Akibat Minuman Energi Wanita Ini Terancam Buta

Akibat Minuman Energi Wanita Ini Terancam Buta

REINHA.com – Minuman energi dan minuman bersoda sudah terbukti secara ilmiah sangat tidak baik bagi kesehatan dan tidak dianjurkan untuk dikonsumsi secara rutin. Namun Lena Lupari, 26 tahun, mampu menelan hingga 28 kaleng minuman berenergi setiap harinya. Dan kisahnya berakhir di rumah sakit dengan kemampuan melihatnya yang terus menurun.

Ibu dari tiga orang anak asal County Antrim, Irlandia Utara, kecanduan minuman soda berenergi dengan merek Red Bull. Tidak dijelaskan sejak kapan ia mulai meminum-minuman itu, namun ia mengaku mengkonsumsi minuman itu dan makan makanan yang tidak sehat karena ia tidak punya waktu untuk menyediakan makanan yang sehat.

“Saya meminum hingga 28 kaleng Red Bull dalam sehari dan saya makan hanya di malam hari, itupun makanan cepat saji seperti takeaway pizza atau pasta. Saya punya tiga anak-anak, satu dengan kebutuhan khusus, dan tidak punya waktu untuk membuat sesuatu untuk dimakan” ucap Lena, seperti dilansir Dailymail, 3 Agustus 2015.

Lena mengatakan bahwa ia sudah menderita migrain dan sakit kepala sejak lima tahun yang lalu, dan mungkin itu disebabkan oleh kecanduannya terhadap minuman berenergi tersebut. Namun ia mengabaikan rasa sakitnya dan mengatasinya dengan meminum obat penghilang rasa sakit.

Sampai akhirnya pada bulan Juni yang lalu ia mulai kehilangan penglihatannya, ia bahkan tidak dapat mengangkat kepalanya dari tempat tidur karena terlalu sakit. Ia akhirnya dilarikan ke rumah sakit dan harus menerima perawatan intensif selama enam hari.

Dokter menemukan bahwa Lena mengembangkan kondisi yang dikenal dengan hipertensi intrakranial idiopatik (Iih), pembengkakan otak yang merupakan hasil dari kelebihan berat badan yang disebabkan oleh zat atau obat tertentu. Gejala yang paling umum adalah sakit kepala berdenyut yang parah dan kehilangan penglihatan karena saraf optik bengkak.

Di dalam satu kaleng minuman berenergi (Red Bull 250ml) mengandung 80mg kafein yang dapat meningkatkan denyut jantung. Pasien dengan tekanan darah tinggi atau penyakit jantung koroner dan hipertensi disarankan untuk menghindarinya. Minuman ini juga mengandung taurin, sebuah building block protein yang biasanya ditemukan dalam daging dan produk susu, yang dianggap bermanfaat jika dikonsumsi dalam dosis kecil.

Austria Dieterich Mateschitz, 55, yang menemukan produk Red Bull terinspirasi pada tonik kesehatan di Bangkok dan meluncurkan versinya sendiri pada tahun 1987, dengan klaim bahwa itu revitalisasi otak dan tubuh, meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan reaksi dan konsentrasi, serta membantu menghilangkan racun dari tubuh. Namun zat kimia apapun yang dikonsumsi berlebihan, pastinya tidak akan berakibat baik bagi tubuh. (rsn-reinha)