Fadli Zon: Kita Melupakan Inti Ajaran Ki Hadjar Dewantara

Fadli Zon: Kita Melupakan Inti Ajaran Ki Hadjar Dewantara

Fadli Zon: Kita Melupakan Inti Ajaran Ki Hadjar Dewantara
Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon

REINHA.com – Di Hari Pendidikan Nasional, Fadli Zon mengatakan pendidikan seharusnya mendorong bangsa menjadi mandiri dan berdaulat. Jika hari ini kita mendapati bangsa Indonesia masih terkooptasi kepada bangsa asing, baik secara politik, ekonomi, maupun kebudayaan, berarti ada sesuatu yang harus dikoreksi dari penyelenggaraan pendidikan nasional kita.

Menurut Fadli Zon, yang selalu di ingat di Hari Pendidikan Nasioanl adalah tanggal lahir Ki Hadjar Dewantara, dimana inti dari ajaran-ajaran penting perjuanganya dilupakan. Terutama agar pendidikan nasional kita berangkat dari akar kebudayaan serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemerdekaan dan kemanusiaan.

Ki Hadjar mendesain Perguruan Taman Siswa sebagai antitesa terhadap sistem pendidikan kolonial yang hanya mengutamakan intelektualitas, individualitas, dan materialitas. Itu merupakan proto sistem pendidikan nasional kita, ucap Fadli.

(Baca juga: Fadli Zon: Pemerintah Jokowi Mengorbankan Kepentingan Buruh Lokal)

Fadli pun mengatakan Istilah “membangun manusia Indonesia seutuhnya” tepat, dimana untuk membangun peradaban, yang harus dilakukan pertama kalinya adalah membangun manusia. David Korten menyebutnya sebagai ‘people centered development’.

Untuk membangun manusia tersebut, ada tiga elemen penting yang diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara, yaitu pendidikan, kebudayaan, dan kepemimpinan. Ketiganya bersifat saling kait mengait, dan tidak bisa dipisah-pisahkan.

Sayangnya, menurut Fadli Zon, sesudah reformasi, terutama sesudah terbitnya UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, desain Pendidikan Nasional kita terjebak pada mengejar peringkat belaka.

Ini berlaku baik untuk peserta didik, pendidik, maupun institusi pendidikan. Siswa sibuk mengejar nilai ujian nasional yang standarnya terus naik. Guru sibuk mengurusi laporan administrasi sertifikasi. Kesibukan tersebut hanya untuk mengejar peringkat dimana esensi dari pendidikan itu sendiri dilupakan.

(Baca juga: Menteri Susi Melepaskan 1000 Banggai Cardinal Fish Dan 25 ekor Lobster Di Banggai)

Lebih lanjut lagi Fadli Zon mengatakan, dosen-dosen perguruan tinggi, misalnya. Mereka kebanyakan memikirkan bagaimana caranya agar bisa menulis di jurnal internasional yang terindeks Scopus.

Rencana pemerintah mendatangkan 200 orang dosen asing dgn anggaran Rp300 miliar itu, misalnya, menurut saya adalah cara artifisial untuk mendongkrak mutu pendidikan kita. Cara itu tidak akan memperbaiki mutu dan iklim akademik.

Itu tak ada bedanya dengan mengatasi krisis pangan melalui impor. Untuk jangka pendek mungkin menolong, tapi itu bukanlah jalan keluar.

Kita seharusnya bisa belajar dari dibubarkannya Sekolah Berstandar Internasional (SBI) dan Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) oleh Mahkamah Konstitusi (MK) pada 2013 silam. MK menilai pembentukan SBI dan RSBI berpotensi mengikis rasa bangga dan karakter nasional, karena kurikulum dan lain sebagainya asing semua. Hal ini dianggap bertentangan dengan amanat konstitusi.

Wakil Ketua DPR RI tersebut juga menyinggung tentang standar nilai ujian. Nilai ujian bisa saja dibuat semakin tinggi, tapi bagaimana jika ukuran kualitas yang sebenarnya tak bisa diukur oleh nilai-nilai tadi?.

# Fadli Zon: Kita Melupakan Inti Ajaran Ki Hadjar Dewantara

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.