Membanggakan, Ini Kisah Sukses Kemitraan Masyarakat Dalam Pengendalian Pencemaran Dan Kerusakan Lingkungan

Membanggakan, Ini Kisah Sukses Kemitraan Masyarakat Dalam Pengendalian Pencemaran Dan Kerusakan Lingkungan
@Menteri LHK

REINHA.com – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, membagikan kisah sukses kemitraan masyarakat dalam Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL).

Kisah tersebut dibagikan Siti Nurbaya di akun media sosial miliknya Senin 9 Maret 2020. Berikut, kisah tiga aktivis lingkungan yang sukses dalam kegiataannya.

Kisah pertama, datang dari Sadikin, Ketua Masyarakat Peduli Api (MPA) Kelurahan Sungai Pakning, Bengkalis, Riau.

(Baca juga: Para Menteri Pimpin Aksi 10 Ribu Orang Bersihkan Pantai Labuan Bajo)

Sadikin, saat Karhutla 2015 sampai kehilangan putri tercintanya karena terkena ISPA. Ia bangkit bersama warga lainnya dan membentuk komunitas Masyarakat Peduli Api (MPA). Dengan binaan PT Pertamina (Persero) Refinery Unit (RU) II Sei Pakning, Pak Sadikin dkk kemudian menanam nanas di atas lahan gambut.

Selain menghasilkan secara ekonomi, sekat nanas dapat menghalangi gambut terbakar. Dari hasil panen kebun nanas, warga kemudian berkumpul dalam wadah Koperasi Tunas Makmur.

Mereka kemudian membuat Arboretum gambut pertama di Sumatera yang juga bisa menjadi sarana edukasi warga. Kata Pak Sadikin, setelah kebakaran 2015 sampai sekarang, di tempat mereka zero hotspot atau tidak ada lagi karhutla.

Kisah kedua dari Ketua BUMDes Njulung Agro Edu Tourism Malang, Dian. Komunitas masyarakat ini berhasil mengubah kawasan hutan yang tadinya rusak menjadi lokasi ekowisata yang mendatangkan pemasukan dan meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.

Ketiga adalah kisah Mas Hidayat, Pendiri Yayasan Sahabat Ciliwung. Mantan karyawan swasta ini mendapat dukungan dari Pemda dan KLHK, hingga terbentuk 9 komunitas di masing-masing wilayah per kelurahan di Depok. Kegiatan yang mereka lakukan tidak hanya berdampak pada lingkungan, tapi juga bisa memberikan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar, karena menggabungkan konsep konservasi, edukasi, dan wisata alam sungai.

Mereka juga membentuk patroli sungai. Kata Mas Hidayat, sekarang semakin banyak yang terlibat membersihkan Ciliwung, sehingga mulai dapat dinikmati lagi ikan-ikan endemik Ciliwung.

Selain tiga kisah diatas, ada juga Wilda Yanti dari Waste Management Sosial Enterprise berbasis Bank Sampah yang saat ini menjabat Sekretaris Jendral Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI) dan Mas Ananto Isworo, Founder Gerakan Shadaqoh Sampah.

Keduanya hadir pada Global Forum on Environment-Mainstreaming Gender and Empowering Women For Environmental Sustainability. Forum ini diselenggarakan OECD (Organisation For Economic Cooperation and Development) di Paris, 5-6 Maret 2020 lalu.

Wilda menyampaikan tentang Bank Sampah dan Peran Bank Sampah membangun Sistem Pengelolaan Sampah di Indonesia. Saat ini telah berkembang lebih 8.036 Bank Sampah di Seluruh Indonesia yang 80 persen diantaranya digerakan oleh perempuan.

Di Forum ini, Wilda juga mendesak agar dunia international mencabut claim bahwa Indonesia penyumbang sampah ke laut nomor 2 terbesar di dunia, dengan menyampaikan fakta-fakta bahwa Indonesia terus berbenah untuk penanganan sampah menuju solusi masif.

Sedangkan Ananto Isworo, Founder Gerakan Shadaqah Sampah (GSS) Kampung Brajan Tamantirto, Bantul, juga berbagi tentang kegiatan Shadaqoh sampah dan gerakan Eco Masjid. Bagaimana sampah bisa digunakan untuk santunan pendidikan, santunan sembako dan santunan kesehatan bagi masyarakat miskin dan anak-anak yatim piatu.

Inilah contoh-contoh aksi koreksi yang terbangun dari kesadaran kolektif. Kebijakan pemerintah dan partisipasi publik, adalah dua aspek utama yang berperan penting untuk menangani masalah lingkungan di Indonesia, kata Siti Nurbaya Bakar.

Inilah contoh sukses kolaborasi antara kelompok masyarakat, NGO, Pemda, Swasta bersama dengan Pemerintah, yang terbukti membawa perubahan yang ditandai dengan pulihnya kualitas lingkungan hidup, lanjut Siti.

Ini sekaligus jawaban dan bukti bahwa ruang bagi gerakan masyarakat sipil (civil society) semakin terbuka luas dan menguat. Masyarakat di tingkat tapak semakin kreatif didukung kebijakan publik (public policy) yang baik dari pemerintah.

# Membanggakan, Ini Kisah Sukses Kemitraan Masyarakat Dalam Pengendalian Pencemaran Dan Kerusakan Lingkungan

  • 9
    Shares

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.