Bicara Soal Puisi Sukmawati, Fahri Hamzah: Jika Soal Kritik Sastra, Diskusi Bisa Dilanjutkan

REINHA.com – Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, mengomentari puisi Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri yang berjudul “Ibu Indonesia”. Puisi tersebut dibacakan Sukmawati dalam acara “29 Tahun Anne Avantie Berkarya” di Indonesia Fashion Week, Kamis (29/3) lalu.
Menurut Fahri Hamzah, boleh saja ibu Sukmawati mengatakan puisi itu soal kebudayaan dan sebagainya, tapi pandangan itu mengandung sesuatu yang menurut masyarakat dianggap sensitif karena mempersoalkan Jilbab dan Azan. Dimana hal-hal tersebut secara simbolik dianggap suci dan dihormati karena merupakan simbol dari agama.
Jadi persoalannya adalah ketika dia membandingkan sesuatu yang tidak perlu dibandingkan, tidak perlu membandingkan agama dan budaya karena selama ini agama dan budaya berjalan seiringan, tidak saling meniadakan. Budaya kadang mengalami pergeseran dan perubahan namun agama itu tetap, kata Fahri Hamzah.
Fahri melihat kecenderungan Sukmawati yang agak sinis terhadap agama terlihat dalam kalimatnya. Mungkin dia perlu berdialog dengan kaum agamawan, kenapa dia jadi gelisah dengan simbol-simbol agama yang mungkin tambah dominan.
(Baca juga: Fahri Hamzah: Saya Tidak Suka Kembali Dipimpin Tangan Besi)
Masih menurut Fahri, protes yang dilakukan Sukmawati tersebut seharusnya dibicarakan ke tokoh agama, namun jika kemudian keluar menjadi teks dan dibawa ke publik ya wajar kalau jadi delik.
Agama dan lintas budaya sudah saling mengenal dengan baik, tidak perlu saling menghina, tidak perlu juga mempersoalkan eksitensi, kehadiran itu harus diterima. Tidak hanya dalam konsitusi tapi dalam aturan perundangan eksitensi yang berbeda telah dilembakan dan dijamin keberadaanya.
Jadi menurut Fahri tidak perlu menggunakan dahlil banyak kelompk yang tidak kenal syariat Islam dan itu agak mustahil karena di Indonesia yang lebih menonjol adalah Islam dan Islam juga merupakan agama mayoritas.
Jalan keluarnya, karena sudah menjadi delik dan muncul laporan, sebaiknya ibu Sukma melakukan pendekatan yang lebih komunikatif untuk berdialog dan berdiskusi. Dan hal ini menjadi pelajaran bagi kita, di mana ada wilayah yang tidak perlu dipersoalkan, karena kalau dipersoalkan sama dengan kita persoalkan eksitensi kita sebagai masyarakat yang beragam.
Selain itu Fahri Hamzah mengatakan Sastrawan tidak perlu mempersoalkan persoalan yang sudah selesai. Apalagi membeturkan agama dan budaya. Soal laporan pidana Itu hak orang yang merasa dirugikan, tetapi soal kritik sastra diskusinya bisa kita lanjutkan, tapi kita harus tahu batas.
# Bicara Soal Puisi Sukmawati, Fahri Hamzah: Jika Soal Kritik Sastra, Diskusi Bisa Dilanjutkan


