Berapa Banyak Lagi Petani Kapas Di India Yang Harus Bunuh Diri?

Berapa Banyak Lagi Petani Kapas Di India Yang Harus Bunuh Diri?

REINHA.com – Vidarbha, wilayah di timur negara bagian Maharashtra, India, merupakan penghasil kapas terbesar dunia nomor dua setelah China. Namun wilayah ini juga dikenal sebagai pusat krisis bunuh diri. Menurut Vidarbha Jan Andolan Samiti (VJAS) tercatat sebanyak 2.900 orang petani kapas di wilayah ini bunuh diri sejak tahun 2013, lebih dari 500 orang bunuh diri sejak awal tahun 2015.

Para petani kapas di Vidarbha mengalami keputusasaan dalam menghadapi kendala ekonomi yang terus menyerang mereka dari tahun ke tahun. Penyebabnya adalah ladang kapas tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup mereka, malah semakin tahun penghasilan yang mereka terus menurun. (Baca juga: Setiap Delapan Jam, Satu Orang Petani Kapas Di India Bunuh Diri)

Berapa Banyak Lagi Petani Kapas Di India Yang Harus Bunuh Diri?

Ada sejumlah alasan untuk masalah yang berkepanjangan ini. Pada tahun 2014, panen kapas di seluruh dunia sangat berlimpah. Hal ini menyebabkan harga kapas turun, sementara biaya produksi dari tahun ke tahun terus meningkat. Ditambah lagi pada awal tahun 2015, curah hujan tinggi dan hujan es banyak menghancurkan tanaman kapas.

Murali Dhidkar, seorang petani kapas Vidarbha, mengatakan bahwa tahun 2014 harga kapas anjlok sebanyak 50 persen. Pada tahun 2013, Murali menjual kapas dengan harga $ 100 per kuintal, namun pada tahun 2014 hanya terjual dengan harga $ 50 per kuintal. Hal ini tentu saja mencekik perekonomian masyarakat yang sebagian besar bergantung pada pertanian kapas.

Berapa Banyak Lagi Petani Kapas Di India Yang Harus Bunuh Diri?

“Tanah kami hanya mendukung dua tanaman, kapas dan kedelai. Namun beberapa tahun terakhir, produksi kedelai menurun. Karena itu kami bergantung pada kapas” ucap Murali, seperti dilansir CNN, 20 April 2015.

Begitu banyak petani yang terlilih hutang hingga akhirnya menyerah pada nasib dan memilih bunuh diri. Namun Murali dan petani-petani kapas lainnya mengatakan bahwa masalah mereka tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah India, padahal seharusnya pemerintah mencari solusi untuk masalah seserius ini.

“Para pejabat pemerintah tidak pernah datang ke desa untuk mendengar penderitaan kami. Beberapa hari yang lalu, tetangga saya membakar dirinya hidup-hidup. Ini adalah epidemi. Berapa banyak lagi petani kapas yang harus melakukan bunuh diri, sebelum pemerintah bergerak dan mencari solusi untuk masalah ini?” lanjut Murali. (rsn-reinha)