Resmi Ditutup, Ini Kritik Fadli Zon Untuk Pertemuan IMF-Bank Dunia 2018

REINHA.com – Pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia telah resmi ditutup pada hari Minggu, 14 Oktober 2018. Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon memberikan beberapa catatan kritis terhadap pertemuan yang diselenggarakan di Bali tersebut.
Melalui akun Twitter miliknya, Fadli Zon mengatakan bahwa pertemuan tersebut tidak memiliki banyak manfaat bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan informasi dari Majalah Tempo yang dibaca dirinya, pemerintah alokasikan Rp 2 Triliun untuk menambah lahan parkir VIP di Bandara Ngurah Rai untuk IMF dan World Bank, dimana menurut Fadli Zon hal tersebut mubazir karena utilisasinya pasca-acara sangat kecil.
(Baca juga: Jokowi: Dari Oktober Hingga Desember 2018 Akan Beroperasi 13 Ruas Jalan Tol Baru)
Fadli Zon mempertanyakan kenapa pesawat-pesawat pribadi milik tamu tidak diparkirkan dibandara terdekat lainnya, dimana pada saat bersamaan anggaran APBN tahun 2018 untuk Badan Informasi Geospasial memelihara tide sensor, serta BMKG memelihara tsunami sensor, masing-masing membutuhkan biaya kurang dari Rp1 triliun.
Negara gagal menempatkan skala prioritas ditengah anggaran negara yang terbatas. Dimana acara IMF-WB tidak memiliki efek positif bagi perekonomian, Rupiah tetap melemah, kata Fadli Zon.
Fadli Zon pun mengingatkan bahwa di masa pemerintahan Jokowi, nilai tukar rupiah telah mencapai level terendah dalam dua puluh tahun terakhir.
Selain itu, Fadli Zon kembali mengomentari pidato Jokowi yang mengatakan, “Kami bergantung pada Bapak/Ibu semuanya, para pembuat kebijakan moneter dan fiskal dunia untuk menjaga komitmen kerja sama global,” dimana Fadli Zon menilai hal tersebut sama sekali tak menunjukkan wibawa.
Sebagai tuan rumah, Indonesia mestinya bisa menyampaikan masukan yang signifikan ataupun kritik yang berarti terhadap IMF. Sebagai pemimpin yang memikul kepentingan negara berkembang, pidato Presiden terlalu asyik dengan metafor dan deskripsi, namun gagal menyampaikan resolusi.
Sebagai tuan rumah, Indonesia mestinya aktif menggalang dukungan agar negara-negara yang kepentingannya serupa dengan Indonesia bisa menyampaikan pandangan yang senada di forum tahunan tersebut, sehingga pidato Presiden tak jatuh jadi memelas sebagaimana diwakili pernyataan tadi.
Fadi Zon melanjutkan dengan mengatakan bahwa presiden mengambil analogi ‘Games of Thrones’ hanya untuk mengambil simpati pemilih muda di tanah air, tapi apakah analogi itu tepat disampaikan di hadapan pemimpin-pemimpin dunia? Menurut Fadli Zon hal tersebut tidak tepat.
Metafor itu tak akan mengesankan mereka, dan hanya akan diingat sebagai anekdot saja. Jika Presiden sendiri menunjukkan lemahnya ekonomi Indonesia di tengah tantangan ekonomi global saat ini, lalu apa yang patut diapresiasi dari pidato tersebut? Kata Fadli Zon.
Fadli Zon pun mengungkap alasannya kenapa mengatakan pidato presiden Jokowi hanyalah bersifat lip service, tak punya substansi penting bagi bangsa Indonesia di hadapan IMF.
(Baca juga: Fadli Zon Sebut Pidato Jokowi Inferior Karena Kepercayaan Diri Yang Terkikis)
1. Pidato tersebut menyiratkan kecemasan Indonesia terhadap situasi politik global. Sikap ini sangat kontradiktif dengan klaim pemerintah sehari-hari bahwa situasi saat ini sedang baik-baik saja.
Defisit transaksi berjalan yang terjadi terus-menerus dianggap baik-baik saja, depresiasi rupiah yang mencatat rekor terendah sejak Reformasi juga dianggap biasa-biasa saja, pendek kata pemerintah menyangkal semua masalah ekonomi yang dihadapi saat ini.
Anehnya, meski kepada publik dalam negeri pemerintah selalu menyangkal masalah-masalah yang sedang dihadapi, di depan forum internasional presiden justru memelas-melas atas situasi saat ini. Semua itu menunjukkan klaim pemerintah atas situasi saat ini memang tidak kredibel.
Sejak rupiah menembus angka Rp14.000 per US dollar, kami sudah mengingatkan agar pemerintah menghentikan drama rupiah baik-baik saja. Kebobrokan ekonomi jangan ditutup-tutupi, dan masalah-masalah yang riil jangan disangkal.
Sekarang, ketika rupiah semakin terpuruk dan tak dapat ditutup-tutupi lagi, pemerintah justru mengeluhkannya kepada IMF.
2. Karena kita tuan rumah, seharusnya kritik terhadap IMF yang pernah disampaikan presiden Jokowi di hadapan negara-negara Asia-Afrika pada tahun 2015, pada momen peringatan 50 Tahun Konferensi Asia-Afrika, dapat disampaikan langsung dalam forum di Bali kemarin.
Fadli Zon pun mengatakan bahwa mengkritik IMF di depan petingginya bukanlah sebuah tindakan yang kurang ajar. Itu justru menunjukan bahwa kita punya wibawa, sekaligus mempertegas kritik yang perna dilontarkan presiden tahun 2015 bukanlah hanya sebagai lip service untuk mendapatkan tepuk tangan.
Isu ketidakadilan global, ketimpangan, serta dominasi negara-negara besar dalam arsitektur keuangan global mestinya kembali disuarakan. Jika itu yang kemarin disampaikan, pidato Presiden patut kita apresiasi, kata Fadli Zon.
# Resmi Ditutup, Ini Kritik Fadli Zon Untuk Pertemuan IMF-Bank Dunia 2018


