Delegasi Asing Terpana Akan Keindahan Kain Tenun Flores Di Annual Meetings 2018

REINHA.com – Ditangan Ibu Rosvita (34 tahun), penenun asal desa Watublapi, Flores, Nusa Tenggara Timur, kain tradisional ini menjadi lebih kekinian dan paduan warna yang beragam.
Rosvita mengatakan bahwa dirinya sudah belajar menenun sejak masih kecil. Tenun yang diajarkan turun temurun tersebut ia kembangkan dengan mengolah warna-warna kain tenun yang dihasilkan mengikuti selera pasar, dimana saat ini anak muda lebih menyukai warna cerah.
(Baca juga: Pramuka Diharapkan Menjadi Pionir Penerapan Hidup Ramah Lingkungan)
“Yang kami lakukan tidak hanya untuk melestarikan budaya tetapi juga untuk meningkatkan perekonomian keluarga” – Ibu Rosvita, 34 tahun.
Kain tenun berkesempatan untuk dipamerkan pada kegiatan IMF-WBG Annual Meetings di Nusa Dua, Bali 2018. Melalui Host Country Event, dalam program Indonesian Pavilion, para ahli pembuat tenun yang merupakan warga asli Maumere, NTT menceritakan bagaimana tingkat kesulitan pembuatan sehelai tenun.
Menurut Ibu Rosvita mendesain ini ada angkanya, ada teknik khusus. Membentuk desain ikat ini harus angka ganjil semua. Ada hitung-hitungannya. Kalau angka genap tidak akan bertemu dengan simetrik motif yang akan kita tenun, ujarnya.
TIdak sedikit delegasi asing yang terpana akan keindahan budaya Indonesia ini. Selain itu, Ibu Rosvita dan kelompoknya bahkan mampu membuka usaha homestay untuk turis domestik ataupun internasional yang ingin belajar membuat tenun.
# Delegasi Asing Terpana Akan Keindahan Kain Tenun Flores Di Annual Meetings 2018


