Cerita Rakyat Rote – Sangguana

Cerita Rakyat Rote – Sangguana

Cerita Rakyat
Cerita Rakyat – reinha.com

Kerajaan Thie adalah salah satu diantara l9 (sembilan belas) Kerajaan di pulau Rote. Pada zaman dahulu pernah berperang melawan kerajaan Ndana. Kerajaan Ndana ini ialah sebuah pulau yang terletak disebelah selatan kerajaan Thie ini.

Peperangan itu terjadi karena suatu pembunuhan. Raja Ndana pada waktu itu bernama Takala’a. Permaisurinya berasal dari Thie. Permaisuri ini bersahabat baik dengan adik perempuan Takala’a yang bernama Loela’A.
Sangguana membalas dendam

Pada suatu hari, Nalesanggu seorang dari Thie pergi ke-pulau Ndana. Setelah sampai di Ndana ia dibunuh oleh raja Takalaa. Istri Nalesanggu di Thie sedang mengandung. Setelah bersalin anaknya dinamai Sangguana. Bertahun-tahun kemudian, Sangguana telah menjadi besar. Ia menjadi seorang pemuda yang bertubuh tegap dan tanpan. Pada suatu ketika bertanyalah ia kepada ibunya:

“Mama, ayah dimana?” “Ayahmu “Nalesanggu”, ketika ia pergi ke pulau Ndana bererapa tahun yang lalu telah mati dibunuh oleh Takalaa, raja Ndana.

Mendengar jawaban ibunya yang demikian itu, Sangguana kemudian mengambil parang dan parang itu diasahnya 3 hari 3 malam berturut-turut. Setelah selesai mengasah parang, maka dipotongnya beberapa pohon pisang. Sekali ayun, putus semuanya. Kemudian ia bertanya pada ibunya. “Andaikata orang yang di penggal dengan parang ini apakah akan putus atau tidak?” “Tentu saja putus.”

Lalu dipotongnya seberkas pelepah lontar, kemudian tanyanya kepada ibunya : “Kalau tulang orang, putus atau, tidak.” “Tentu putus juga karena parangmu sangat tajam.”

Kemudian ia menyerbu kepulau Ndana membawa seekor kerbau yang telah dicat merah, putih, hitam yang dikendarainnya sebagai pengganti perahu.

(Ceita Rakyat: Cerita Rakyat Belu – Mane Loro Dan Bete Dou)

Orang Ndana belum pernah melihat kerbau, lebih-lebih kerbau yang berwarna merah, putih, hitam itu. Setelah tiba di Ndana, oleh Sangguana kerbaunya itu disuruh berkubang didanau O’Ehendo. Penduduk kerajaan Ndana semua pergi melihat kerbau itu. Juga semua penjaga-penjaga benteng istana turut juga melihat kerbau itu.

Istana Ndana tertutup oleh benteng. Jalan masuk hanya sebuah dan sempit sekali. Orang-orang diistana, hanya raja, permaisuri dan Loela’A, saja, semuanya berlari ketempat kubangan melihat kerbau berwarna itu. Karena isi istana hanya tinggal 3 orang saja, maka Sangguana menyerbu kedalam. Raja Takala’a dibunuh. Permaisuri dan Loelaa disuruh berdiri dipintu gerbang.

Oleh Sangguana, istana itu dibakar hingga musna semuanya. Kemudian ia pergi kepintu gerbang menyusul permaisuri dan Loela’A. Melihat asap berkepul-kepul diistana itu, maka rakyat Ndana yang sedang asik melihat kerbau dikubangan itu, berlarian menuju istana akan memberikan pertolongan memadamkan api. Karena pintu gerbang istana sangat sempit, maka mereka masuk seorang demi seorang. Dibalik pintu gerbang itu, Sangguana menanti dengan parang tajam ditangannya, sambil memancung seorang demi seorang sampai semua rakyat Ndana habis musnah terbunuhnya.

Setelah istana menjadi abu, permaisuri, Loela’A, dan Sangguana mengendarai kerbau sebagai pengganti perahu kembali ke kerajaan Thie di pulau Rote. Sejak dari peristiwa itu pulau Ndana menjadi daerah Thie sampai sekarang. Kecuali Loela’A, tidak ada seorang Ndana-pun hidup. Loela’A kemudian kawin dengan pemuda Thie. Anak-anak mereka menamakan dirinya keturunan Ndana, meskipun yang berdarah Ndana adalah ibunya Loela’A. Sejak terjadinya peristiwa itu pulau Ndana tidak ditempati seorang jua pun. Beberapa tahun setelah peristiwa itu terjadi, maka anak raja Kerajaan Termanu meminang anak raja Thie. Siapa nama-nama mereka sudah tidak diketahui lagi dengan jelas.

Anak raja Thie menuntut “belis” (mas kawin). Belis yang dituntut anak raja Thie adalah apa saja yang hidup. Menurut ceritanya, anak raja Termanu dapat menyediakan “belis “ itu. Binatang-binatang yang dijadikan belis itu banyak yang disembelih untuk pestaperkawinan. Sepasang rusa yang diberikan juga oleh anak raja Termanu, di seberangkan kepulau Ndana yang kosong tanpa penghuni / penduduk itu.

Disana di lepaskan dan hidup seperti di hutan. Orang tidak usah khawatir rusa itu akan hilang. Sepasang rusa itu hidup dan berkembang biak makin lama makin banyak dan sekarang rusa itu sebagai penghuni pulau Ndana yang terutama. Rusa di Ndana banyak sekali. Siapa saja boleh memburunya tetapi harus dengan seijin raja Thie. Jika diberikan ijin, pemburu itu harus membayar dengan uang Belanda, 12 golden kekantor raja Thie.

# Cerita Rakyat Rote – Sangguana

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.