Tari Buyung Refleksi Untuk Generasi Zaman Now

Tari Buyung Refleksi Untuk Generasi Zaman Now

Tari Buyung Refleksi Untuk Generasi Zaman Now
Tari Buyung – @reinha.com

REINHA.com – Masyarakat Sunda sebagai salah satu suku bangsa di Indonesia memiliki berbagai macam budaya dan seni tari yang masih ada hingga saat ini. Seperti tari buyung yang merupakan tari adat Sunda dari Cigugur, Kabupaten Kuningan, yang hanya diselenggarakan pada tanggal 22 Rayagung setiap tahun (dalam kalender penanggalan masyarakat Sunda).

Seni gerak hasil kreasi Rama Djatikusumah dan Emalia Djatikusumah pada tahun 1969 merupakan tari yang diharapkan bisa jadi refleksi perilaku masyarakat zaman dahulu terutama perempuan dalam mengambil air dari mata air untuk generasi saat ini.

(Baca juga: Lima Tempat Wisata Yang Harus Anda Kunjungi Di Larantuka)

Tarian ini banyak mendapatkan apresiasi baik dari masyarakat sekitar maupun wisatawan asing. Hal ini dikarenakan beberapa gerakan dari tarian ini tampak tidak lazim bagi masyarakat awam. Dimana tarian ini memerlukan buyung dan kendi sebagai alat penunjang selama pertunjukan berlangsung.

Tari Buyung Refleksi Untuk Generasi Zaman Now
Tari Buyung – @reinha.com

Kurang lebih 20 penari dengan luwes berlenggak-lenggok berdiri diatas kendi yang terbuat dari tanah liat tanpa memecahkannya dan tanpa menjatuhkan buyung di atas kepalanya.

Jika diamati hal itu sangat mustahil, namun nyatanya para penari yang merupakan gadis desa masyarakat Sunda Cigugur ini dapat melakukannya selama kurang lebih dari 10-20 menit.

Koreografi ini memiliki pesan tersembunyi di balik gerakannya. Dijelaskan oleh Emalia Djatikusumah, gerakan tersebut memiliki pesan yang begitu dalam bagi generasi saat ini. Bahwasanya seperti pada peribahasa Sunda “pindah cai pindah tampian” makna tersebut berarti sebagai manusia harus bisa mengikuti adat istiadat yang berlaku di tempat ia tinggal dan juga harus bisa hidup selaras dengan alam.

(Baca juga: China Town, Simbol Toleransi Keberagaman Etnis Di Kota Bandung)

Penggambaran keindahan alam tergambar dari keelokan tubuh para penari yang menjaga tubuhnya agar tetap seimbang ketika melakukan gerakan tersebut, karena jika diperhatikan masyarakat sekarang seperti sudah tidak peduli dengan alam sehingga berkurangnya cinta kasih kepada alam.

Tarian ini juga memiliki nilai filosofi tinggi pada saat tarian dimulai, para penari bersujud. Bersujud memiliki makna dimana untuk memulai sesuatu seorang manusia haruslah beradab dengan meminta izin kepada pemilik semesta.

Dan hal ini juga mengartikan mempercayai Nya sebagai Dzat yang memimpin alam semesta agar tetap seimbang.

Tertarik untuk menyaksikannya silahkan datang ke Kabupaten Kuningan Jawa Barat pada saat upacara adat Seren Taun berlangsung, akan ada banyak pertunjukan seni dan tentunya berbeda dari daerah lain di Indonesia.

Biasanya para penikmat seni atau apresiatornya yang datang bukan hanya dari masyarakat Kuningan saja tapi ada banyak wisatawan asing yang sangat antusias untuk menyaksikan upacara adat ini.

# Tari Buyung Refleksi Untuk Generasi Zaman Now (naya-reinha)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.