Ratusan Orang-orangan Sawah Huni Sebuah Desa Di Jepang

Ratusan Orang-orangan Sawah Huni Sebuah Desa Di Jepang

REINHA.com – Desa Nagoro di Jepang hanya ditinggali oleh sedikit penduduk, namun desa ini terlihat ramai dengan hadirnya ratusan orang-orangan sawah yang menyebar di setiap sudut desa. Orang-orang sawah ini dibuat oleh seorang nenek bernama Tsukimi Ayano, 65 tahun, sejak 13 tahun yang lalu hingga sekarang.

Jumlah penduduk di Nagoro hanya tercatat sebanya 35 orang. Seperti kebanyaan desa-desa kecil lain di Jepang, para penduduk telah meninggalkan desa untuk hidup dan bekerja di kota-kota. Yang tersisa di desa ini hanya orang-orang lanjut usia. Bahkan sekolah di desa ini sudah ditutup pada tahun 2012, setelah murid terakhir mereka lulus.

Ratusan Orang-orangan Sawah Huni Sebuah Desa Di Jepang

Warga Desa Nagoro, Tsukimi, pertama kali membuat orang-orangan sawah 13 tahun lalu untuk menjaga kebunnya dari gangguan burung. Menyadari bahwa orang-orangan tersebut mirip dengan ayahnya. Dia kemudian membuat lebih banyak lagi, dan terus membuatnya sampai saat ini.

“Di desa ini, hanya ada 35 orang. Tapi ada 150 orang-orangan sawah, jadi penduduknya bertambah sekarang,“ kata Tsukimi seperti dilansir Mirror, Rabu (18/3/2015).

Orang-orangan sawah buatan Tsukimi diletakkan di berbagai tempat. Di sekolah, di halte bus, di sawah, di atas pohon, di dalam rumah, dan di jalan-jalan. Desa Nagoro jadi terlihat lebih ramai dengan kehadiran benda-benda tak bernyawa tersebut.

Ratusan Orang-orangan Sawah Huni Sebuah Desa Di Jepang

Orang-orangan sawah tersebut dibuat dengan bahan dasar kayu ditambah dengan kertas koran atau kain untuk mengisinya. Untuk pakaiannya, digunakan pakaian bekas. Bagi orang-orangan yang diletakkan di luar ruangan diberi lapisan plastik agar tetap kering.

Namun, cuaca tetap dapat merusak orang-orangan yang diletakkan di luar sehingga Tsukimi harus menggantinya dari waktu ke waktu. Dia juga terkadang membuat orang-orangan sesuai dengan pesanan dari warga desa. Biasanya pesanan tersebut diminta memiliki kemiripan dengan orang-orang yang telah meninggalkan desa atau meninggal dunia.

“Mereka dibuat sesuai dengan permintaan orang-orang yang telah kehilangan kakek atau nenek mereka. Jadi orang-orangan ini memang membangkitkan kenangan,” kata salah satu warga desa, Osamu Suzuki.

Turis ikut berdatangan ke Desa Nagoro karena tertarik dengan orang-orangan sawah yang menjaga jalan yang menuju ke desa. Disebelah papan nama Desa Nagoro yang sekarang ditulis juga julukan desa sebagai Desa Orang-orangan Sawah. (oke/rsn-reinha)