
Korut Sebut Trump Sakit Jiwa Dalam Selebaran Yang Dijatuhkan Di Seoul
REINHA.com – Korea Utara menyebarkan selebaran yang berisi hinaan terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan cara yang unik. Korea Utara memasukan selebaran ke dalam balon, kemudian menerbangkan balon-balon agar jatuh di Seoul, ibu kota Korea Selatan.
Dalam selebaran tersebut tertulis hinaan yang menyebut Trump sebagai ‘sakit jiwa’ dan ‘dotard’ yang berarti orang yang lemah atau pikun. (Baca juga: Lukisan Ciuman Donald Trump Dan Benjamin Netanyahu Gegerkan Dunia)
Penghinaan tersebut tampaknya merupakan respon Kim Jong-un terhadap komentar yang disampaikan oleh Trump kepada Majelis Umum PBB bulan lalu, di mana presiden AS tersebut merujuk pada pemimpin Korea Utara sebagai ‘pria roket’.
Gambar selebaran tersebut diposkan di Twitter oleh James Pearson, koresponden Korea Utara untuk Reuters.
Pesan tersebut menyusul penyebaran propaganda awal bulan ini, ketika poster yang memuat penggambaran hantu Trump dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dikirim melalui zona demiliterisasi. Propaganda lain menunjukkan Trump diserang oleh seorang tentara Korea Utara.
Ketegangan di semenanjung Korea terus meningkat setelah Pyongyang terus melakukan uji coba nuklir dan rudal dalam menanggapi latihan militer gabungan reguler oleh AS dan Korea Selatan.
Dalam sebuah kunjungan ke Korea Selatan pada hari Sabtu, Menteri Pertahanan AS James Mattis mengatakan bahwa dia “tidak dapat membayangkan” bahwa AS menerima Korea Utara sebagai negara nuklir.
Setelah bertemu dengan rekannya dari Korea Selatan, Song Young-moo, Mattis mengatakan bahwa Washington tidak akan mengurangi tekanan pada negara tetangga Korea Selatan tersebut.
“Jangan salah, serangan apapun ke Amerika Serikat, atau sekutunya, akan dikalahkan. Dan penggunaan senjata nuklir apapun akan disambut dengan respons militer besar-besaran yang efektif dan luar biasa” kata Mattis.
Dengan Washington dan Pyongyang yang memperkuat ancaman mereka, Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan pada bulan September bahwa “meningkatkan histeria militer dalam kondisi seperti itu tidak masuk akal”, dan sebenarnya bisa menyebabkan “bencana planet global dan hilangnya nyawa manusia dalam jumlah yang besar”. (rsn-reinha)


