Kepala-Kepala di Bawah Kelapa

Ilustrasi @reinha.com

Kepala-Kepala di Bawah Kelapa
Cerpen by Berrye Tukan

Malam itu, Inna Buran tersentak dari tidurnya. Mimpi yang sama di jam yang sama. Matanya menatap tajam pada kayu-kayu kelapa pada kuda-kuda rumahnya yang menghitam akibat asap dari dapur rumahnya. Nafasnya terengah-engah, sedikit takut. Keringatnya mengalir di keningnya. Dia beralih memandang Ama Miten yang terlelap di sampingnya. Mengorok kecil. Hendak dibangunkannya sang suami, namun dia takut sang suami menghardiknya lagi. Diputuskan untuk menunggu hingga pagi tiba.

“Ama, saya mimpi lagi. Ini yang kedua kalinya,” ujarnya sembari menyedok nasi ke piring sang suami.
“Mimpi yang sama?”
“Hmmm, iya. Tapi kali ini wajahnya pun belum terlihat jelas. Samar-samar saja. Saya takut Ama.”
“Ah, itu cuman mimpi saja, Inna. Kau terlalu serius bermimpi,”
“Tidak Ama. Kali ini saya yakin sekali. Mimpi itu bisa jadi pertanda yang kurang baik. Sebaiknya Ama mengurungkan niat untuk mencabut pohon kelapa yang ditanam mereka di tanah sengketa itu,”
“Itu namanya pengecut, Inna. Kau tahu harga diri kita? Ini tanah leluhur kita, tanah nenek moyang kita. Tak mungkin diserahkan begitu saja pada mereka!”
“Tapi, apakah tanah lebih penting nilainya dari nyawa dan manusia itu sendiri Ama?”

Sebelum menjawab pertanyaan sang istri, Ama Miten keburu dikejutkan dengan kehadiran seorang lelaki kurus di depan pintu rumah mereka. Ama Miten dan Inna Buran segera menatap sosok lelaki itu. Napasnya terengal-engal, dan pesan-pesan penting nampak penuh di mulutnya, menunggu waktu untuk dikeluarkan, saat napasnya sudah bisa diatur lagi.

“Masuklah Ama Nuren, duduklah. Apa yang terjadi?” tanya Ama Miten.
“Mereka, mereka, mereka sudah berani menanam pohon kelapa yang lebih banyak lagi. Sekarang sudah hampir masuk ke tapal akhir,” cerita Ama Nuren terengah-engah.

Ama Miten sekejap berdiri tegap. Piring nasinya digeser. Tangan kirinya dikepa keras dan disandarkan pada meja makan.

“Dasar tidak tahu adat! Dasar pendatang! Tahukah mereka kalau leluhur mereka hanyalah para pendatang yang terapung-apung nyaris mati di tengah laut sebelum leluhur kita menyelamatkan mereka?” marah Ama Miten. Suaranya keras menggelegar. Biasanya seperti ini, Inna Buran sudah mulai cemas dan khawatir. Dia mengenal betul watak sang suami. Keras, dan siap bertindak apa saja.

“Mereka sangat banyak, Ama Miten. Mungkin setengah kampung,” ujar Ama Nuren.
“Sudahlah Ama Nuren. Kau pulanglah ke rumahmu. Beritahu kepada Bapa Desa saja,” pesan Inna Buran pada Ama Nuren agar Ama Nuren tak lagi memancing emosi sang suami.

Ama Nuren mengangguk dan hendak meninggalkan rumah itu melalui pintu rumah, namun Ama Miten menghentikannya.

“Berhenti Ama Nuren. Kepala desa tidak bisa bikin apa-apa. Kau panggil mereka yang lain. Tua-tua suku yang ada di kampung. Kita perang hari ini!” tegas Ama Miten sembari masuk ke dalam kamarnya. Ama Nuren menatap sejenak pada Inna Buran yang terlihat sangat cemas.
“Ama Nuren, kau tahu sendiri akibatnya kalau sudah begini. Saya sudah cemas sekali. Apa yang harus saya lakukan Ama?” suara Inna Buran melemah, setengah menangis.

Ama Nuren tak berujar lagi. Dia segera keluar dari pintu dan menghilang di antara jalan setapak itu, hendak menjalankan tugas dari Ama Miten.

Ama Miten keluar dari kamar dengan sebilah parang panjang di tangan kanannya. Kepalanya diikat dengan selendang kecil berwarna coklat pudar. Tubuh kekarnya hanya dibalut baju kaos oblong nan tipis.

“Ama, tolong jangan pergi! Saya tak mau kehilangan engkau, Ama,” rengek Inna Buran.
“Kau di sini saja Inna. Pastikan pintu tetap terbuka dan asap dari tungku di dapur harus tetap membumbung di langit,” pesan Ama Miten.
“Tapi, saya tak mau kehilangan kau, Ama Miten! Janganlah pergi Ama. Cukup bapakmu yang mati ditebas parang karena masalah tanah. Saya tak mau itu terjadi padamu. Tolonglah Ama,”
“Bapakku mati karena ditebas parang, dan saya bangga bapakku punya harga diri, Inna,”
“Dan meninggalkan kau yang masih kecil, hidup terlunta-lunta dari satu keluarga ke keluarga yang lain? Dan ibumu harus menikah dengan lelaki lain dan meninggalkan kau sendirian di kampung ini? itukah yang kau banggakan Ama?”
Ama Miten terdiam. Sekeras-kerasnya hatinya, dia masih mau mendengarkan suara istrinya.
“Ya, itu mungkin benar. Tapi saya harus pergi Inna. Kalau saya mati, jangan banggakan saya! Biar saya mati untuk diri saya sendiri!” pesannya sebelum kakinya menapaki tangga rumah dengan parang yang duduk manis di pundak kanannya.

“Amaaaaa!” teriak Inna Buran. Namun, tubuh perkasa Ama Miten sudah terlanjur menghilang di bawah rindang pohon kelapa. Sejenak kemudian, tua-tua suku, para pemuda dan remaja putus sekolah sudah berhamburan keluar rumah.
“Perang! Perang! Tanah kita direbut! Ayo perang demi tanah leluhur kita,” pekik mereka.

Berbondong-bondong lelaki-lelaki itu menuruni jalan-jalan setapak dengan parang dan tombak di tangan. Pekikan dan teriakan membakar semangat mereka. Wanita-wanita pun hanya berdiri di depan pintu rumah masing-masing. Wajah mereka kusut, gelisah, cemas dan risau. Sebaris pertanyaan paling besar yang menggayut di pikiran mereka; akankah mereka kembali dalam keadaan hidup?

Inna Buran gelisah, namun berusaha menghalau gelisahnya dengan beraktifitas layaknya tak ada hal serius yang sedang terjadi.

Kampung mendadak sepi. Suara yang terdengar hanyalah angin yang menggoyangkan daun-daun kelapa. Inna lalu masuk ke dalam kamar, menyalakan sebatang lilin dan mulai menutup matanya. Katup tangannya erat, kuat menggengam rosario kecil putih di dalam tangannya. Tenang dan diam. Sunyi. Sebutir air mata mengalir dari kelopak matanya. Wajah sang suami, dan dua anaknya yang sedang kuliah di luar kota itu hadir dalam bayangannya. Sebelum ia membuka matanya, suara orang-orang di luar mulai mengganggunya.

“Hari ini tidak ada yang mati! Mungkin besok pasti akan ada!”
“Itu nyaris sekali. Beruntung mereka lari duluan. Kalau tidak, sudah kutebas kepala mereka!”
“Ayo kita hitung lagi semua yang tadi pergi. Mungkin ada yang kurang!”

Suara-suara dan perbincangan itu menghentikan doa Inna Buran di dalam kamarnya.

“Inna, saya pulang. Masih hidup Inna!” teriak Ama Miten di depan rumah. Inna berlari dari kamar dan segera memeluk sang suami, erat seolah mereka tak bertemu puluhan tahun lamanya.
“Ah, sudahlah Inna. Baru juga sebentar. Saya bukan pulang dari merantau,” ejek Ama Miten.

***

Dua hari setelahnya, Inna Buran bermimpi lagi. Seorang lelaki tua bertelanjang dada menenteng sepotong kepala manusia keliling kampung. Di tangan kirinya, sebilah parang panjang berlInang darah segar dibiarkan menyentuh tanah dan membentuk garis yang panjang di tanah. Wajah kepala tanpa badan itu nyaris tak dikenali, kabur dan absurd.

“Saya telah membunuhnya! Lihatlah kepalanya! Kepala orang-orang yang mengaku tuan tanah di sini!” teriak lelaki itu.

Inna Buran tersadar. Keringatnya lebih banyak sekarang. Napasnya tak teratur. Lagi-lagi dia harus menunggu pagi untuk menceritakan isi mimpinya kepada sang suami. Namun sebelum pagi benar-benar datang, suara orang-orang di luar terdengar begitu keras membangunkan seisi kampung.

“Mereka berulah lagi! Kelapa-kelapa itu ditanam lagi! Dasar pendatang sialan! Ayo habiskan mereka!”
“Bangunlah semuanya! Tanah kita direbut mereka! Ayo kita ambil kembali, dengan darah sekalipun!”
Teriakan-teriakan itu semakin keras saja. Inna Buran terbangun dan mendapati sang suami telah tiada di sampingnya. Inna Buran segera bergegas keluar kamar. Dilihatnya Ama Miten sedang mengasah parangnya.

“Ama, kau tak boleh pergi! Di rumah saja!” perintah sang istri.
Ama Miten tak segera menjawab.
“Ama, biarkan tanah itu jadi milik mereka. Kita tidak pernah tahu siapa yang pertama kali memilikinya. Semua hanya berdasarkan cerita, dan cerita bisa saja bohong. Dan kau tak perlu mati demi tanah, Amma,”
“Leluhurku tak pernah berbohong Inna,” cegah Ama Miten.
“Lihatlah mereka Amma. Tanah mereka hanya di ujung pantai. Tak cukup untuk bangun rumah. Hanya batu-batu cadas membatasi kampung mereka. Berikan saja pada mereka. Atau paling tidak, ikhlaskan saja pada mereka. Kasian anak-anak mereka tak punya tanah untuk membangun rumah,”
“Lalu apa yang kita dapat Inna?”
“Kedamaian Ama! Tidakkah berbuat bijak itu mendamaikan?”
“Ah, itu kata pastor saja di kotbah!”
“Ama, ingatlah pada dua anakmu yang di luar sana! Banggakah mereka pada sang ayah yang mati ditebas parang? Tidak inginkah kau mendampingi mereka saat wisuda nanti?” rengek Inna Buran semakin menjadi. Ama Miten terus mengasah parangnya yang sudah semakin putih dan tajam.
“Saya tidak akan mati Inna. Ama Miten tak akan mati ditebas parang! Saya harus pergi. Apa kata mereka bila saya tidak pergi?” jawab Ama Miten seraya bangun dari tempat duduknya dan meninggalkan Inna Buran yang sesunggukan.

Inna Buran mencoba mengejar sang suami yang sudah menuruni tangga rumah dan hendak bergabung dengan orang-orang kampung yang menuruni jalan setapak menuju tanah sengketa.

“Ama! Ama Miten!”
Ama Miten sejenak menoleh pada istrinya, Inna Buran.
“Mimpiku semakin jelas Ama. Kepala itu, kepala yang ditenteng itu kepalamu, Ama Miten! Kepalamu! Saya baru ingat sekarang! Itu kepalamu! Ama Miteeeen!” tangis Inna Buran. Inna Buran hendak mengejar dan membawa pulang Ama Miten namun itu menjadi hal yang pantang, pertanda nasib sial bakal melanda mereka.

Suara Inna Buran sayup hilang, mungkin tak terdengar Ama Miten yang kemudian menghilang di bawah rindangnya barisan pohon kelapa itu.

Waibalun, 11/03/2020

# Kepala-Kepala di Bawah Kelapa

  • 161
    Shares

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.