Diet Mayo Benarkah Efektif Turunkan Berat Badan?

Diet Mayo Benarkah Efektif Turunkan Berat Badan?

REINHA.com – Akhir-akhir ini diet mayo banyak dipraktekkan karena dianggap sebagai metode diet yang cukup efektif dalam menurunkan berat badan. Dari pengakuan orang-orang yang mencoba diet ini, berat badan mereka bisa turun sampai 3 kg hanya dalam delapan hari. Namun benarkan diet mayo seefektif itu?

Sebelum mulai menjalaninya, ada baiknya jika Anda mengetahui terlebih dahulu asal-usul dari diet mayo. Dijelaskan pakar gizi Jansen Ongko, Msc, RD., ada dua macam diet mayo. Pertama adalah diet yang disebut Mayo Clinic, ada pula ‘fake mayo’. Diet mayo yang lebih populer dan banyak diterapkan di Indonesia adalah ‘fake mayo’. Seperti apa?

Diet ‘fake’ mayo menekankan untuk menghilangkan pemakaian garam dalam makanan, membatasi asupan karbohidrat dan memperbanyak protein serta sayuran. Diet tanpa garam ini harus dilakukan selama periode tertentu, biasanya 13 atau 14 hari. Ketika gagal sebelum waktu yang ditargetkan, maka diet mayo harus dilakukan dari awal lagi.

Menghindari garam sama sekali memang bisa menurunkan berat badan secara drastis. Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. Kadar air pada tubuh bisa mengalami fluktuasi (naik-turun) yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti suhu, aktivitas fisik, asupan cairan hingga kondisi kesehatan saat itu. Ada pula beberapa mineral tertentu yang bisa meningkatkan retensi air di tubuh, salah satunya sodium. Ketika sodium dikurangi atau dipangkas habis, maka cairan pun akan lebih mudah dan cepat keluar dari tubuh.

“Mengurangi garam apapun bentuk dietnya pasti mengurangi berat badan, karena garam sifatnya menyerap air. Jadi begitu kurangi garam air di dalam tubuh pasti keluar. Jadi kalau kita makan banyak garam diikuti juga dengan minum air yang banyak, pasti airnya terserap dan terjadilah kenaikan berat badan yang sering disebut dengan ‘berat air’,” jelas pakar nutrisi Victoria Djajadi MnutrDiet., APD, saat ditemui Wolipop di kawasan Senayan, Jakarta Selatan.

Namun Victoria menegaskan bahwa turunnya berat badan karena menghindari garam lebih disebabkan karena berkurangnya kadar air di dalam tubuh, bukan lemak seperti yang selama ini dianggap kebanyakan orang. Kalaupun pada akhirnya lemak juga berkurang, efeknya tidak serta merta langsung terjadi pada tubuh.

“Bukan mengurangi lemak secara langsung ya. Kalau makanan pakai garam kan rasanya lebih gurih jadi makannya lebih nafsu nah itu yang bikin gemuk. Tapi garamnya sendiri berhubungan dengan air, bulan lemak. Yang pasti kalau nggak makan garam, air yang diminum tidak terserap tubuh,” ujarnya.

Senada dengan Victoria, Jansen juga menjelaskan kalau garam memang bersifat mengikat air di tubuh. Pada diet mayo, pelakunya juga disarankan mengonsumsi kafein berupa kopi. Seperti diketahui, kopi memiliki sifat diuretik yaitu meningkatkan frekuensi buang air kecil. Di sisi lain, kadar sodium juga diturunkan maka otomatis kadar air di dalam tubuh juga berkurang yang berakibat pada menurunnya berat badan.

“Dilihat dari komposisi meal plan, karbohidrat (dalam diet mayo) juga tidak terlalu banyak. Sebenarnya karbohidrat sendiri juga mengikat air, jadi banyak komponen yang membuat penurunan beray badan secara instan. Beberapa faktornya sodium, diuretik, dan minimalisir konsumsi karbo dimana glikogen juga mengikat air. Tiga faktor ini sudah bisa membuat seseorang menurunkan berat badan yang cukup signifikan,” terang Jansen.

Namun diet mayo yang menghilangkan asupan garam ini bukan untuk dilakukan dalam jangka panjang, juga bukan merupakan pola makan yang bisa dijalani seterusnya. Diet mayo ‘versi Indonesia’, begitu Jansen menyebutnya, hanya bisa dijalankan 13 atau 14 hari dalam setahun. Efek menurunkan berat badan memang cepat namun ketika seseorang kembali ke pola diet biasanya, bukan tidak mungkin berat badan akan ke kondisi semula lagi.

Lalu bagaimana dengan diet mayo versi Mayo Clinic?

Menurut pakar gizi lulusan salah satu universitas di Amerika ini, diet ala Mayo Clinic lebih fokus pada mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat secara keseluruhan mulai dari pola makan hingga kebiasaan. Ada lima faktor utama yang diterapkan dalam diet Mayo Clinic; menambah konsumsi sayur dan buah-buahan, menambah asupan sarapan dengan lemak sehat, mindful eating (fokus hanya pada makanan tanpa melakukan aktivitas lain), olahraga setiap hari dan menambahkan serealia atau biji-bijian gandum utuh.

“Bukan one solution, kalau Mayo Clinic ini lebih ke lifestyle changing. Perubahan kebiasaan. Mereka mengatakan kalau lima kebiasaan buruk harus digantikan dengan lima kebiasaan baik,” ucapnya.

Jansen kembali menjelaskan bahwa lemak sehat bisa didapat dari alpukat, kacang-kacangan seperti almond dan walnut, biji-bijian misalnya chia seed dan flax seed atau minyak zaitun. Sementara serealia merupakan jenis karbohidrat yang tinggi kandungan seratnya dan rendah glikemik indeks (tidak cepat diolah menjadi gula darah), misalnya havermut, barley, quinoa, beras merah dan beras hitam.

Untuk aktivitas fisik, diet versi Mayo Clinic menyarankan untuk olahraga setiap hari minimal 30 menit per sesi, atau bisa kurang tergantung dari intensitasnya. Sedangkan cara makan dengan konsep mindful eating adalah menjaga agar tetap fokus pada makanan yang tersaji di depan meja dan yang akan disantap. Bukan sambil melakukan aktivitas lain misalnya menonton TV.

“Tujuannya menghindari makan berlebihan. Kalau makan di depan TV otomatis nggak kenyang-kenyang jadi overeating dan hormon rasa kenyang jadi tidak diproduksi secara optimal. Usahakan juga mengunyah lebih banyak tapi tidak perlu sampai 20-30 kali karena tekstur makanan berbeda-beda. Saat makan ya fokus makan tidak usah pikirkan hal yang lain,” tutur Jansen. (wlp/rsn-reinha)