Penjelasan Singkat Tentang “Semana Santa” Hari Bae Di Nagi (Larantuka)

Penjelasan Singkat Tentang "Semana Santa" Hari Bae Di Nagi (Larantuka)
Patung Bunda Maria (Tuan Ma) yang diarak di Prosesi Jumat Agung – Semana Santa @reinha.com

REINHA.com – Perayaan Semana Santa (Pekan Suci) atau lebih dikenal dengan “Hari Bae” di kota Reinha Larantuka adalah ritual keagamaan yang dirayakan umat Katolik sebagai bentuk permenungan untuk memperingati prosesi Jalan Salib Yesus Kristus hingga wafat di Kayu Salib.

Ritual keagamaan tersebut merupakan suatu aksi yang menarik perhatian masyarakat dunia dan bukan saja umat Katolik tetapi juga umat beragama lain yang datang sekedar menyaksikan hikmahnya perayaan tersebut.

(Baca juga: Prosesi Jumat Agung Semana Santa, Ribuan Lilin Terangi Kota Larantuka)

Orang Larantuka yang sering dikenal dengan nama Orang Nagi menyebut pecan suci Semana Santa dengan nama “Hari Bae” hari baik bagi Orang Nagi memiliki makna yang sangat mendalam karena hari tersebut dihayati Orang Nagi sejak jaman leluhur mereka sebagai hari rahmat berlimpah dari surga.

Tradisi Devosi yang berusia mencapai ratusan tahun ini memiliki tiga makna dimensi yaitu: Dimensi Liturgis, Dimensi Paraliturgis dan Dimensi Sosial. Ketiga dimensi tersebut saling melengkapi dan berpusat pada upacara liturgi.

Perayaan Jumad Agung, Yesus Kristus menjadi pusat pelayanan liturgi dan tradisi Devosi Bunda Maria adalah tokoh di Jalan Salib Yesus, karena itu umat Katolik berjalan bersama Maria Mater Dolorasa menuju kepada Yesus Kristus. Sedangkan perayaan Minggu Paskah adalah perayaan hari kebangkitan Tuhan Yesus dimana Maria adalah Tokoh yang bersukacita atas kebangkitan Kristus karena itu umat Katolik mengambil bagian dalam suka cita Paskah tersebut.

Perayaan Devosi Semana Santa yang dirayakan umat Katolik di Larantuka setiap tahun merupakan suatu tradisi iman Katolik. Ritual keagamaan ini sudah dikenal masyarakat dunia sehingga tidak jarang kegiatan setiap tahun di Kota Larantuka ini dikunjungi banyak tamu pesiarah, baik yang datang dari luar negeri juga tamu di dalam negeri.

Kegiatan Devosi Semana Santa, umat Katolik di kota Larantuka biasanya sudah mempersiapkan diri selama masa puasa, sejak hari hari Rabu Abu. Pada masa persiapan ini umat Katolik di Larantuka mengungkapkan rasa penuh syukur sambil membersihkan diri dari dosa dan bertobat dimana puncak perayaan pekan Semana Santa terjadi pada perayaan kebangkitan Kristus pada hari Minggu Paskah.

(Baca juga: Indahnya Pemandangan Dari Pelataran Eputobi Dengan Latar Belakang Pulau Konga)

Pada masa puasa ini juga umat Katolik di kota Larantuka selain mempersiapkan diri secara pribadi mereka juga mempersiapkan diri dalam keluarga, dalam satu kesatuan suku untuk menyongsong perayaan pekan suci. Pada masa puasa ini, secara bergilir suku-suku mengaji Semana berdoa di Kapela Tuan Ma (Kapela Maria) bersama memuji dibawah keordinasi Raya Ama Koten (DVG) sebagai kepala atau ketua suku-suku Semana dan Conferia Reinha Rosari Larantuka.

Bersama Mater Dolorosa Orang Nagi berjalan di Jalan Salib Yesus. Dan bersama Maria Alleluia Orang Nagi bersukacita akan kebangkitan Kristus. Maka tidaklah heran Orang Nagi begitu setia kepada Allah dalam diri Yesus Kristus.

Dalam pertumbuhan dan perkembangan, tradisi warisan leluhur ini sudah semakin mengumat menjadi milik umat paroki Katedral Reinha Rosari Larantuka dan bahkan menjadi milik umat keuskupan Larantuka.

Devosi Prosesi Jumat Agung

Minggu Palma adalah suatu refleksi, seluruh umat Kristen beramai-ramai bersama penduduk kota Sion bersorak girang HOSANA, mengeluk-eluk dan menyambut Putra Daud, Mesias yang dijanjikan, Raja yang membebaskan bangsa Israel dari perbudakan dan belenggu, Raja Dunia yang didambakan umat terjajah.

Pesta Ekaristi Pertama, Pesta Pentabisan

Imam-imam sulung langsung dari tangan imam Agung, Pesta Teladan Pelayanan Kristiani yang sekligus merupakan perintah baru.

Hendaklah kamu saling mencintai, seperti yang Ku lakukan. Barang Siapa Ingin menjadi terkemuka diantara sesamanya, hendaklah ia menjadi hamba (Mat.20:27)

Kita mengenangkan Raja yang dielu-elukan, Tuhan dan Imam Agung, Guru dan Teladan Cinta Kasih Murni itu, digiring dari kantor, didera dan diseret keluar pintu Gerbang Kota Suci sebagai seorang pendosa. Dia adalah pengacau ulung yang membuat huru-hara dari Galilea, dialah Penjahat paling kejam dan hina pada jalamnya. Dia diseret ketempat yang hina di Bukit Golgota, karena tidka pantas berada atau mati didalam kota Suci Sion, ditonton, dicemooh, diludah dan digantung antara langit dan bumi (bdk.Mat.21:39)

Mati di Kayu Salib, suatu jenis hukuman yang paling hina dan kejam, yang hanya dikenakan pada rakyat jajahan kekuasaan Roma.

Umat Katolik Larantuka besama para pengunjung dan peziarah, malam itu mengadakan Prosesi Jumat Agung, prosesi ini merupakan Devosi tradisional sejak berabad-abad dengan pengaruh Portugis zaman pertengahan. Bagi kita yang hidup di zaman perubahan dan pergeseran nilai-nilai ini, prosesi Jumat Agung dapat disalah tafsirkan, yang jika dibiarkan berlarut tanpa penjernihan, mungkin akan berakibat mempengaruhi pengembangan hidup iman, sehingga tradisi warisan leluhur yang telah hidup dan membudaya harus dipertahankan tanpa perdebatan, tanpa keberatan. Dengan demikian prosesi Jumat Agung hanya cepat dimengerti, dipahami dan dihayati arti dan makna serta hakekatnya dalam kaca mata imam.

Prosesi jumat Agung memang tidak termasuk Liturgi Ekaristi, hanya merupakan Devosi Para Liturgis. Sebagai Devosi Para Liturgis, prosesi merupakan jembatan menghantar dan membawa kepada Inti Liturgi Iman atau Kurban Ekaristi, yang setiap hari dirayakan dan pada Kamis Putih malam kita rayakan secara khusus dan penuh kemeriahan.

Prosesi Jumat Agung sebenarnya adalah suatu Prosesi Salib. Suatu perwujudan refleksi perjalanan hidup Kristus, perjalanan menuju bugit Golgota. Kita memang mengarak jenazah Kristus bersama Bunda Dukacita, akan tetapi pantulan pandangan umat kristiani kita, terlempar jauh kemasa Pontius Pilatus, dan tertumpah pada PA Dolorosa, bersama Bunda, merasahkan derita Kristus, dengan simbol dan lambing-lambang Omamento atau alat sengsara.

Dengan demikian, maka akan sangat bijaksana apa bilah Devonis Prosesi Jumat AGung diikuti sunggu-sunggu dengan sepenuh hati. Dalam Devosi ini kita diajak untuk merenungkan dan menyesali segala dosa karena dengan dosa tersebut Yesus menjadi menderita samapai wafat di kayu salib. Renungan Prosesi Jumat Agung adalah renungan yang mempunyai tekad dan penuh syukur untuk bangkit kembali dari kejatuhan serta merubah pola pikir dan tinggkah laku. Dan kita bangkit menjadi manusia baru.

Mardona

Berasal dari kata Mayor Domus yang berarti rumah besar. Hal ini sesuai dengan budaya Lamaholot dimana setiap anggota sudah mempunya peran tertentu, harmoni kolektif dari pada hak pribadi, sehingga masyarakat Lamaholot tersediri dari kelompok-kelompok Genealogis kecil yang disebut suku. Tiap suku mempunyai seorang pemimpin yang disebut Kaka Bapa (Ketua suku atau kepala suku) yang dilambangkan dengan adanya Lango Belen atau Rumah Besar.

Sudah lebih dari 500 tahun, hari bae di nagi berada dalam tanggung jawab suku-suku Semana yang dikoordinir oleh Raja dan Conferia dimana tugas Rumah Besar khususnya dalam pengatura Hari Bae menjadi tanggung jawab penuh Rumah Besar.

Dalam perkembangannya, tugas Rumah Besar diberikan kepada pribadi-pribadi anggota suku yang dengan sukarela mau mewakili Rumah Besar atau Desa dalam wujud yang disebut “Tuan Mardomu” ialah mereka yang sukarela terlibat langsung yang biasa disebut “Angka Pemesa di Tori atau Armida”.

Rabu Trewa

Pada hari ini kedua kepala (Tuan Ma dan Tuan Ana) dilakukan kegiatan mengaji Semana terakhir kemudian persiapan segalah sesuatu yang diperlukan di Prosesi. Sementara itu dijalan-jalan rute prosesi, umat sudah mulai mempersiapkan bahan untuk Tuan dan Armida. Sedangkan di Gereja Kateral Reinha Rosari Larantuka, pada petang hari pukul. 18.00 ada ibadah Lamentasi atau renungan.

Kamis Putih

  • Dijalan-jalan rute prosesi, umat sibuk membangun Armida dan Turo (tempat memasang lilin)
  • Di Kapela Tua Ma, pada pagi hari sekitar jam 9.00 dilakukan upacara Muda Tuan yaitu “memudakan kembali patung Mater Dolorosa” oleh bapak-bapak conferia (Imao atau Pesadu yang telah disumpah). Setelah selesai upacara Muda Tuan pintu-pintu Kapela terbuka untuk semua umat, untuk dapat mengunjungi dan tatap muka dengan Mater Dolorosa selama setahun tidak menampakan diri. Kunjungan Devosional penuh tobat, syukur dan harapan tersebut dilakukan secara bergilir penuh kesadaran menunggu dan diakhir dengan kecupan yang oleh orang Larantuka disebut “CIum Tuan”. Sebelum umat melakukan Cium Tuan Ma terlebih dahulu oleh Presidenti atau Procurador Conferia, Raja Ama Koten dan keluarga, Tuan Mardomu pintu Tuan Ma, para tetua suku-suku Semana dan perangkat Kapela.

Terang Pintu Tuan Ma

Yang dimaksud dengan Terang Pintu Tuan Ma adalah tugas dan tanggung jawab Devosi atau selama pintu Tuan Ma dibuka untuk umum yang dalam Semana Santa harus diterangi dengan lilin dan alat penerangan lainnya di halaman Kapela,

Pejabat-pejaba Kapela Maria dan Tugasnya

Semua pejabat dan petugas Kapela Maria pada umumnya adalah conferia yang sudah harus menjalankan tugasnya pada saat pintu Tuan Ma dibuka. Selain pejabat-pejabat conferia yang bertugas, masih terdapat pula petugas lain yaitu seorang Lajanti dan sejumlah Denga Deo. Lajanti (Lektor) dan Denga Deo (Hamba Allah atau Cum Deo), sebenarnya adalah peserta promesia. Selain itu ada pula petugas yang bertugas mengatur dan membakar lilin-lilin didalam Kapela yang disebut “Ana dalam kota”.

Di Kapela Tuan Ana (Lohayong atau lemonama), dilakukan upacara Muda Tuan. Setelah selesai upacara Muda Tuan dilanjutkan dengan buka pintu Tuan Ana serta pejabat conferia menyiapkan peti jenazah untuk dibawa keruang Kapela Tuan Ana.

Buka Pintu Tuan Ana

Yang dimaksut dengan Buka Pintu Tuan Ana adalah tugas dan tanggung jawab Devosi dimana selama pintu Tuan Ana dibuka untuk umum yang dalam Semana Santa harus diterang dengan lilin dana alat penerangan lainnya dihalaman Kapela. Tugas ini pada mulanya menjadi tanggung jawab conferia, namun pada akhir-akhir ini dipercayakan pada umat yang secara sukarela mau menjalankan Nazar, Ujud atau promesa. Sejak saat itu sampai peti jenazah disempan kembali pada hari Sabtu Santo umat diberi kesempatan berkunjung (Cium Tuan) dengan cara yang sama seperti di Kapela Tuan Ma.

Sebelum umat melakukan cium Tuan Ana didahului oleh Pepetu, Raja Ama Kelen dan keluarganya Tuan Mardomu Pintu Tuan Ana dan perangkat Kapela Tuan Ana.

Pejabat-pejabat Kapela Tuan Ana dan Tugasnya

Sama seperti dengan Kapela Tuan Ma. Pada umumnya pejabat-pejabat dan petugas Kapela Tuan Ana adalah conferia disamping petugas lain yaitu seorang Lajanti dan beberapa Denga Deo. Sejak hari ini harus dipersiapakan 4 (empat) orang secara sukarela menjalankan promesa Lakademu. Tugas Lakademu (Nikodemus yang mengusung jenasah Kristus), dahulu sebenarnya tugas conferia yang diserahkan kepada umat yang mau berpromesa, bernazar. Lakademu menjalankan tugasnya hanya dari gereja sampai kembali ke gereja selama prosesi. Ketika digereja sedang ada lamentasi, para Lakademu melaksanakan Jalan Kure yaitu jalan bergandengan tangan sepenjang rute prosesi nanti dan berhenti disetiap Amadi, maksudnya untuk meneliti keamanan jalan dan keadaan disekitar Armida (Kure – IL’CURER=Mengamankan).

Dikedua Kapela sepanjang malam Kamis Putih ada kesempatan kunjungan Devosi pribadi sampai pagi hari Jumat Agung.

Di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka. Pada pagi hari pukul 6.30 Liturgi Ekaristi Kudus, misa para imam dengan pemberkatan minyak-minyak suci, pukul 8.00 misa Perjamuan Tuhan diakhiri Berkat Sakramen. Setelah itu dilanjutkan dengan kunjungan adorasi seluruh umat secara bergilir hingga pagi hari.

Pelaksanaan Prosesi Jumat Agung

  • Di jalan-jalan rute prosesi, penyelesaian terakhir Armida dan Turo.
    Pada siang hari hanya ada penjaga Armida dan Turo, sedangkan umat lainya telah membanjiri kedua Kapela untuk menanti menghantar Tuan Ma dan Tuan Ana ke Gereja.
  • Di kedua Kapela Tuan Ma dan Tuan Ana. Kunjungan Devosi masih terus berlangsung sampai siang hari.
  • Pukul 14.00 conferia bersama umat mengarak Tuan Ma dari Kapela Tuan Ma pantai Kebis ke Gereja Katedral.
  • Pukul 14.21 patung Tuan Ma singgah di Kapela Tuan Ana Lohayong dan menjemput Tuan Ana ke Gereja Katedral.

Urutan prosesi sebagai berikut:

Genda Do (Genderang perkabungan) yang sejak saat ini secara terus menerus ditabuh sampai selesai prosesi pada malam hari nanti. Serdati (panji conferia berwarna hitam). Salib dan Serai (dua lilin besar mengapiti Salib).

Prosesi Kecil (barisan alat sengsara Kristus) berupa:

  • Gian De Morti, Lukisan Rangka Manusia, Lambang Kematian Jiwa, Pengeruh Setan Raja Maut.
  • Tangan Dayabu, Tangan Setan (lambing godaan setan sepanjang sejarah manusia) Kristus tiga kali dicobai.
  • Lampion, alat penerangan atau obor, lambang terang duniawi.
    Krenti dan Krona Spina, rantai dan mahkota duri lambing belenggu setan dan keangkuhan manusia.
  • Paku dan pemukul, alat penusuk dan pemukul lambang kekerasan hati manusia.
  • Pundi-pundi, berisi 30 keping perak nilai jual Kristus, lamabang keserakahan hati manusia. Hanya untuk kepentingan napsu daging, apa saja bisa dikorbankan, termasuk pengorbanan jiwa orang lain dan kepentingan yang tinggi (jiwa).
  • Tongkat dan bunga karang, alat mencelup ke cuka untuk diminumkan kepada Kristus. Lambang kecerobohan manusiawi untuk membuka segala kepribadiannya dalam keadaan tak sadar (cuka, alcohol, candu).
  • Lembing atau tombak. Alat yang melukai lambung Kristus, sumber kemurahan. Lambang kedengkian manusia yang menembusi bejana cinta Allah, tetapi tidak mau menghirup isi bejana cinta kasih.
  • Dadu dalam piring, untuk mengundi juba Kristus lambang ketidakpastian nasib manusia yang saling merebut atau memeras (homo hominilupus).
  • Buah-buahan hasil taman Firdaus, taman Getsemani, taman kehidupan insan. Lambang kejatuhan umat manusia akibat makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat. Akan tetapi lambang kebangkitan manusia bila makan buah pohon kehidupan yang berupa buah gandum dan buah anggur yang menyelubung Kristus secara iman (roti kehidupan) yang menghidupkan.
  • Tempayan, berisi cuka dan empedu, lambang sikap berpura-pura pada manusia berisi air pencuci tangan Pilatus, lambang sikap mengelakan tanggungjawab dengan mengkambinghitamkan orang lain, berisi dosa umat manusia lambang derita Kristus dalam karya penyelamatan.
  • Ayam jantan, lambang penyangkalan umat manusia terhadap imannya sendiri hanya untuk meluputkan diri, juga lambang sikap “memojok kawan seiring”.
  • Tangga untuk menurunkan jenazah Kristus, lambang kebebasan manusia untuk menggunakan tangga (alat penghubung surga dan bumi = tangga Yakob)
  • Salib, tempat Kristus digantung dan akhirnya wafat, lambang pertentangan dalam pilihan antara baik dan jahat. Lambang iman akan kematian harapan akan kebangkitan akhir jaman didalam cinta kasih yang terpencar dari Salib Kristus.
  • Setelah urutan prosesi kecil menyusul Tumba Tuan Ana diikuti Perpetu dan Raja Ama Kelen, Tuan Mardomu serta umat yang promesa. Para Pesadu dan Imao Conferia.
  • Ana Muji Conferia.
  • Presidenti atau Procurador Conferia bersama Raja Ama Koten.
  • Umat yang promesa Tuan Ma
  • Di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka. Pukul 15.00, arakan Tuan Ana dan Tuan Ma masuk gereja dan diletakan ditempat masing-masing, upacara wafat Kristus dengan Pasio dilagukan, dilanjutkan dengan acara kecup Salib Kristus.
  • Pukul 17.00 kunjunganpemasangan lilin dipekuburan lambang pemberian terang kepada jiwa-jiwa untuk mengikuti Jalan Salib Tuhan untuk menanti jiwa-jiwa untuk mengikuti bersama Kristus yang mengalahkan maut kematian.
  • Pukul 18.00 lamentasi sebagai awal prosesi.
    POSSUERUNT OBSTUPESITE QUIDEM
    Ketikan lagu Quidem masuk solo yang kedua para Lakademu dengan pakaian putih gaya abad pertengahan Portugis dengan topi berbentuk kerucut berwarna merah, mulai memasuki gereja. Secara tradisional, setelah “Jalan Kure” mereka kembali ke gereja dan ketika memasuki gereja didepan pintu gerbang mereka memberi hormat dan selanjutnya mengambil tempat di kiri-kanan tumba Tuan Ana.
  • Pukul 19.00 Lakademu seudah ada ditempat bertugas dan setelah lagu Quidem Capite Meus selesai, puteri-puter Yerusalem mulai menyanyikan ratapan manusia: Ejus, Ejus Domine, Ejus Salvator Noster. Ratapan manusia (Ejus) langsung disahut, keluhan putera manusia: Ovos Omnes. Keluhan kekecewaan dan hamper putus asa tentang penderitaan yang tiada tara sambil memperhatikan secara bertahap lukisan wajah penuh derita. Lukisan yang pernah dihadiakan kepada wanita pemberani Veronika. Setelah lagu keluhan Kristus: Oves Omnes, prosesi kecil mulai bergerak dan mulailah prosesi bergerak keliling kota Larantuka. (Video: OVOS Armida (Perhentian) Ke-8 Semana Santa 2019)

Persisan (Perarakan Jumat Agung)

Perarakan Jumat Agung secara tradisional menggambarkan karya penyelamatan Allah. Seluruh umat berjalan dibelakang Bunda Mater Dolorosa dan bersama Bunda Mater Dolorosa mengikuti Jalan Salib Kristus. Perarakan Jumat Agung mulai dari Gereja Katedral mengelilingi kota Larantuka dan kembali ke Gerja Katedral dengan menyinggahi DELAPAN tempat persinggahan yang disebut Armida.

Perhentian Pertama: Armida Amu Tuhan Misericordiae (Maha Rahim)

Pada Armida ini dilukiskan “kerinduan umat manusia menantikan janji penyelamatan Allah dalam diri puteranya Yesus Kristus”. Penanggung jawab umat pante bersar dengan keordinasi suku Mulowato dari Lewerang (Pantai Besar).

Perhentian Kedua: Armida Amu Tuhan Maninu (Tuan Bayi Anak)

Pada Armida ini dilukiskan “Allah memenuhi janjiNya kepada umat manusia”. Penanggung jawab umat sarotari (Paroki Sanjuan).

Perhentian Ketiga: Armida Amu Tuhan Mesias Anak Allah – Balela

Pada armida ini dilukiskan “Hidup dan karya Yesus”. Penangung jawab umat lingkungan Santu Philipus – Balela dibawah koordinasi suku Ama Kelen dan Ama Hurit Lamuri.

Perhentian Keempat: Armida Amu Tuhan Trewa – Larantuka (Tuan Terbelenggu)

Melukiskan tentang “Penderitaan Kristus. Demi keselamatan kita, Yesus menderita dan sensara”. Penanggung jawab, umat larantuka dibawah koordinasi suku Kapitan Jentera dan Lewai.

Perhentian Kelima: Armida Amu Tuan Yesus Yang Tersalib – Pante Kebis

Pada armida ini “Bersatu dalam penderitaan Yesus. Penanggung jawab umat Pante Kebis dan Batu Mea dibawah koordinasi suku riberu – Da Gomes.

Perhentian keenam: Armida Pohon Sirih berpelindung St. Antonius dari Padua.

Pada armida ini kita merenungkan “Yesus dijatuhi hukaman mati tanpa bersalah. Keadilan yang yang diadili”. Penanggung jawab umat lingkungan Benteng Daud – Pohon Sirih dibawah koordinasi suku Sau- Diaz Pohon Asam.

Perhentian ketujuh: Armida Kuce

Melukiskan “Yesus wafat di salib untuk menebus dosa manusia”. Penanggung jawab dan koordinasi Raja Ama Koten dan keluarga (Diaz Viera de Godinho).

Perhentian kedelapan: Armida Tuan Ana – Lohayong

Melukiskan “Yesus diturunkan dari salib dan dimakamkan”. Penanggung jawab umat Lohayong dan Lokea, dibawah koordinasi suku Ama Kelen (Raja II).

Dari Armida Tuan Ana, perarakan bergerak kembali menuju Gereja Katedral, akhir dan pusat seluruh prosesi Jumat Agung. Dari sinilah kita semua diajak untuk menghayati ziarah iman kita bersama Bunda Maria Mater Dolorosa untuk menyongsong kebangkitan Tuan Kita Yesus Kristus yang telah bangkit dengan jaya yang adalah sentral iman kita.

Sumber: warta flotim edisi II – 2008

# Penjelasan Singkat Tentang “Semana Santa” Hari Bae Di Nagi (Larantuka)

  • 44
    Shares

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.