Kasus Novel Baswedan Masih Kabur, Dahnil Anzar:  Mereka Takut

Kasus Novel Baswedan Masih Kabur, Dahnil Anzar:  Mereka Takut

Kasus Novel Baswedan Masih Kabur, Dahnil Anzar:  Mereka Takut
Dahnil Anzar – Twitter

REINHA.com – Tepat satu tahun, kasus penyiraman air keras ke wajah penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, masih menjadi misterius dan penuh tanda tanya. Tabir gelap yang menyelimuti kasus penyerangan petinggi KPK ini terlalu tebal, hingga publik pun bertanya-tanya, apakah ada kekuatan maha dahsyat di balik penyerangan tersebut.

Menanggapi satu tahun kasus penyiraman Novel Baswedan tersebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjutak, mengatakan penyiram air keras ke Novel adalah sesuatu yang mengerikan dan merupakan sebuah teror terhadap pemberantasan korupsi. Dimana Presiden dan polisi hanya bisa berjanji.

(Baca juga: PN Jaksel Perintahkan KPK Tetapkan Boediono Dkk Sebagai Tersangka Century)

“Subuh hari, aku terperanjat mendengar kabar dari rumah Novel Baswedan. Dia disiram air keras. Mengerikan. Teror terhadap agenda pemberantasan korupsi tak henti. Sementara Presiden dan Pak Polisi hanya berjanji.”

Lebih lanjut lagu Dahnil mengatakan ada yang aneh dengan kerja polisi dan sikap presiden Joko Widodo dimana KPK RI pun tidak memiliki sikap yang jelas, hal ini menurut Dahnil merupakan gambaran tentang ketakutan dimana KPK dianggap kehilangan nyali.

“Pak @jokowi hari ini tepat subuh tadi, satu tahun lalu Novel Baswedan disiram air keras oleh teroris suruhan bandit politik. Dan terang itu simbol teror terhadap agenda Pemberantasan korupsi. Dan, bapak pasti tahu bahwa ada yang ganjil dengan kerja polisi, pun demikian dengan sikap bapak.”

“Pimpinan @KPK_RI pun tidak jelas sikapnya terkait dengan penyiraman air keras terhadap Novel, tergambar terang mereka takut, sehingga untuk sekedar menyuarakan TGPF saja mereka takut. Mohon maaf, Pimpinan KPK kali ini bagi saya kehilangan nyali dan integritas.”

Dahnil pun membandingankan kasus pelanggaran HAM di era Susilo Bambang Yudhoyono dengan Jokowi. SBY menurut Dahnil berani membentuk TGPF Munir, walaupun tidak tuntas dan perlu dikritik, sedangankan Jokowi membentuk TGPF saja abai.

“Dalam hal kasus pelanggaran HAM, Presiden @SBYudhoyono agaknya lebih maju dibandingkan Pak @jokowi. Pak SBY berani membentuk TGPF Munir, walaupun perlu dikritik komitmen tersebut tdk tuntas dikawal sampai pada aktor utama. Sayangnya, Pak Jokowi membentuk TGPF saja abai.”

# Kasus Novel Baswedan Masih Kabur, Dahnil Anzar:  Mereka Takut (jmw-reinha)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.