Berpuasa Untuk Penderita Diabetes Melitus, Amankah?

Berpuasa Untuk Penderita Diabetes Melitus, Amankah?
@u-report

REINHA.com – Bagi individu atau orang sehat ataupun yang hanya menderita sakit ringan, mungkin tidak akan mengalami kendala yang berarti saat menjalankan ibadah puasa. Namun berbeda halnya dengan orang yang sedang mengalami sakit berat seperti penderita Diabetes Melitus, pasti akan mengalami kesulitan saat berpuasa. Data internasional Diabetes Federation tahun 2015 menyatakan jumlah estimasi penyandang Diabetes di Indonesia diperkirakan sebesar 10 juta.

Merujuk pada data dari The Epidemiology of Diabetes and Ramadan (EPIDIAR) pada tahun 2001, sebanyak 42,8% dan 78,7% pasien dengan tipe 1 atau tipe 2 Diabetes Melitus berpuasa paling kurang 15 hari selama Ramadan. Dan yang paling terbaru dari CREED melaporkan bahwa sebanyak 94,2% pasien dengan Diabetes Melitus tipe 2 berpuasa sekurang-kurangnya 15 hari dan 63,6% berpuasa setiap hari.

(Baca juga: Tips Agar Tetap Sehat Selama Menjalankan Ibadah Puasa)

Penderita diabetes yang berpuasa sesungguhnya akan mendapati berbagai resiko seperti dehidrasi, hipoglikemia, dan hiperglikemia, baik itu dengan resiko terkena ketoasidosis atapun tidak. Bagi penderita Diabetes Melitus tipe 2 dengan kadar gula yang terkendali, cukup dengan mengatur pola makan, maka resiko terjadinya gangguan kesehatan tertentu saat berpuasa cukup rendah. Membagi porsi makan menjadi 2-3 kali setiap harinya saat berbuka dapat membantu mencegah terjadinya hiperglikemia. Berbeda halnya dengan yang memiliki kadar gula yang tidak terkendali, resiko terjadinya gangguan kesehatan berupa hipoglikemia lebih besar saat si penderita berpuasa.

Adapun makanan dan minuman yang baik dikonsumsi penderita Diabetes Melitus berupa air putih, sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung serat dan air, hindari juga makanan yang banyak mengandung gula, kafein, santan, dan yang mengandung minyak berlebih.

Perlu diingat bahwa bagi penderita Diabetes Melitus tipe 2 yang mengkonsumsi obat oral ataupun insulin, sangat diharapkan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter tentang perubahan tata cara pemberian obat oral ataupun insulin. Selalu memperhatikan datangnya tanda bahaya dari tubuh seperti penurunan kadar gula darah (hipoglikemia), peningkatan kadar gula darah (hiperglikemia), dan kondisi dimana tubuh sudah tidak dapat mengolah lagi insulin dalam tubuh (ketoasidosis diabetik).

# Berpuasa Untuk Penderita Diabetes Melitus, Amankah?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.