Cerita Rakyat Rote – Hikayat “Lehamik” Manusia Raksasa Rote

Cerita Rakyat Rote – Hikayat “Lehamik” Manusia Raksasa Rote

Cerita Rakyat
Cerita Rakyat – reinha.com

Dipulau Rote terdapat sebuah batu besar yang pernah diinjak oleh “Lehamik,” manusia raksasa. Bekas jari kakinya serba besar. Lebih-lebih bekas tumitnya. Bekas kakinya sangat cekung dan sangat besar sehingga pada musim hujan disitu banyak sekali air tertampung, tempat kerbau-kerbau hutan datang minum kesitu.

Lehamik ialah manusia raksasa, yang pernah hidup di Rote dan sekitarnya. Pada tahun berapa Lehamik itu hidup, tidak seorang pun lagi sekarang yang mengetahui. Juga tidak seorang pun dapat mengetahui dengan pasti bahwa benar-benar pernah hidup. Tetapi kini semua orang dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri adanya batu besar dengan bekas kaki raksasa yang seolah-olah tercetak diatasnya. Tidak seorangpun, akan mengatakan bahwa batu yang cekung itu adalah hasil pahatan manusia, maka orang percaya bahwa itu adalah bekas kaki Lehamik.

Tetapi siapa Lehamik itu tidak seorangpun mengetahuinya. Di Pulau Timor dan pulau Alor juga di dapati bekas kaki yang besar itu. Dengan ini, orang-orang makin yakin bahwa pada suatu ketika dahulu, Lehamik pernah hidup. Kalau kita selalu ingat bahwa tulang-belulang manusia purba itu kebanyakan lebih besar dari pada tulang-tulang kita sekarang ini, maka pernah hidupnya Lehamik dipulau Rote ini bukan suatu kemustahilan. Menurur ceritanya, kecuali bertubuh besar, Lehamik juga seorang yang sakti.

Di ceritakan bahwa manusia raksasa ini hidup di tengah-tengah orang-orang biasa yang kecil-kecil seperti kita sekarang ini. Jadi pada masa hidupnya Lehamik merupakan keanehan, karena besarnya. Karena besar dan saktinya ini, orang-orang Rote di zaman itu menjadi khawatir, kalau-kalau pada suatu ketika Lehamik akan menggunakan kesaktiannya dan kekuatannya yang sangat besar itu.

(Cerita Rakyat: Cerita Rakyat Rote – Kire Oli)

Tentu saja bila ini terjadi, rumah-rumah akan roboh di tendangnya dan orang-orang akan mati di-injak-injaknya. Karena kesaktiannya orang-orang tentu saja sia-sia jika melawannya, meskipun serentak bersama-sama semua orang. Walaupun Lehamik belum pernah marah dan merusak, namun kekhuatiran orang-orang makin bertambah-tambah.

Mereka berhimpun dan bermufakat akan membunuh Lehamik, orang yang tidak bersalah itu.dengan tipu muslihat. Mereka mengumpulkan uang dan uang itu diberikan kepada istri Lehamik. Istri Lehamik inilah yang di serahi tugas untuk membunuh suaminya. Istri Lehamik orang biasa dan bertubuh kecil.

Karena itu pembunuhannya harus dengan jalan tipu muslihat. Sayang setelah melihat jumlah uang yang begitu banyak, istri Lehamik itu sampai hati menerima tugas membunuh suaminya, yang sama sekali tidak berdosa itu. Pada suatu hari siasatnya di jalankan. Ia pura-pura mencarikan kutu pada kepala suaminya. Setelah lama maka suaminya tertidur. Ia sebagai istrinya tahu dimana letak kesaktian suaminya itu.

Di kepala Lehamik diantara rambutnya yang sangat lebat itu, tumbuh seberkas ilalang. Berkas ilalang inilah yang menyebabkan ia menjadi sakti. Setelah istrinya tahu bahwa Lehamik telah benar-benar tertidur, maka dengan sekuat tenaga di cabutinya ilalang itu.

Seketika itu juga Lehamik terkejut dan terbangun. Dia mengamuk kekiri dan kekanan, tetapi kesaktiannya sudah hilang dan kini dia buta. Meskipun demikian dia mengamuk terus menghancurkan apa-apa saja di depannya. Ia mengamuk terus sampai habis tenaganya sama sekali.

Akhirnya karena terlalu lemah ia jatuh tersungkur dan mati. Memang Lehamik pernah mengamuk, tetapi setelah orang berbuat jahat kepadanya, setelah ilalangnya dicabut orang. Dengan matinya Lehamik, kekuatiran orang-orang lain lenyap sama sekali. Lehamik mengamuk untuk pertama kalinya dan untuk yang terakhir kalinya. Setelah ia mati hari berjalan seperti biasa.

Sekali hujan sekali panas, sekali angin bertiup. Bekas kaki-kaki Lehamik lenyap disapu hujan, ditimpa panas. Debu-debu di terbangkan angin, sehingga gambaran bekas kakinya di tanah menjadi pudar. Angin kencang bertiup. Gambaran yang sudah pudar di embusnya dan hilang sama sekali.

Akhirnya lenyap dibawa angin. Untung sekali dia pernah menginjak tanah liat yang kemudian menjadi batu, sehingga sekarangpun kita masih menyaksikan bekas kaki Lehamik, manusia raksasa yang pernah hidup di pulau Rote, diatas batu yang pernah diinjaknya. (Gyanto, l958, hal.97-98).

# Cerita Rakyat Rote – Hikayat “Lehamik” Manusia Raksasa Rote

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.