Cerita Rakyat Rote – Legenda Rumah Roh Dan Manusia Buaya

Ada sebuah keistimewaan pada rumah roh di Batuidu Ibu Kota Kerajaan O’Epao ini, bila di bandingkan dengan rumah-rumah roh di tempat-tempat lain. Istimewanya ialah, bahwa rumah roh Batuidu di simpan juga sebuah kulit buaya.
Pada waktu-waktu tertentu kulit buaya ini di keluarkan dari rumah roh untuk di buatkan pesta adat. Saat yang bahagia ini membuat laki-laki, wanita, dan anak-anak serta seluruh kampung tampak gembira dan berseri-seri menyambut datangnya pesta ini. Ada seorang tua adat yang di tugaskan setiap setahun sekali membuka dan masuk mengambil kulit buaya ini. Kulit buaya ini di bawa keluar. Sampai diluar kulit ini disambut oleh orang-orang yang akan mengadakan pesta, dengan sorak dan teriakan-teriakan girang dan gembira.
Di luar, kulit ini di bersihkan, dihilangkan debunya. Kemudian orang-orang yang ada disitu menyambutnya dengan menari “kebalai” mengelilingi kulit buaya itu. Mereka bersenang-senang sampai jauh malam. Paginya kulit buaya itu di masukkan lagi kedalam rumah roh dan diambil lagi kelak bila akan ada pesta yang semacam itu lagi pada tahun berikutnya.
Menurut cerita orang tua-tua, dahulu beratus tahun yang lalu, orang-orang di kerajaan O’Epao itu sudah gemar menari kebalai. Sejak zaman dahulu bila bulan mulai tampak dan sinarnya melalui celah-celah daun kelapa sampai kebumi O’Epao, maka orang-orang keluar ketanah lapang akan menghibur diri, menari kebalai bersama-sama dengan kawan-kawannya. Mereka menari sepuas-puasnya untuk menghilangkan kesepiannya yang telah dialaminya selama bulan tidak menampakkan dirinya.
(Cerita Rakyat: Cerita Rakyat Rote – Hikayat “Lehamik” Manusia Raksasa Rote)
Pada suatu malam terang bulan, pada zaman dahulu, salah seorang penduduk kerajaan O’Epao ini pergi kekebun akan menyadap nira pohon lontarnya. Teman-teman yang lain sedang beramai-ramai menari kebalai di lapangan luas, sebab terang bulan. Tari kebalai ini boleh diikuti oleh siapa saja yang mau. Mereka sudah lama menari.
Lelaki yang memanjat pohon lontar sudah beberapa kali mengiris tangkai mayang lontar yang akan diambil niranya. Dari atas pohon itu dia dapat memandangi laut seluas-luasnya. Ketika ia memandang kelaut, tampaklah olehnya sebuah benda hitam terapung-apung dilaut.
Benda itu makin lama makin mendekati pantai dan akhirnya melata dan merayap di daratan. Benda itu kelihatan antara nyata dan tidak. Setelah diperhatikan dengan baik-baik oleh penyadap lontar itu nyatalah bahwa benda yang hitam itu adalah seekor buaya. Buaya itu melata terus menuju serumpun semak.
Pengiris lontar itu pun dari atas pohon memperhatikan terus segala gerak-gerik buaya itu. Sampai di rumpun semak itu ia berhenti, dan kulitnya di lepaskan. Dari dalam kulit itu muncullah seorang manusia. Manusia yang asalnya dari buaya ini tergesa-gesa berdiri dan kulit buaya yang sudah dilepaskan itu disembunyikan didalam semak-semak.
Kulit itu akan di masukinya lagi nanti, bila ia ingin menjadi buaya kembali. Ia terus berjalan meningalkan semak itu menuju ketempat orang-orang yang sedang menari “kebalai”. Penyadap lontar yang mengetahui semuanya ini lekas-lekas turun dari pohon lontarnya menuju kerumpun semak tempat kulit buaya itu disembunyikan. Kulit buaya itu diambil lalu dibawa pulang kerumahnya.
Kemudian ia pergi kelapangan tempat orang-orang yang sedang berkebalai untuk turut pula menari. Setelah sampai di lapangan itu, ia mencari orang yang berasal dari buaya itu. Tetapi dia tidak dapat membedakan orang yang berasal dari buaya ini dengan orang-orang biasa lainnya.
Orang yang berasal dari buaya ini sebetulnya sudah kembali kesemak belukar, tempat kulitnya disembunyikan tadi, sebab sudah larut malam dan juga sudah sangat leleh ia berkebalai dengan orang-orang biasa di O’Epao tersebut. Tetapi tatkala kulitnya tidak dapat dijumpainya lagi ditempatpersembunyiannya, maka dia kembali lagi ketempat orang-orang menari dan turut berkebalai. Karena kulitnya tidak ditemukan lagi, maka orang yang asalnya dari buaya ini terus menjadi manusia, tidak dapat kembali menjadi buaya lagi dan menjadi warga kerajaan O’Epao.
Setelah beberapa hari maka orang yang menemukan kulit buaya itu melaporkan kejadian yang dialaminya kepada kepala kampungnya. Sebagai bukti perkataannya, di-tunjukkanlah kulit buaya yang didapatnya itu. Sebentar saja rakyat seluruh kerajaan O’Epao sudah mendengar berita yang menggemparkan itu semuanya. Mereka mencari orang yang berasal dari buaya itu, tetapi tidak kunjung mendapatkannya.
Manusia buaya itu telah menyelinap menjadi rakyat biasa. Kemudian oleh orang-orang tua di kerajaan itu di putuskan untuk menyimpan kulit buaya itu di dalam rumah roh dan kulit buaya itu menjadi milik kerajaan, milik bersama. Rakyat kerajaan O’Epao sebetulnya ingin bersahabat dengan siapa saja, meskipun sahabat itu berasal dari buaya.
Tetapi rakyat yang ingin bersahabat itu dikecewakan dengan tidak ditemuinya manusia buaya, orang yang mau dijadikan sahabatnya itu. Meskipun tidak di temui mereka, orang itu diakuinya sebagai sahabat mereka. Untuk membuktikan bahwa rakyat O’Epao menganggap sahabat kepada manusia buaya itu, maka pada waktru-waktu tertentu diadakan pesta untuk menghormati sahabatnya yang hilang tak tentu rimbanya itu.
Betapa mesaranya persahabatan di Indonesia, dapat dilihat antara lain dikerajaan O’Epao ini. Sahabat yang belum pernah dilihat, sahabat yang belum tentu berperangai baik, sahabat yang mungkin mengacau kerajaan itu, tetapi tetap dihormati.
Mereka tentu sangat menyesal dengan hilangnya sahabat mereka. Penduduk yang berperangai Indonesia murni, belum banyak dicampuri kebohongan-kebohongan dari luar itu, pada waktu yang tertentu menghormati sahabatnya yang hilang itu seperti sekarang ini.
Yang berkebalai, berkebalai terus, yang menari foti masih juga menari, yang lainnya memukul gong, tambur, bitala dan menyanyi. Keanehan-keanehan yang demikian tidak hanya terdapat di kerajaan O’Epao saja, melainnkan pada semua kerajaan di pulau Rote (Roti). Keanehan-keanehan pada tiap kerajaan berlain-lainan. (Gyanto, l958, hal.90-91).
# Cerita Rakyat Rote – Legenda Rumah Roh Dan Manusia Buaya


