Cerita Rakyat Rote – Kire Oli

Cerita Rakyat Rote – Kire Oli

Cerita Rakyat
Cerita Rakyat – reinha.com

Pada zaman dahulu kala antara penduduk di Pulau Sabu dengan penduduk di pulau Ndao, biasa terjadi hubungan kawin mawin. Pulau Ndao adalah pulau kecil yang terletak di sebelah Timur Sabu dan di sebelah Barat Pulau Rote. Adat kebiasaan suku Ndao, serta budi bahasanya tidaklah jauh berbeda dengan adat dan kebudayaan suku Sabu.

Hingga masa kini, masih nampak benar persamaan-persamaan adat dan budaya dari kedua suku bangsa ini. Konon menurut cerita sejarah bahwa suku Ndao yang ada sekarang ini, adalah suku Sabu yang telah bermukim dan telah menetap di pulau itu dan sekarang disebut suku Ndao. Tersebutlah pada zaman dahulu bahwa di pulau Ndao hiduplah seorang pemuda yang bernama Kire Oli.

Pemuda ini berasal dari keluarga berada. Keluarga Kire Oli mempunyai harta pusaka. Mereka mempunyai kebun sirih pinang, kebun kelapa, kebun jeruk, kebun tuak / lontar, dan mereka mempunyai bidang sawah, ladang yang luas, dan kaya domba.

Keluarga ini terpandang dan di segani dalam masyarakat Ndao, lagi pula mereka mempunyai sebuah perahu layar yang dapat berlayar ke pulau-pulau lain. Sudah tiba saatnya pemuda ini berumah tangga, namun hingga umurnya mencapai kurang lebih tiga puluh tahun ia belum juga menikah. Kedua orang tuanya berkali-kali menganjurkan kepadanya supaya ia cepat mencari jodoh, namun ia selalu menolak dan mengatakan, saatnya belum tiba.

Pada suatu hari kedua orang tuanya itu memanggilnya. “Kire Oli anaku tercinta, kapankah engkau ini ingin berkeluarga. Ayah dan ibu ini sudah tua dan sedikit waktu lagi akan tiada. Kami berdua telah rindu ingin melihat engkau berkeluarga.

Ketahuilah olehmu bahwa kami orang tua akan sangat kecewa apabila anak satu-satunya yakni engkau ini belum juga menikah sewaktu kami masih hidup.”

Demikianlah kata orang tuanya kepadanya.Pada suatu malam bulan purnama Kire Oli mendatangi kedua orang tuanya dan berkata, “Ayah dan ibu”, “Saya telah lama ingin berkeluarga, dan telah mencoba mencari seorang wanita pendamping hidupku di negeri Ndao ini, tetapi tiada seorang pun yang berkenan di hatiku.

Rupanya Deo Wata atau Tuhan yang Maha Kuasa menentukan jodoh saya di seberang laut. Oleh sebab itu saya bermaksud akan berlayar ke pulau-pulau lain untuk mencari jodoh. Saya akan berangkat dari sini menuju Kalo Kota. Di sana akan mencari jodoh saya, memenuhi hasrat ayah dan ibu. “Relakanlah saya untuk maksud ini oh ayah dan ibu.”

“Kalau demikian kehendakmu nak, ayah dan ibu akan merelakan engkau pergi. Pesan ayah dan ibu, isilah perahumu itu penuh dengan bekal atau muatan. Bila engkau bertemu jodoh di sana di negeri orang, hati-hatilah memilihnya. Carilah olehmu, “do namada Koro Iki jangan memilih do namada kor AE, do badha wa habbo ode maidda mahilo”. Masih banyak lagi pesan-pesan dari kedua orang tuanya dan semua pesan-pesan itu didengarnya dengan cermat.. Ia mengisi perahunya dengan bekal dan muatan yang secukupnya dan kemudian berangkat bersama-sama anak buah perahu.

Di Kolo Kota, Holo Kataga dan Kebihu Rai Wa, tidak di ketemukan jodoh yang dicari. Dan terakhir perahu Kire Oli berlabuh di Rai Hawu atau Sabu, di pelabuhan Boddo. Untuk menyatakan maksud hatinya ia menghubungi Mone Ama dan Bangngu Udu di pulau Sabu.

(Cerita Rakyat: Cerita Rakyat Rote – Be Lana)

Mone Ama dan Bengngu Udu menerimanya dengan cara adat Sabu. Setelah mengetahui maksud hati Kire Oli, Bangngu dan Deo Roi mengundang semua penduduk baik tua maupun muda untuk berkumpul di kampung Boddo. Kemudian maksud hati Kire Oli dijelaskan kepada mereka dalam sebuah pengumuman singkat.

Isi pengumuman itu, mengharapkan kepada seluruh muda mudi di negeri itu untuk bersedia mengadakan sayembara Petu Huta dengan seorang pemuda dari tanah seberang (dari negeri Ndao).

Demi tujuan ini Deo Rai dan Bangngu mengadakan suatu malam Hiburan Rakyat di Sabu. Acara-acara yang mengisi malam Hiburan itu antara lain; menyabung ayam, Pehere Jara (lomba Tell Kuda) Pedoa (Sabu dance) serta Tarian Ledo. Pada saat-saat keramaian itulah diadakan sayembara Petu Huta dengan si pemuda Kire Oli.

Tujuh hari tujuh malam diadakan sayembara Petu Huta di Boddo.Tetapi belum ada seorang pun yang berkenan di hati Kire Oli. Maka Deo Rai dan Bangngu Udu (pemuka adat dan penguasa) mengulangi lagi pengumuman tersebut agar semua pemuda pemudi baik yang kecil maupun yang besar datang mengikuti dalam sayembara tersebut. Siapa tahu Deo Wata (Tuhan Yang Maha Kuasa) akan berkenan.

Tak lama kemudian datanglah seorang ibu bersama anak perempuannya. Nama anak itu Hemado Lena. Ia berumur sembilan tahun.

Setelah diadakan sayembara Petu Huta, ternyata Hemado Lena-lah yang memenangkan sayembara ini, dan karena itu ia berhak di kawini oleh pemuda Kire Oli yang datang dari negeri seberang. Tetapi suatu halangan terjadi, karena Hemado Lena masih belum dewasa untuk suatu usia perkawinan.

Maka diadakanlah mufakat dengan keluarga Hemado Lena, agar untuk sementara diadakan upacara Lolela (pertunangan) sambil menunggu sampai gadis itu mencapai usia dewasa. Setelah tercapai kata sepakat, maka di langsungkanlah upacara Lolela tersebut. Lima tahun lagi Kire Oli akan datang dan merampungkan upacara perkawinan itu.

Segala muatan perahu yang dibawa dari Ndao di turunkan untuk keluarga Hemado Lena. Beberapa hari kemudian Kire Oli kembali ke negerinya dengan suka cita besar, karena telah menemui jodohnya ditanah seberang, di tanah Sabu. Walaupun Hemado Lena sendiri belum menangkap makna Petu Huta, keculai ibu dan bapaknya.

Di rumah keluarga Hemado Lena dipelihara seekor kera betina. Menurut cerita kera itu ditangkap oleh ayah Hemado Lena di hutan Kelara ketika beliau sedang berburu. Di Sabu, hutan Kelara dianggap sebagai hutan keramat hingga sekarang ini. Kera ini menurut cerita bukanlah kera biasa melainkan seekor kera sakti penjelmaan dari istri dewa Lugi Liru yang telah dikutuk karena pelanggaran, dan telah dibuang di hutan Kelara.

Kera itulah sekarang di pelihara keluarga Hemado Lena. Pada waktu upacara Lolela Kire Oli dan Hemado Lena, kera itu turut pula menyaksikannya. Maka timbullah niat jahat dalam hatinya untuk merusak hubungan perkawinan itu dan ingin pula menggagalkan perjodohan itu. Lima tahun berlalu dan Kire Oli bersiap-siap datang untuk melangsungkan perkawinan dengan Hemado Lena.

Kabar tentang pinangan atas dirinya telah dimakluminya. Oleh sebab itu ia bermaksud akan memperlengkapkan dirinya dengan bermacam-macam ketrampilan seperti tenun-menenun, teknil ikat motif dan teknik celup-celupan. Dan ini akan dipelajarinya dari nenenya Wennyi Hari Juda di Aikepaka.

Pada suatu hari ia menghadap orang tuanya katanya, “Ibu dan ayah tercinta, saya telah besar dan dewasa, tetapi saya merasa bodoh dalam segala hal. Saya bermaksud pergi kepada nenek di Aikepaka untuk belajar seni ikat motif, celuo-celupan dan tenun-menenun.

Relakanlah saya, ayah dan ibu demi hari depanku nanti”.

“Benar anakku, apa yang engkau inginkan, ibu dan ayah merelakan engkau pergi belajar”. Tetapi ada yang ku-minta pada ayah dan ibu bunuhlah babi yang paling besar yang terikat di kandang itu, untuk nenek Wannyi Hari Juda di Aikepaka, supaya beliau mencurahkan kepandaiannya kepada hamba. Niscayalah nenek akan senang mengajarnya”. Atas permintaan Hemado Lena, maka babi besar itu pun dibunuh.

Dagingnya diantar sendiri oleh Hemado Lena, dan sejak itu Hemado Lena dengan resmi belajar pada neneknya di Aikepaka. Pada waktu di sembelih babi itu, kera jelmaan itu mulai memainkan peranannya.

Ia menghilang dari rumah dan mengikuti Hemado Lena dari belakang. Ia senantiasa mengganggu Hemado Lena di jalan dengan rupa-rupa gangguan. Ia menakut-nakuti Hemado Lena dengan roh-roh jahat hingga gadis itu takut dan lari cepat-cepat tanpa menghiraukan lagi daging yang dibawanya. Daging banyak yang jatuh dan dipungut oleh kera dan dilahapnya.

Setelah Hemado tiba, neneknya Wannyi Hari Juda sedang menenun. Ia menegur sang nenek dan barang-barangnya diturunkan. Sang nenek melepaskan pekerjaannya dan menyambut cucunya. “Nek! Saya datang kepada nenek untuk belajar segala ilmu kepandaian dan ketrampilan dari nenek. Ajarilah saya, ya nek”, rengek Hemado Lena. “Nenek merelakan engkau dan segala sesuatu akan kuturunkan kepadamu. Kaulah satu-satunya cucu nenek yang manis dan cantik dan sangat nenek sayang”.

Setelah itu Hamedo Lena pergi ke tempat menenun dan menggantikan neneknya menenun.

Begitulah pekerjaan cucunya setiap hari. Kera yang mengikuti Hemado Lena dari belakang bersembunyi di atas pohon di belakang rumah dan mengawasi setiap gerak-gerik Hemado Lena. Pada suatu hari, setelah Hemado Lena sebulan bekerja pada neneknya, Kire Oli tiba dari tanah Ndao.

Kabar kedatangan Kire Oli dari tanah Ndao terdengar pula oleh nenek Hemado Lena, demikian juga oleh si kera. Kali ini Kire Oli datang menyelesaikan perkawinan dengan Hemado Lena yang telah dipinang lima tahun yang lampau. Dengan gembira Kire Oli menuju ke rumah Hemado Lena.

Segala perlengkapan dari negeri Ndao seperahu penuh diturunkan dan dibawa ke rumah Hemado Lena. Kire Oli amat rindu melihat kekasihnya yang lima tahun lalu di tinggalkannya masih kecil.

“Ayah dan Ibu tercinta? Di manakah adikku Hemado Lena? Saya rindu ingin melihat wajahnya”. Jawab mereka:” Adikmu saat ini sedang belajar menenun di rumah neneknya Wannyi Hari Juda di Aikkepaka. Sabarlah! Berita kedatanganmu telah disampaikan ke sana, dan mungkin tak lama lagi dia akan tiba di rumah”. “Tidak, ayah dan ibu, saya harus menjemputnya sekarang juga”, jawab Kire Oli.

Lalu ia berangkat dengan seorang anak perahu. Kera ajaib itu telah mengetahui segalanya-galanya. Ia telah mengetahui bahwa Kire Oli akan datang menjemput Hemado Lena hari itu dan ia telah siap-siap dengan segala kesaktian yang ada padanya untuk merebut Kire Oli dari tangan Hemado Lena.

Tiba-tiba saja kera sakti ini berubah ujutnya menjadi manusia. Ia berteriak memberi tahu pada Hemado Lena yang sedang asyik menenun. “Kire Oli telah datang! Kire Oli telah datang dari Ndao Wolomanu. Berbahagialah engkau Hemado Lena. Itu… ia telah datang menjemputmu:”.

Mendengar teriakan gadis asal kera itu yang tiba-tiba saja sudah berada di depannya itu, maka Hemado Lena lari dari tempat tenunannya dan bersembunyi di atas loteng rumah neneknya.

Secepat kilat gadis baru itu tadi (kera-ajaib jelmaan itu) telah berada di tempat tenun menggantikan Hemado Lena yang telah lari keatas loteng rumah. Hemado Lena sendiri telah disihirnya sehingga tidak dapat berbuat apa-apa. Wajah gadis asal kera itu hampir serupa dengan Hemado Lena.

Bedanya ialah bahwa Hemado Lena mempunyai tanda khusus pada badannya sejak lahir yakni, dongo moto pa danni ode, warru pa tanga Erai. Tanda-tanda ini tidak dapat diwujudkan karena itu merupakan karunia Tuhan bagi Hemado Lena. Gejala keajaiban itu tadi tidak disadari oleh siapa pun kecuali kera itu sendiri. Begitu Kire Oli tiba, ia langsung membelai gadis yang sedang asyik menenun.

Dikiranya itulah gadis Hemado Lena pujaannya, yang lima tahun lalu dipinangnya. Gadis itu sangat cantik dan menawan hatinya. “Sungguh asyik adik menenun; berhentilah sejenak agar tidak kecapaian”.

Seperti lasimnya seorang gadis menegur dengan sombong dan manja ia menjawab ; “ Untuk apa engkau mengomentari pekerjaanku? Apa hubungan pekerjaanku dengan kedatanganmu?” Kire Oli tidak berkata membalasnya; tetapi ia tersenyum dan memandang wajah gadis itu dengan pandangan penuh kasih dan cinta. Mendengar ada suara laki-laki di luar sang nenek menanyakan, “Hemado Lena, siapakah yang berbicara kepadamu?

Kenapa begitu kasar engkau membalasnya; Belum sempat Hemado Lena membalasnya sang nenek telah keluar dari dalam rumah. Dan dilihatnya seorang pemuda telah berdiri di dekat Hemado Lena yang sedang menenun. Kire Oli memperkenalkan diri ; “Saya adalah Kire Oli dari negeri Ndao, datang untuk menjenguk nenek dan adik Hemado Lena”. “Bicaralah yang sopan dan ramah. Ia datang ke Sabu adalah karena dirimu”, kata nenek.

Nenek tidak menduga bahwa yang menenun itu bukan Hemado Lena, yang sebenarnya, karena wajah gadis itu serupa dengan wajah Hemado Lena. Segala keajaiban dan tipu muslihat yang terjadi tidak disadari oleh keluarga Hemado Lena dan nenek Wannyi Hari Juda.

Tibalah saat perkawinan mereka dilangsungkan. Pesta perkawinan di rayakan dan di meriahkan oleh rupa-rupa tarian. Banyak orang hadir pada pesta itu. Walaupun yang menjadi penganten wanita sesungguhnya adalah seekor kera yang telah menjelma menjadi manusia yang telah merubah wajahnya seperti Hemado Lena. Dialah yang sekarang menjadi istri Kire Oli secara resmi. Hemado Lena sendiri tak dapat berbuat apa-apa karena telah disihir. Setelah pesta perkawinan telah berakhir Kire Oli dan rombongan bersiap-siap untuk kembali kenegerinya di Ndao.

Pada hari keberangkatannya mereka dengan hormat memohon diri pada ayah dan ibu Hemado Lena. Si istri masih meminta lagi seorang pembantu kepada ayah dan ibunya yang dipilihnya sendiri. Ia mengatakan bahwa ia mengingini seorang gadis yang bersembunyi di loteng rumah nenek Wannyi Hari Juda, nama gadis itu Hera Alure.

Gadis tersebut di turunkan dengan paksa dari loteng dan ia pasrah pada nasibnya. Ia menangis mengenangkan nasibnya yang malang. Setelah lepas pantai angin tidak bertiup lagi. Dan perahu diombang-ambingkan ombak kian ke mari sehingga tidak bertambah maju. Menurut kepercayaan, keadaan perahu yang demikian pasti ada penyebabnya.

Setelah diteliti sebab musababnya ternyata nyonya dan budaknya lah yang menjadi penyebabnya. Karena itu nyonya disuruh bernyanyi ; Bunyi lagunya : “Ku, kahhe-Ku, Kahhe Dakka ngalu, badji dahi, Koko Kowa Kire Oli Ruma Lamodai o o o”. Tetapi perahu itu tetap tidak bergerak dari tempatnya dan tak dapat maju walaupun ia telah Hoda (bernyanyi) berulang kali. Akhirnya pembantu itu disuruh Hoda (menyanyi). Ia mulai menyanyi dengan sedih katanya :

“Wo Kire Oli Rumalama dai ee, Tai ei ya, pa lobo rano ana ya, Dake dee atto are doke botte atto ubu. Hi tao au makke paya rowi ya, hakku mejaddi ya ta do ammu ddau lere kode ma ihi rai Dao”.

Arti dari Hoda/nyaniannya:

“Oh Kire Oli, sungguh kejam engkau
Demi cintamu aku jadi menderita
Aku sesungguhnya sangat berbahagia
Dalam rumah gendang, ibu bapak dan nenekku
Demi cintamu engkau telah membawa aku kemari
Menjadi seorang hamba sahaya dari seekor binatang
Kera yang tidak tahu akan dirinya, Aku sangat menderita
Karena perbuatanmu”.

Setelah pembantu melagukan nyanyiannya, angin kencang mulai bertiup dan perahu itu berlayar semakin laju. Kira-kira berjalan kurang dari empat jam, pembantu (Hera Alure) membisikkan kepada dewa Luji Liru supaya memerintahkan angin berhenti bertiup, dan perahu itu tinggal tetap di tempat. Jurumudi menentukan lagi nyonya untuk Hoda (menyanyi) tetapi tanpa hasil.

Kemudian budak itu diminta lagi untuk Hoda. Selesai Hoda, perahu berlayar lagi dengan amat cepat. Demikianlah keadaan perahu Kire Oli. Apabila sang nyonya yang disuruh Hoda, perahu tidak berjalan, tetapi ketika si budak menyanyi, perahu berjalan dengan cepat. Setelah dua hari berlayar mereka tiba di pelabuhan Ndao. Dari jauh orang telah melihat kedatangan Kire Oli. Di negeri Ndao orang telah bersiap-siap menyambut sang Ratu.

Istana Kire Oli dihiasi dengan bunga-bunga beraneka warna dan keramaian berlangsung secara meriah. Jalan menuju pintu masuk dibentangi dengan tikar-tikar yang indah. Diatas tikar diatur secara rapih deretan-deretan piring dan mangkuk.
Deretan piring yang diatur di sebelah kanan jalan di untukkan bagi Permaisuri, dan deretan mangkuk di sebelah kiri jalan untuk pengikutnya/pengiringnya. Hal ini untuk mengetahui apakah permaisuri itu berasal dari keturunan bangsawan ataukah ia seorang rakyat biasa.

Dan terjadilah suatu yang aneh.Piring-piring yang diinjak sang Ratu semuanya pecah, sedangkan mangkuk-mangkuk yang diinjak/dipijak oleh pengikutnya tidak satu pun yang pecah. Semua orang yang hadir dalam penyambutan itu menjadi heran, mengapa terjadi demikian.

Tiga hari tiga malam diadakan pesta pora. Kire Oli dan nyonya (kera siluman) tampak gembira sedang Hera Alure (Hemado Lena-asli) yang di perbudak Ratu, menangis sepanjang hari. Pada suatu hari sang nyonya menegur, “Hai Hera Alure mengapa kerjamu hanya menangis saja. Apa yang engkau susahkan. Tidak sadarkah engkau bahwa engkau adalah pelayan? Apa saja yang kuperintahkan dan dimana saja harus engkau kerjakan.

Tidak perduli apakah engkau dalam keadaan sehat, sakit, susah atau pun senang. Engkau adalah budakku mengerti”.

Hera Alure merasa sangat sakit hati karena bentakan itu. Di Ndao pada waktu itu tengah berlangsung musim padi menguning. Sangat di butuhkan tenaga untuk menghalau burung-burung pipit yang datang menghabiskan padi. Sudah banyak tenaga yang dikerjakan untuk menjaga padi disawah Kire Oli, tetapi burung-burung bertambah mengganas.

Maka permaisuri mengusulkan agar Hera Alure di suruh pula menjaga padi di sawah. Usul itu di setujui Kire Oli dan Hera Alure pergi menjaga padi di sawah.
Selama tiga hari ia menjaga padi hampir tidak ada burung pipit yang mengganggu padi Kire Oli.

Pada hari yang keempat timbullah niat jahatnya. Ia ingin membalas dendam kepada Kire Oli dan Permaisurinya karena perlakuan atas dirinya yang tidak wajar. Dan ia merasakan betapa rindunya pada orang tuanya dan neneknya Wennyi Hari Juda di kampung halamannya.

Maka di panggilnya segala binatang untuk menghabiskan padi Kire Oli. Demikian tuturnya dengan manteranya sbb : “Wo badda jara, badda kebao, wawi kii, woruha toga, mai kowe ma pe alle ne Kire Oli, Ne Kita Rihi hedui pa ya ne wole pejaga ma are no”. Dan permintaannya, di kabulkan dewa, (Segala kerbau, kuda, kambing, domba, rusa, serta segala binatang menghabiskan padi itu hanya dalam waktu sehari).

Semuanya lenyap. Pada pagi hari orang-orang yang telah bangun dari tidurnya dan memandang ke arah sawah Kire Oli , mereka mengetahui bahwa tidak ada sebatang padi pun yang tersisa di tengah sawah, maka tersiarlah berita sampai Kire Oli dan permaisuri bahwa sawahnya telah licin tandus di makan binatang hutan. Hera Alure melarikan diri ke pelabuhan dan mengambil sebatang kayu dan di rubahnya menjadi sebuah perahu kecil.

Ia menumpangi perahu itu dan berlayar menuju negerinya di pulau Sabu. Hera Alure memanggil dewa laut dan dewa angin untuk menolongnya dalam perjalanan. Sehari saja ia telah tiba di pulau Sabu. Di adukannya segala hal ihwalnya kepada orang tuanya, bahwa dahulu ia telah di tipu oleh sang kera, dan bukannya ia yang dinikahkan dengan Kire Oli melainkan sang kera itu. Orang tuanya merasa sangat sedih karena mereka semua di tipu.

Akan segala kejadian/peristiwa yang telah terjadi, Kire Oli mulai timbul kecurigaan kepada permaisurinya. Ia mulai mengadakan penyeledikan dan menghubungkan beberapa rentetan kejadian seperti perahu tidak mau bergerak maju, kalau sang nyonya Hoda/menyanyi, tetapi kalau pengikutnya/pelayannya Hoda/menyanyi, perahu itu berjalan lagi.

Pada waktu penyambutannya segala piring yang dilewati/diinjak sang ratu semuanya pecah sedangkan mangkuk yang dilewati/diinjak si budak tidak satupun pecah. Waktu Hera Alure menjaga padi semua burung pipit tidak mengganggu padi tetapi setelah ia lari segalanya hancur binasa.

Rentetan kejadian-kejadian ini menumbuhkan suatu keyakinan dalam dirinya. Akhirnya Kire Oli memutuskan untuk berlayar ke Sabu mencari budak yang telah melarikan diri. Dia akan ke Sabu mengikuti Hera Alure. Jangan-jangan ia mendapat kecelakaan, dan kesalahan akan di timpahkan oleh orang tuanya kepada dia. Sementara itu orang tua Hemado Lena ingin mengetahui mengapa anaknya pulang kembali. Setelah segalanya di ceriterakan, barulah mereka mengerti duduk persoalan sebenarnya dan mereka merasa iba kepada anaknya yang bernasip demikian. Setelah Kire Oli tiba di Sabu ia langsung pergi kerumah keluarga Hemado Lena.

Maka kepada Kire Oli di ceriterakan segala persoalan yang telah terjadi. Di ceriterakan juga bahwa istrinya itu sesungguhnya bukan Hemado Lena yang dulu dipinangnya, melainkan seekor kera sakti dari hutan Kelara yang telah menjelma.

Kera sakti itu adalah istri dewa Luji Liru yang telah di kutuk menjadi seekor kera dan tinggal di hutan Kelara. Dialah yang menggagalkan perkawinan Kire Oli dan Hemado Lena. Akhirnya Kire Oli meminta maaf kepada kedua orang tua itu, dan ia di perkenankan mengawini Hemado Lena putri mereka yang sesungguhnya. Kire Oli menjadi sangat marah karena merasa telah ditipu oleh kera. Hemado Lena menceriterakan juga segala yang telah terjadi di rumah nenek Wanny Hari Juda, tanpa di sadari oleh seorang pun kecuali dirinya sendiri. Tetapi ketika itu ia telah disihir oleh kera, hingga tidak dapat berbuat apa-apa.

Beberapa hari kemudian setelah perkawinan mereka berlangsung, Kire Oli pun minta izin kembali ke negeri Ndao-Rote. Ia ingin mengadakan perhitungan dengan kera tersebut. Setiba di Ndao, Kire Oli mengasah pedangnya hingga tajam dan ia mengajak permaisurinya berjalan-jalan.

Tiba di dekat sebatang pohon kesambi, Kire Oli menghabiskan nyawa permaisurinya dengan sekali ayunan pedangnya. Setelah Kire Oli mengadakan perhitungan itu, ia menceritakan kepada orang tuanya bagaimana duduk persoalan yang sebenarnya. Dan orang tuanya menerima baik segala yang dijelaskan olehnya.

Akhirnya Kire Oli pun di perkenankan untuk pergi menjemput istrinya. Kemudian mereka kembali ke negeri Ndao dan sejak saat itu mereka hidup rukun dan damai. (Dep.Dik.Bud, Ceritera Rakyat Daerah Nusa Tenggara Timur, l982, hal.44-53)

# Cerita Rakyat Rote – Kire Oli

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.