Cerita Rakyat Rote – Be Lana

Ada seorang ayah bersama istrinya, mereka mempunyai dua orang putra. Pada suatu hari yang kakak mengajak adiknya untuk menjerat ayam hutan. Ajakan kakaknya disetujui adiknya, oleh sebab itu segala sesuatu yang diperlukan disiapkan antara lain, lima utas tali dan sebuah pisau. Persiapan yang dikerjakan kedua anak tersebut sama sekali di luar pengetahuan orang tuanya, karena keinginan mereka tidak disetujui.
Setelah selesai persiapan, diam-diam keduanya meninggalkan rumah, berjalan menuju tempat yang dikehendaki. Oleh karena tempat yang dituju agak jauh, sedang waktu sudah mejelang petang, maka langkahnya dipercepat. Setelah melewati sebuah gunung sampailah mereka disuatu tempat yang mempunyai semak-belukar. Di situ banyak terdapat ayam hutan. Dengan cepat pula mereka meneliti tempat-tempat yang biasa dilalui oleh ayam hutan, dan disitulah mereka mulai memasang jerat-jeratnya.
Oleh karena sudah biasa dalam hal ini, maka dalam waktu singkat pekerjaan memasang jerat itu selesai. Kemudian kembalilah mereka. Setibanya di rumah, dan selama di rumah, sekali pun disibuki dengan beberapa tugas, namun sama sekali tidak menghalangi pikiran mereka dari jerat-jerat yang dipasang di sebelah gunung.
Sepanjang malam keduanya selalu membayangkan jerat-jerat mereka dan selalu mengharapkan agar cepat siang, supaya ayam-ayam hutan mulai mencari makannya, terutama di tempat-tempat di mana jerat-jerat mereka dipasang.
Demikianlah keadaan suasana pikiran kedua anak tersebut hingga tiba saatnya untuk pergi menyaksikannya.
Setelah hari menjadi siang, sekalipun disibuki dengan tugas di rumah, pikiran mereka selalu membayangkan apa nasip mereka, apakah sial atau untung, sambil menanti saat petang hari untuk keduanya pergi menyaksikan jerat-jerat tersebut. Setelah hari menjelang petang, keduanya terus saja menghilang dari rumah, tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya.
Keduanya mulai berjalan dengan cepat menuju tempat tersebut, dan berhasil jerat-jerat mereka sesuai apa yang mereka harapkan.
(Cerita Rakayat: Cerita Rakyat Rote – Sangguana)
Namun ternyata jerat adiknya berhasil menjerat seekor ayam jantan merah, sedang jerat kakaknya berhasil menjerat seekor burung tekukur. Suasana senang meliputi keduanya, namun karena perasaan yang lebih besar adalah adiknya, sedangkan kakaknya merasa sedikit kecewa karena apa yang diharapkan tidak berhasil.
Maka timbullah iri hatinya terhadap adiknya.. Namun sebelum ia mencetuskan iri hatinya terlebih dahulu ia membujuk adiknya agar ayam ditukar dengan burung tekukur. Mendengar bujukan pertukaran ini, berkatalah adiknya, “Saya tidak mau, sebab jerat saya yang mendapat ayam ini dan sayalah yang harus memilikinya, sedang jerat kakaklah yang mendapat burung tekukur jadi burung tekukurlah yang menjadi milikmu.”
Namun demikian kakaknya terus saja membujuk adiknya agar ayam ditukar dengan tekukur tetapi adiknya tetap pada penderiannya semula.
Oleh sebab itu kakaknya lari meninggalkan adiknya, sehingga adiknya tersesat di jalan. Karena hari telah gelap, terpaksa ia mencari jalan sendiri dan akhirnya ia tiba pada sebuah rumah di tengah hutan. Penghuni dari rumah itu adalah seorang nenek tua bernama Be Lana.
Mendengar isak tangis anak kecil, Be Lana keluar dari rumahnya untuk melihat siapa sebenarnya yang menangis itu. Ternyata yang dilihatnya adalah seorang anak kecil yang sedang membawa seekor ayam jantan merah.
Be Lana merasa berbangga karena tidak disangka-sangka dan tidak bersusuah payah mencari makanan yang enak, tetapi makanan yang enak tersebut telah datang sendiri, yaitu anak kecil tersebut.
Adapun makanan yang biasa dimakan Be Lana adalah daging manusia terutama daging anak kecil. Dengan bujukan yang halus Be Lana memanggil anak itu masuk kedalam rumahnya karena hari telah gelap. Anak tersebut tangisnya makin menjadi-jadi karena pikirannya bahwa pasti yang membujuknya adalah Be Lana pemakan daging manusia, seperti yang biasa diceriterakan oleh orang tuanya. Namun tak ada jalan lain yang harus ditempuhnya melainkan menyerah pada nasibnya.
Akhirnya anak itu masuk bersama Be Lana ke dalam rumah tersebut. Be Lana mendekati anak itu membujuknya agar tidur dan makan di situ. Nanti besok pagi akan diantar kembali kerumahnya.
Untuk memikat hati anak tersebut Be Lana memasak makanan yang enak-enak untuk diberikan kepada anak tersebut disamping itu ia terus membujuk anak itu dengan kata-kata halus, pada hal dalam hatinya merasa senang karena anak tersebut merupakan makanan yang paling enak baginya.
Setelah selesai diberi makan, maka Be Lana menyuruh anak tersebut masuk ke dalam sebuah kamar yang telah disiapkannya agar anak tersebut dapat tidur dan Be Lana mengikat pintu kamar itu dari luar.
Sepanjang malam anak itu tak dapat tidur, karena merasa takut karena ia pasti dibunuh oleh Be Lana dijadikan makanan enak baginya dan di samping itu ia berusaha mencari jalan agar dapat keluar dari rumah tersebut dan melarikan diri. Kesusahan anak itu diketahui oleh ayam hutan yang dibawanya itu. Oleh sebab itu ayam tersebut berkata kepada anak itu, bahwa janganlah dia takut sebab dia akan menolongnya asal jangan dibunuh. Mendengar kata-kata dari ayam tersebut, ia berpikir tak mungkin ayam ini dapat menolongnya.
Namun ayam itu terus berkata kepadanya bahwa jangan takut dan jangan menangis, yakinlah bahwa saya akan menolongmu.
Menjelang siang anak tersebut dikejutkan karena suara dari Be Lana yang sedang menggigau, sambil berkata, “Saya telah memberi engkau makan yang enak, nanti besok pagi saya akan membunuhmu dan dagingmu kujadikan makanan yang enak”. Mendengar kata-kata tersebut perasaan takut dan sedih anak itu menjadi-jadi. Anak itu mulai menangis dengan sedihnya mengenang nasipnya yang malang itu.
Tetapi ayam jantannya selalu saja berkata : “Jangan engkau takut dan menangis, sebab saya akan menolongmu”. Setelah menjelang pagi, anak itu mendengar Be Lana bangun dari tidurnya dan mulai mengasah pisau dan parangnya.
Tidak lama kemudian Be Lana membuka pintu kamar tersebut dan memindahkannya dari kamar itu ke atas loteng rumahnya. Setelah itu Be Lana menyiapkan serapan pagi untuk anak tersebut, sambil merencanakan agar kebunnya hari itu dapat dibersihkan oleh orang-orang kampung di sekitarnya. Sesudah Be Lana membereskan semua pekerjaannya di rumah, maka Be Lana menyampaikan maksudnya kepada orang-orang di sekitarnya agar kebunnya hari itu dapat dibersihkan.
Maka orang-orang tersebut mulai membersihkan kebun itu dengan harapan bahwa anak tersebut akan dibunuh dan dijadikan makanan yang enak. Sementara itu Be Lana mulai sibuk dengan memasak lebih dahulu makanan yang lain. Anak kecil yang berada di atas loteng makin merasa sedih mengenang nasibnya yang malang itu, tetapi ayam jantan yang merah itu berkata kepadanya : “Ambillah pisaumu dan lubangi atap rumah ini”.
Anak itu mulai mengikuti perintah ayamnya.Dengan cepat anak itu mulai melubangi atap itu, setelah selesai anak itu keluar bersama ayamnya dan duduk diatas atap rumah tersebut. Lalu ayam jantan itu berkata kepadanya, “Jika Be Lana hendak menangkapmu maka engkau memegang leherku erat-erat agar saya dapat menerbangkanmu dari tempat ini”. Anak itu menjawab, “Baiklah, terima kasih, saya merasa sangat bersyukur atas bantuanmu”.
Setelah menjelang siang Be Lana datang hendak mengambil anak itu akan membunuhnya agar dagingnya dapat dimasak untuk orang-orang yang mengerjakan kebunnya itu. Setelah dibukanya pintu loteng Be Lana sangat terkejut dan disertai kata-kata yang kotor karena ternyata apa yang disangka-sangka tidak terjadi, ternyata harus terjadi, karena anak tersebut telah menghilang dari loteng dan dilihatnya hanya sebuh lubang di atas atap rumahnya. Segera Be Lana turun dari loteng dan langsung berlari ke luar rumah untuk melihat di sekitar rumahnya kalau-kalau anak itu masih disekitar rumah tersebut. Ternyata anak itu berada di atas atap rumah bersama ayam jantannya.
Setelah Be Lana melihat anak itu di atas atap rumahnya, ia merasa bersyukur dan dengan hati yang girang ia langsung naik ke atas atap rumah untuk menangkap anak itu. Sementara itu, ayam jantan itu berkata, “Peganglah leherku erat-erat karena kita sekarang hendak terbang”.
Pada saat Be Lana telah dekat, ayam jantan itu pun berkokok satu kali dan langsung terbang bersama anak itu. Dengan merasa sangat menyesal dan dengan hati yang gerang, Be Lana mengejar ayam dan anak itu sambil berteriak-teriak minta bantuan dari orang-orang yang bekerja di kebunnya itu. Namun usaha pengejaran itu sia-sia belaka, karena setiap kali mereka berusaha menaiki pohon yang dihinggapi ayam jantan itu, tetapi ayam jantan bersama anak itu diterbangkan ke pohon yang lain.
Akhirnya mereka menjadi putus asa dan kembali kerumah Be Lana. Orang-orang itu sangat marah kepada Be Lana karena mereka harus makan tanpa ada lauk, tetapi kebun dari Be Lana telah selesai dibersihkan. Oleh sebab itu mereka beramai-ramai menangkap Be Lana lalu dibunuhnya. Setelah Be Lana meninggal dunia mereka semua merasa lega walaupun hari itu mereka makan tanpa lauk.
Sementara itu ayam jantan tersebut terus terbang mencari rumah dari anak yang malang itu. Setelah beberapa kali terbang berputar-putar diatas kampung anak itu, tak lama anak itu mengenal rumahnya dan ayam jantan itu pun merendah dan hinggap di atas sebatang pohon dekat rumah anak itu.
Kini mereka melepaskan lelah sambil mengenang nasib malang yang lalu dan nasib untung yang mereka capai. Sedang keduanya bercakap-cakap di atas pohon, terdengarlah suara percakapan mereka oleh kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya ke luar dari rumah mereka dan melihat keatas pohon ternyata anaknya yang hilang itu telah kembali bersama seekor ayam jantan merah.
Dengan rasa girang kedua orang tuanya menurunkan anaknya bersama ayam jantan itu dari atas pohon, sambil mencium anaknya yang dikira bahwa anaknya itu telah dimakan oleh Be Lana. Setelah mereka mengantar masuk anaknya dan ayam jantan itu ke dalam rumah, maka anak itu pun mulai menceriterakan peristiwa yang telah dialaminya itu.
Kedua orang tuanya merasa gembira dan mengucap terima kasih kepada ayam jantan itu karena telah menolong meluputkan/melepaskan anaknya dari genggaman Be Lana.
Ayam jantan merah yang telah berjasa itu dipeliharanya baik-baik. Dan kedua anak mereka dipanggil dan diberi nasehat agar kerukunan hidup berkakak-adik harus berkasih sayang satu sama lainnya, dan tidak boleh berjalan kemana-mana jika tidak meminta ijin terlebih dahulu kepada orang tuamu. (Ceritera rakyat daerah Nusa Tenggara Timur, Dep.Dik.Bud, Jakarta,l982, hal, 61-65).
# Cerita Rakyat Rote – Be Lana


