Fahira Idris: Debat Perdana Mengungkung Paslon

REINHA.com – Keyakinan KPU dan kedua tim sukses, bahwa debat perdana Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden akan memukau rakyat Indonesia karena keempat kandidat sudah mendapatkan kisi-kisi pertanyaan, ternyata sangat jauh dari harapan.
Hal tersebut dikatakan Fahira Idris melalui akun Twitter miliknya.
“Sebagian masyarakat kecewa, karena semua sisi gelaran debat baik substansi maupun teknis bukan hanya menenggelamkan gagasan para kandidat tetapi juga sebagai sebuah ‘pertunjukan’ kurang dinamis, kaku, dan tidak mengalir seperti layaknya forum debat dan adu gagasan” kata Fahira.
(Baca juga: Fahri Hamzah Kecewa Dengan Debat Pertama Pilpres 2019)
Lebih lanjut lagi Fahira mengatakan konsep dan format debat seperti mengungkung kedua paslon sehingga gagasan-gagasan mereka terkait hukum, HAM, korupsi, dan terorisme tidak diucapkan secara konkret.
“Keempat kandidat seperti terpaku pada daftar pertanyaan dan jawaban yang sudah memenuhi pikiran mereka. Gagasan mereka semakin tenggalam, saat pertanyaan para penelis tidak tajam dan sangat normatif ditambah debat antar paslon yang banyak keluar konteks dan tema” ungkap Fahira Idris.
Menurut Fahira, Jika KPU tegas dan berani mengubah konsep dan formast debat, mulai dari tidak membocorkan daftar pertanyaan, mengarahkan para penelis agar menyusun pertanyaan yang lebih tajam sesuai isu krusial yang sedang dihadapi rakyat, dan memberi waktu lebih longgar untuk paslon saling debat, gelaran debat selanjutnya bisa lebih baik dan menjadi pendidikan bagi rakyat. Namun jika tidak, maka jangan berharap partisipasi dan antusiasme pemilih akan naik.
Debat pilpres adalah salah satu referensi utama bagi sebagian besar rakyat Indonesia sebelum menentukan pilihannya dalam bilik suara. Konsep dan format debat pilpres yang berhasil ‘memaksa’ capres/cawapres mengeluarkan gagasan besar dan mampu menyakini rakyat akan gagasannya, adalah titik awal keberhasilan gelaran Pilpres 2019.
“Namun, jika debat yang disajikan seperti debat perdana kemarin, saya khawatir banyak pemilih yang tidak tergerak hatinya untuk memilih pada 17 April nanti. Kondisi seperti ini akan jadi kerugian besar bagi bangsa ini” kata Fahira Idris.
Oleh karena itu, KPU harus mengevaluasi total debat perdana pilpres dan segera memformulasikan format dan konsep baru. Debat perdana ini juga, menjadi pelajaran bagi kedua tim sukses bahwa performa kandidat mereka tidak maksimal akibat format dan konsep debat yang begitu mengungkung dan memagari paslon mengungkapkan gagasan besarnya.
Fahira pun memberikan pesan untuk KPU dan kedua tim sukses, agar jangan terlalu khawatir akan kemampuan kedua paslon. Dimana mereka adalah putra terbaik bangsa, punya kemampuan dan wawasan yang baik.
“Biarkan mereka berdebat dan adu gagasan sehingga rakyat punya landasan kuat sebelum mnentukan pilihannya” kata Fahira.
Fahira juga berharap pada debat kedua nanti, terjadi perubahan teknis debat agar lebih kondusif. Tidak perlu terlalu banyak orang menonton di dalam ruang debat. Cukup paslon, beberapa tim sukses, tokoh-tokoh bangsa, ditambah perwakilan masyarakat.
“Cukup paslon, beberapa tim sukses, tokoh-tokoh bangsa, ditambah perwakilan masyarakat. Debat kemarin terlalu ‘ramai’ baik orang maupun suara pendukung. KPU bisa sediakan layar besar diluar ruangan debat untuk tim sukses dan pendukungnya nonton bersama” kata Fahira menutup tweetnya.
Respon Komisi Pemilihan Umum
Menyikapi masukan dari masyarakat Komisi Pemilihan Umum (KPU) memastikan pada debat pilpres kedua, semua pertanyaan yang dibuat oleh panelis tidak akan dibocorkan kepada pasangan calon.
“KPU melakukan evaluasi menyeluruh terkait format dan mekanisme debat berikutnya. Salah satu yang dievaluasi adalah terkait isu pemberitahuan abstraksi kisi-kisi soal kepada kandidat,” kata Komisioner KPU Wahyu Setiawan kepada wartawan, Sabtu (19/1).
“Sehingga untuk debat berikutnya abstraksi soal yang dibuat panelis tidak diberitahukan kepada kandidat,” imbuhnya.
Dikutip dari kumparan, Wahyu mengatakan, keputusan KPU untuk tidak membocorkan soal yang dibuat panelis dalam debat selanjutnya merupakan sikap KPU dalam mengakomodir masukan publik.
“Sebagai pelayan publik dalam bidang kepemiluan, KPU RI terbuka terhadap kritik dan saran dari masyarakat,” tutup Wahyu.
Debat pilpres kedua rencananya akan digelar pada Minggu, 17 Februari mendatang dengan tema energi, pangan, sumber daya alam, lingkungan hidup, dan infrastruktur. Debat pilpres kedua akan digelar di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta.
# Fahira Idris: Debat Perdana Mengungkung Paslon


