
Tinggi Jam Kerja, 1 Dari 5 Karyawan Jepang Berisiko Kematian
REINHA.com – Sebuah survei yang dilakukan oleh pemerintah Jepang baru-baru ini telah menunjukkan fakta yang mengejutkan bahwa setiap satu dari lima karyawan di negara tersebut berisiko mengalami kematian akibat terlalu banyak bekerja.
Survei ini adalah bagian dari penelitian pertama dari apa yang dikenal sebagai ‘Karoshi’ di Jepang. Karoshi secara harfiah diterjemahkan sebagai ‘kematian yang disebabkan karena terlalu banyak pekerjaan’.
Penelitian yang telah disahkan oleh kabinet perdana menteri Jepang, Shinzo Abe, diterbitkan pada hari Jumat lalu. Penelitian menargetkan sekitar 10.000 perusahaan dan 20.000 pekerja, dimana sebanyak 1.743 perusahaan dan 19.583 pekerja merespon lebih dari dua bulan, antara Desember 2015 dan Januari 2016.
Jepang dikenal dengan budaya kerja yang ketat dan menempatkan jam bekerja yang panjang. Ratusan kematian pekerja terjadi setiap tahun, yang sebagian besar disebabkan oleh stroke, serangan jantung, atau bunuh diri.
Bunuh diri merupakan masalah sangat akut. Menurut statistik Badan Kepolisian Nasional dikutip oleh Japan Times, 2159 orang mengambil kehidupan mereka sendiri sebagian besar dikarenakan masalah yang terkait dengan pekerjaan pada tahun 2015.
Penelitian, yang memberikan rincian tentang tingginya jam kerja di Jepang, menemukan bahwa sekitar 21 persen dari karyawan Jepang bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Sementara di Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis hanya 10 hingga 15 persen yang bekerja selama itu.
Selain itu, 22,7 persen perusahaan melaporkan bahwa beberapa pekerja mereka dimasukkan ke dalam lebih dari 80 jam lembur per bulan. Ekstra 80 jam sama dengan sekitar empat jam per hari. Hal ini yang membuat risiko kematian akibat terlalu banyak bekerja meningkat secara dramatis. (rt/rsn-reinha)


