
Perangi Terorisme, Raja Salman Pantau Tafsiran Hadis Agar Tak Disalahgunakan
REINHA.com – Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud, atau yang akrab disebut Raja Salman, mengeluarkan sebuah dekrit pada hari Selasa, 18 Oktober 2017. Dekrit tersebut berisi tentang rencana Raja Salman untuk memerangi terorisme dengan cara memantau tafsiran dari teks-teks palsu Nabi Muhammad.
“Arab Saudi akan memantau interpretasi (tafsiran) kata-kata Nabi Muhammad untuk melawan ekstremisme” ucap Raja Salman dalam dekrit tersebut.
Raja Salman akan mendirikan ‘King Salman Complex’ di Madinah, yang dengan mengikutsertakan dewan ahli hadis dunia yang ditunjuk oleh kerajaan.
Di komplek tersebut, para ilmuwan elit akan memantau dan memeriksa ajaran agama Islam, kemudian menghilangkan teks-teks palsu yang bersifat ekstrem dan yang bertentangan dengan ajaran Islam, serta teks-teks yang membenarkan dilakukannya kejahatan, pembunuhan dan tindakan teroris.
Hadis adalah kata-kata dan tindakan Nabi Muhammad, seperti yang diceritakan oleh orang lain, dan merupakan teks Islam kedua setelah Alquran. Keduanya digunakan sebagai pedoman bagaimana umat Islam harus menjalani hidup mereka.
Ada ribuan hadis yang bertentangan dengan Alquran dan hadis lainnya. ISIS dan kelompok ekstremis lainnya menggunakan hadis yang bertentangan tersebut untuk membenarkan dan mendorong tindak kekerasan.
Direktur Universitas Islam Madinah, Dr. Hatem bin Hassan Al-Marzouqi, memberikan persetujuannya atas komplek tersebut, dan menekankan pentingnya menghilangkan kotoran dari ajaran modern Hadis, serta menghentikan usaha untuk mendistorsi kata-katanya kepada menghina Islam dan Muslim.
Langkah tersebut dilihat sebagai upaya Kerajaan Wahabi yang konservatif untuk lebih jauh menjauhkan diri dari persepsi bahwa mereka mendukung terorisme, yang dipicu menyusul serangan 11 September 2001 di AS, di mana 15 dari 19 pembajak pesawat tersebut adalah orang Saudi.
Dalam data yang dibocorkan oleh WikiLeaks, Departemen Luar Negeri AS menuduh Arab Saudi menjadi sumber pendanaan untuk kelompok teroris Sunni di seluruh dunia.
Arab Saudi telah lama mempromosikan interpretasinya tentang Wahabi Islam di seluruh dunia, melalui pendanaan sekolah dan masjid. Sebuah laporan tahun 2017 oleh Pusat Tanggapan terhadap Radikalisasi dan Terorisme menemukan bahwa, dalam 30 tahun terakhir, Kerajaan telah menghabiskan £ 67 miliar untuk memerangi terorisme dengan cara tersebut. (rsn-reinha)


