Militan Ghouta Menahan Sandera Sipil Dan Merencanakan Serangan Kimia?

Militan Ghouta Menahan Sandera Sipil Dan Merencanakan Serangan Kimia?

Militan Ghouta Menahan Sandera Sipil Dan Merencanakan Serangan Kimia?
Ghouta – RT

REINHA.com – Militan di Ghouta dilaporkan menahan warga sipil dan membelenggu Damaskus dalam pelanggaran jeda kemanusiaan, dimana mereka dapat melakukan serangan kimia, Pusat Perdamaian Rekonsiliasi Rusia di Suriah memperingatkan.

Para pemimpin unit militan yang mengendalikan daerah pinggiran Ghouta mungkin “mempersiapkan sebuah provokasi yang akan melibatkan penggunaan senjata kimia,” Mayjen Yury Yevtushenko mengatakan dalam sebuah pengarahan pada hari Minggu, mengutip informasi intelijen yang diperoleh Pusat Rekonsiliasi Rusia di Suriah.

(Baca juga: Jika Anda Mati Syahid, Kami Akan Menghormati Anda Ucap Erdogan Pada Gadis 4 Tahun)

Beberapa jam setelah peringatan tersebut, ada laporan muncul dan mengatakan beberapa orang di Ghouta Timur menderita gejala yang konsisten dengan paparan terkena gas klorin.

Dimana laporan ini didukung oleh gambar dari kelompok White Helmets, yang terkenal dengan kemampuan uniknya untuk tampil ditempat yang tepat dan memfilmkan penderitaan warga sipil. Penderitaan, yang kemudian disematkan pada pasukan pemerintah Suriah sebagai penyebabnya.

Tuduhan keterlibatan Damaskus dalam serangan kimia terhadap warga sipil, muncul bersamaan dengan diadopsinya resolusi Dewan Keamanan PBB yang memaksakan gencatan senjata 30 hari di Suriah, yang tidak berlaku bagi anggota Negara Islam (IS, sebelumnya ISIS / ISIL ), al-Nusra atau organisasi teroris lainnya.

Setelah melewati perdebatan yang panjangan dan sengit di PBB, Rusia menegaskan bahwa teks resolusi tersebut diubah sehingga Damaskus tidak dicap sebagai satu-satunya pihak yang dipersalahkan atas kekerasan tersebut, resolusi tersebut.

Namun, militan yang menguasai Ghouta Timur mengabaikan jeda kemanusiaan tersebut. “Situasi terus memburuk di Ghouta Timur di mana Jaysh al-Islam, Jabhat al-Nusra, Ahrar al-Sham, Faylaq al-Rahman, dan Brigade Fajr al-Ummah mendirikan sebuah pusat koordinasi yang bersatu,” kata Yevtushenko.

Pusat Rekonsiliasi Rusia mencatat bahwa kelompok militan tersebut menghambat pemberian bantuan kemanusiaan ke Ghouta Timur dan memblokir warga sipil untuk meninggalkan pinggiran kota, mereka menahan ratusan sandera, termasuk wanita dan anak-anak.

“Terlepas dari pernyataan yang dibuat oleh Jaysh Al-Islam tentang rekonsiliasi, penembakan mortir di Damaskus berlanjut dari wilayah yang dikendalikan oleh formasi kelompok ini,” juru bicara militer Rusia mengatakan, selama 24 jam terakhir, setidaknya 31 tembakan berasal dari Ghouta Timur menghantam pemukiman Damaskus. Dimana serangan tersebut, membuat 13 warga sipil dan satu tentara Suriah terluka.

Teroris juga mencoba melakukan serangan bom mobil di dekat kota Qaboun, pinggiran kota Damaskus, sebuah usaha yang digagalkan oleh angkatan bersenjata Suriah. Menurut militer Rusia, kendaraan yang dilengkapi bahan peledak itu berasal dari daerah yang dikuasai oleh Failak Ar-Rahman dan militan al-Nusra.

Selama lebih dari seminggu, pasukan pemerintah Suriah telah melaksanakan operasi di Damaskus, untuk membersihkan Ghouta Timur dari unit-unit Islam ilegal yang telah meneror penduduk setempat selama bertahun-tahun, dan yang menolak setiap inisiatif untuk meletakkan senjata mereka dan meninggalkan daerah tersebut.

Ketegangan terus berlanjut di Ghouta Timur, meski ada gencatan senjata yang disepakati, Pusat Rekonsiliasi Rusia di Suriah mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk “menghentikan tindakan tempur dan provokasi bersenjata.”

Rusia telah berulang kali menarik perhatian masyarakat internasional terhadap insiden yang melibatkan penggunaan senjata kimia di Suriah, dan secara konsisten menyerukan penyelidikan independen dan tidak memihak mengenai masalah ini. Bulan lalu Moskow kembali mengusulkan sebuah mekanisme untuk menggantikan Joint Investigative Mechanism (JIM) Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPCW), yang mandatnya telah berakhir pada bulan November.

Sebelumnya, JIM menangani penyelidikan PBB mengenai penggunaan senjata kimia di Suriah namun, menurut pejabat Rusia, telah gagal menghasilkan laporan obyektif mengenai serangan kimia, termasuk insiden April di Khan Shaykhun. Sebaliknya, Moskow telah mengusulkan untuk membentuk sebuah mekanisme penyelidikan yang obyektif untuk menyelidiki semua tuduhan serangan kimia di Suriah “berdasarkan data yang tidak tercela dan tidak terbantahkan,” dan bukan pada fakta dan laporan yang diambil oleh sumber partisan.

# Militan Ghouta Menahan Sandera Sipil Dan Merencanakan Serangan Kimia?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.