Optimalisasi Ketersediaan Bibit Ternak, Pemda Flotim Kembangkan Peternakan Skala Besar

Optimalisasi Ketersediaan Bibit Ternak, Pemda Flotim Kembangkan Peternakan Skala Besar

@REINHA.com

REINHA.com – Kucuran anggaran dalam APBD Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk usaha peternakan sapi dan ayam petelur tahun anggaran 2025 dan 2026 dengan totalan Rp.13.485.064.305 belakangan ini terus menjadi sorotan publik.

Fakta ramai perdebatan publik soal peternakan skala besar yang dikembangkan pemerintahan Bupati Antonius Doni Dihen akhirnya di jawab oleh Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas (Kadis) Perkebunan dan peternakan, Drh Vian Tokan yang di temui media diruang kerjanya.

Kepada media ini ( Rabu, 4/6/2026 ) Plt. Kadis Disbunter Flores timur, Drh.Vian Tokan menjelaskan status pengelolaan usaha peternakan yang ramai diperbincangkan publik belakangan ini.

Pengelolaan usaha peternakan sapi dan ayam petelur ini kata Drh, Vian Tokan, pada dasarnya dikelola oleh Pemda Flotim dalam hal ini Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunter) sebagai lembaga teknis.

Tujuan usaha peternakan ini jelas, untuk kepentingan peningkatan mutu genetika dengan usaha pembibitan.

Secara regulasi kata Plt. Disbunter, Drh. Vian Tokan, pengembangbiakan ternak untuk menghasilkan bibit ternak yang di lakukan oleh Pemda Flotim sudah sesuai syarat regulasi.

“Berarti kegiatan pengembangan usaha peternakan dengan tujuan menghasilkan bibit sudah sesuai ketentuan dan tentu tidak melanggar Undang – undang” tegas Vian Tokan.

Sesuai dengan ketentuan lanjut Drh. Vian Tokan, dalam arahan Undang – Undang nomor 18 tahun 2009 tentang peternakan dan kesehatan hewan atau perubahannya pada Undang – undang nomor 41 tahun 2014, jelas memberi penegasan terhadap pemerintah untuk bisa memproduksi bibit.

Penegasan lanjutan soal kewenangan pemerintah daerah untuk pengembangan ternak untuk tujuan pembibitan juga diperjelas dalam Peraturan Pemerintah nomor 48 tahun 2011 tentang sumber daya genetik dan pembibitan ternak. Pada regulasi ini, jelas lebih memberi ketegasan dan sekaligus mewajibkan Pemerintah daerah untuk dapat memproduksi bibit ternak. Dengan catatan, jika belum ada perusahaan atau peternak di daerah ini yang memproduksi bibit ternak.

Dua regulasi ini sebut Drh.Vian Tokan, menjadi landasan Pemerintah daerah (Pemda) Flotim dalam melakukan budidaya pemeliharaan ternak untuk kepentingan produksi bibit.

Terkait dua intem kegiatan baik budidaya sapi maupun ayam petelur pada dasarnya di fokuskan untuk pembibitan. Menurut Drh.Vian Tokan, untuk peternakan sapi , pada bulan Juli hingga Oktober 2026, ada sejumlah 700 ekor sapi Bali ( Bos Javanicus Domisticus ) yang bakal tiba di Flotim dengan perincian 300 ekor pejantan dan 400 ekor betina.

“Semuanya di fokuskan untuk produksi bibit sapi unggul dengan sistem perkawinan alamiah ” ujar Vian Tokan.

Soal perencanaan pengembang biakan ternak sapi untuk kepentingan pembibitan lanjut Vian Tokan, juga akan dilakukan dengan sistem Inseminasi Buatan (IB) setelah proses perkawinan alamiah yang dilakukan terhadap indukan sapi yang telah mengalami beberapa kali proses melahirkan.

Mejawab soal ketersedian pakan ternak sapi, Vian Tokan, menjelaskan ketersediaan Hijauan Makanan Ternak (HMT) dilokasi peternakan wolokolo, Desa Lamatutu ,Kecamatan Tanjung bunga pada dasarnya siap untuk pemenuhan kebutuhan sapi. Selain itu, Disbunter Flotim juga sedang melakukan penjajakan lokasi HMT termasuk dengan mensiasati dengan pola pemberdayaan dengan memanfaatkan HMT milik warga setempat di sekitar lokasi pengembalaaan.

“Jadi soal stok HMT ready dan tidak ada persoalan karena dalam perencanaan, Disbuter Flotim juga akan menyediakan Silase dari hasil fermentasi pakan ternak dengan memanfaatkan stok HMT yang melimpah disaat musim hujan.

“Ini sebagai bentuk antisipasi kekurangan pakan ternak di musim karing” ucap Vian Tokan.

Untuk peternakan ayam petelur jelas Vian Tokan, dalam APBD sudah di setujui DPRD Flotim, sejumlah anggaran untuk pengadaan ayam petelur. Untuk itu ayam petelur yang diadakan sejumlah 7000 ekor dengan umur 4 bulan. Artinya, proses pemeliharaan lebih pendek dan dalam jangka 1 sampai dua bulan berada di kandang, ayam ini sudah bisa berproduksi.

Soal perencanaan peternakan ayam petelur, kata Vian Tokan, Pada dasarnya konsep awal perencanaannya, untuk perkuat program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dengan pertimbangan karena ketergantungan suplay telur dan daging ayam dari luar Flores Timur yang cukup tinggi untuk dapur MBG.

Namun sejalan dengan kondisi yang ada karena belum terbentuknya BUMD, Disbunter tetap mengelola usaha ini dengan mengacu kepada pola pembibitan ternak sesuai arahan regulasi. Desainnya lanjut Vian Tokan, jenis ayam petelur saat ini akan dikawin silangkan dengan ayam tipe bangkok. Silangan ayam bangkok dan ayam petelur ini akan menghasilkan ayam jenis Jober. Hasil silang ini akan menjadi sentral Day Old Chick (DOC) yang bisa menjadi sumber bibit dan penghasil telur yang dapat di manfaatkan oleh warga yang membutuhkan.

Intinya dua kegiatan usaha peternakan ini, selain menjadi sentral bibit, Disbuter juga memastikan bisa menjadi sentral pelatihan keterampilan bagi peternak pemula untuk peningkatan kemampuan dan manajerial bagi pengembangan bidang usaha peternakan.

Soal keberlanjutan usaha peternakan ini kata Drh. Vian Tokan, dalam pertimbangan teknisnya tentu Disbuter optimis bisa mencapai target. Artinya masyarakat peternak bisa mengakses bibit dengan mudah dan dalam sistem distribusi ternak kedepannya dengan pola kemitraan bersama petani peternak diyakini bisa memberi aspek manfaat bagi masyarakat Flotim.*** (MB).

# Optimalisasi Ketersediaan Bibit Ternak, Pemda Flotim Kembangkan Peternakan Skala Besar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.