Putin: Uni Eropa Memicu Bangkitnya Separatisme

Putin: Uni Eropa Memicu Bangkitnya Separatisme

REINHA.com – Negara-negara Uni Eropa mendukung sentimen separatis di Eropa ketika mereka tunduk pada tekanan Amerika Serikat. Mereka mendukung Kosovo melepaskan diri dari Serbia. Maka sekarang mereka menghadapi konsekuensi seperti krisis Catalan, kata Presiden Rusia Vladimir Putin.

“Mengenai situasi dengan Catalonia, kita telah melihat penghukuman dari para pendukung kemerdekaan Uni Eropa dan sejumlah negara lainnya,” kata Putin. “Sehubungan dengan itu, saya harus mengatakan, anda seharusnya sudah memikirkannya sebelumnya.”

“Apakah mereka tidak tahu tentang kontradiksi berabad-abad tentang kejadian di Eropa? Mereka tahu, bukan? Tapi pada saat itu mereka secara de facto menyambut disintegrasi sejumlah negara di Eropa, dengan kesenangan yang tak disentuh, “tambahnya.

“Dukungan bulat Uni Eropa atas pemisahan diri Kosovo” telah membuktikan titik balik, dan Eropa sekarang menghadapi dampak dari kebijakan tersebut dimana kebijakan tersebut ditujukan untuk “menyenangkan saudara laki-laki yang lebih besar di Washington,” kata Putin.

Putin mengatakan referendum Krimea 2014, menyebabkan pemisahan wilayah tersebut dari Ukraina dan pada akhirnya bersatu kembali dengan Rusia, sebagai sebuah perkembangan yang “tidak disukai oleh banyak orang.”

“Dan sekarang, begitulah Catalonia, Kurdistan di wilayah lain, dan daftarnya mungkin tidak lengkap,” tambahnya.

Putin juga mengatakan bahwa hal ini membuat munculnya pejuang kemerdekaan yang kemudian menjadi separatis.

“Ternyata di mata beberapa rekan kami, ada pejuang kemerdekaan dan kebebasan yang sah, dan kemudian ada separatis…”

“Mereka seperti kita mengatakan sepanjang waktu tentang standar ganda tersebut dan ini adalah contoh mencolok dari standar ganda yang merupakan ancaman serius bagi perkembangan stabilitas Eropa dan benua lainnya, hingga berdampak pada pelaksanaan proses integrasi di seluruh dunia, “kata Putin.

Masalah di Catalonia muncul ketika pemerintah setempat mendorong referendum pada 1 Oktober, dalam ‘gigitan’ keberatan dari Madrid, yang menganggap itu ilegal.

Pemungutan suara berlangsung, meski ada tindakan keras polisi terhadap separatis, dan menyebabkan perselisihan antara Barcelona dan Madrid.

Pemerintah Catalan setempat menyatakan “menangguhkan kemerdekaan” dan meminta dialog, sementara pihak berwenang yaitu federal Spanyol mendesak wilayah tersebut untuk mengklarifikasi statusnya.

Dalam perkembangan terakhir, Madrid mengancam Barcelona dengan mencabut otonominya melalui Pasal 155 undang-undang dasar. Pemerintah Catalan pada gilirannya berjanji pada hari Kamis untuk menyatakan kemerdekaan yang benar dan tidak ditangguhkan jika tindakan bermusuhan semacam itu terjadi.(rt/jmw-reinha)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.