Sebuah Desa Di China Dipenuhi Keluarga Disabilitas

Sebuah Desa Di China Dipenuhi Keluarga Disabilitas

REINHA.com – Sebuah desa di kota Changsha, China, dipenuhi oleh keluarga penderita kelemahan otak atau yang dikenal dengan celebral palsy. Terdapat lebih dari 100 keluarga yang awalnya berdatangan dari berbagai daerah, yang kemudian menetap di desa tersebut, karena mengincar fasilitas pengobatan celebral palsy gratis dari rumah sakit setempat.

Rumah Sakit Rehabilitasi Xiangya Bo’ai, memberikan pelayanan dan perawatan penuh terhadap penderita celebral palsy tanpa dipungut biasa sedikit pun. Rumah sakit ini didanai oleh pemerintah, sehingga menjadi rumah sakit spesialis yang sangat dicari oleh keluarga yang anaknya menderita celebral palsy.

Sebuah Desa Di China Dipenuhi Keluarga Disabilitas

Rumah sakit ini terbuka hanya bagi orang tua yang sudah kehabisan uang dan tidak mempunyai cara lain untuk mengobati anak-anaknya. Berawal dari rumah-rumah yang disewakan bagi keluarga yang datang berobat, kini secara spontan pemukiman pasien tersebut berubah menjadi sebuah desa kumuh yang dipenuhi oleh orang-orang penderita kelemahan otak.

Zhu Dongwen, 43 tahun, merupakan salah satu dari banyak orang tua yang akhirnya menetap di desa ini. Kedua putri kembarnya yang lahir pada tahun 2011, menderita kelemahan otak yang membuat mereka sulit bergerak dan berbicara. Dongwen membawa kedua putrinya ke desa tersebut pada April 2013, hanya dengan berbekal uang sebanyak 1.000 yen atau sekitar 2 juta rupiah.

“Saya telah menghabiskan semua tabungan saya untuk menyembuhkan kedua putri saya. Saya nyaris putus asa, hingga akhirnya saya berhasil mendapatkan pengobatan gratis. Penduduk di desa ini juga telah memberikan saya harapan” ucap Dongwen, seperti dilansir Dailymail, 10 Maret 2015.

Meskipun pengobatan sepenuhnya bebas dari biaya, keluarga penderita tetap membutuhkan uang untuk biaya hidup. Seperti keluarga Dongwen, mereka telah menghabiskan lebih dari 250.000 yen untuk biaya hidup, dan uang sebanyak itu mereka dapatkan dari meminjam dari berbagai sumber.

Di bawah perawatan intensif dari rumah sakit tersebut, kini kedua putri Dongwen setidaknya sudah mampu mengontrol tubuh mereka untuk berjalan. Kini mereka berdua sudah bisa berinteraksi dengan keluarganya dan mampu membantu ayah mereka melaksanakan pekerjaan rumah.

“Saya akhirnya mulai percaya bahwa putri-putri saya akan dapat hidup normal dan bahkan jika sesuatu terjadi pada saya mereka akan dapat menjaga diri mereka sendiri. Harapan saya tumbuh berkat adanya kesempatan untuk mengobati putri-putri saya di rumah sakit ini” lanjut Dongwen. (rsn-reinha)