Fahri Hamzah Khawatir Jika Ketidakbebasan Lebih Diinginkan

REINHA.com – Bicara tentang kebebasan, kebebasan berbicara, mengkritik dan seterusnya. Fahri Hamzah Wakil Ketua Umum DPR RI mengungkap kekhawatirannya. Kekhawatiran dimana sebetulnya ketidakbebasan lebih diinginkan, kekhawatiran dimana ada kesenangan saat hidup seperti ada dalam sangkar.
“Tapi entahlah, karena saya juga khawatir, kita sebetulnya lebih gandrung dengan ketidakbebasan, kita senang hidup dalam sangkar. Padahal burung pun mengeluh. Kecuali burung beo,” tulis Fahri dalam akun Twitternya Kamis (31/05).
Sebelumnya Fahri Hamzah menjawab pertanyaan netizen yang mengatakan kritik harus sesuai dengan apa yang ibu pesankan, mengkritik dengan cara yang baik. Jika kritik tidak dengan cara yang baik bagaimana mungkin orang yang mengkritik bisa menjadi baik?.
(Baca juga: Fahri Hamzah Komentari Foto Mesra Dirinya Dengan Presiden Jokowi)
Fahri pun memberi jawaban dengan mengatakan, “Jangan beri beban cara pada kritik. Bolehlah sebagai teori tapi tidak boleh untuk menolak substansinya. Bagi negara, cara jangan diadili. Lihat substansinya. Makanya kebebasan itu jangan terlalu banyak syaratnya. Jika syarat penting jadikan dia hukum.
Fahri pun kemudian mengomentari vonis bebas Alfian Tanjung. Fahri mengatakan kemenangan tersebut menjadi tonggak berakhirnya kriminalisasi kepada ceramah dan opini. Opini harusnya dijawab opini, data dilawan pakai data. Menjadi bahaya apabila semua dilawan pakai polisi dan aparat negara.
Lebih lanjut lagi Fahri Hamzah mengatakan, selama ini yang selalu suka ceramah “ngawur” itu pejabat. Bukan Ustadz dan Ulama. Fahri melanjutkan “Kenapa kalau presiden “ngawur” ceramahnya gak diadili? Atau menteri, atau ketua umum partai? atau yang lain yang sudah dilapor tapi bebas? Kenapa yang dituduh hate Speech cuman ulama?”
Situasi seperti diatas menurut Fahri terjadi karena adanya kegalauan dan kegamangan pimpinan dalam mengadapi demokrasi dan kebebasan.
(Baca juga: Datangi Wihara, Anies Baswedan Kejutkan Umat Buddha Yang Rayakan Waisak)
“Percayalah, yang sedang terjadi ini adalah kegalauan dan kegamangan pemimpin menghadapi demokrasi dan kebebasan. Gak tahu caranya! Serahkan ke orang yang ngerti cara hadapi demokrasi dan kebebasan rakyat. Gampang kok…”
Unsur kejahatan dalam kata-kata pada dasarnya sulit di-kriminalisasi. Sebab itu bisa menabrak kebebasan berbicara yang sedang tumbuh. Kita tahu batas kata-kata, tapi Fahri mengatakan dirinya setuju jika penyerang agama, SARA dan semua yang suci di-kriminalisasi.
Selain itu Fahri Hamzah juga mengungkap kesedihannya terhadap kasus yang sedang dihadapi oleh Ahmad Dhani. Dimana Ahmad Dhani diadili karena tulisannya di Twitter “pendukung penista agama layak diludahi”.
Tulisan itu menurut Fahri memang kurang sopan. Tapi penista agama memang kriminal. Sama dengan bilang,” pendukung koruptor atau teroris layak diludahi”. Apa yg salah?.
Oleh karena itu Fahri mengatakan bahwa dirinya sepakat dengan apa yang sudah di-legalisasi, namun jika semuanya dianggap ujaran kebencian maka bisa saja mempersoalkan UU yang ada secara ilmiah, nanti dianggap kebencian. Padahal itulah cara hidup berkembang.
Kita harus bisa mencari cara mencegah kebencian menjadi wabah tapi pada saat yang sama jangan biarkan kebebasan orang untuk berbicara dan berpendapat menghadapi tembok besar. Sebab kebencian dan belenggu sama-sama jahatnya ungkap Fahri.
# Fahri Hamzah Khawatir Jika Ketidakbebasan Lebih Diinginkan


