

REINHA.com – Barang-barang kuno peninggalan leluhur yang tersimpan di museum Mosul, Irak, hancur hanya dalam hitungan menit, padahal sebagian karya seni itu telah berusia 3.000 tahun. ISIS menghancurkan isi museum menggunakan bor listrik dan palu godam karena patung-patung dianggap sebagai lambang penyembahan berhala.

Seperti dilansir Dailymail, 26 Februari 2015, militan ISIS mengamuk di Museum Niniwe, menghancurkan semua koleksi museum. Salah satu peninggalan sejarah yang tak ternilai harganya adalah patung banteng bersayap, Dewa Pelindung Asyur, yang datang dari abad ke 9 Sebelum Masehi.

ISIS Hancurkan Patung Berusia 3.000 Tahun

“Nabi memerintahkan kita untuk menghancurkan patung dan relik, teman-teman nabi melakukan hal yang sama untuk menaklukan negara-negara setelah ia” ucap seorang militan ISIS dalam video rekaman penghancuran museum yang mereka unggah ke Twitter.

Beberapa hari sebelum insiden itu terjadi, ISIS menghancurkan koleksi buku dan manuskrip kuno di Perpustakaan Umum Mosul. Mereka meledakkan perpustakaan dengan menggunakan bom rakitan. 10.000 buku dan lebih dari 700 manuskrip langka habis terbakar, diantaranya buku-buku dari Kekaisaran Ottoman dan koleksi buku yang disumbangkan oleh 100 keluarga pendiri Mosul.

Sebelumnya ISIS telah menginvasi perpustakaan ini pada bulan Januari lalu. Warga Mosul mengatakan militan ISIS memecahkan kunci yang melindungi 2.000 buku yang berisi buku cerita anak,puisi, filsafat, buku olahraga dan kesehatan, dan buku budaya dan iptek. Mengangkutnya dengan 6 truk pick up dan membakarnya. Mereka hanya menyisakan buku-buku islam.

“Buku-buku ini mempromosikan perselingkuhan dan menyuarakan untuk tidak mematuhi Allah. Karena itu buku-buku tersebut dibakar”ucap seorang militan berjenggot kepada warga di sekitar perpustakaan.

Sejak ISIS berhasil menguasai kota Mosul pada Juni 2014, mereka telah menghancurkan sejumlah kuil, bahkan tempat-tempat suci muslim, dalam upaya untuk melenyapkan apapun yang terlihat sebagai ajaran sesat di mata mereka. Mereka juga telah menjual karya seni kuno di pasar gelap untuk membiayai kampanye berdarah mereka di seluruh wilayah. (jmw-reinha)