Fahri Hamzah: Siapa Yang Radikal Dalam Sejarah?

REINHA.com – Siapakah yang radikal dalam sejarah? tanya Wakil Ketua Umum DPR RI Fahri Hamzah dalam akun Twitter miliknya. Radikal Menurut Fahri adalah produk dari komunis dan sekuler dimana tuduhan bahwa orang beragama (Islam) radikal, baru muncul belakangan, dan di bulan Ramadhan ini, rasanya mereka mengumumkan perang dan Fahri Hamzah mengatakan bahwa diakan melayani satu persatu.
Fahri Hamzah kemudian menjabarkan “mereka” yang mengumunkan perang tersebut, Dengan mengatakan kita tahu siapa mereka.
“Dengan kacamata peradaban, kita akan tahu anatomi dari perang ini. Kita tahu kapan ia mulai, SIAPA yang memulai, yang meniupkan terompet komando dan yang memilih lokasi pertempuran. Kita juga tahu siapa yang dikorbankan. Dan cara mengeksekusinya.”
(Baca juga: Fahri Hamzah Khawatir Jika Ketidakbebasan Lebih Diinginkan)
Namun Fahri mengatakan “mereka” yang mengumkan tersebut malah menghindari tuduhan bahwa mereka yang berperang, dimana “mereka” mengambil peran adu domba. “Mereka” yang dimaksut Fahri berada di tengah dan menuduh “kita” tidak toleran, mereka mencari segudang alasan agar kita tidak dipercaya orang, agar kita disisihkan di pinggiran.
Peta yang rumit inilah yang akhirnya menjebak banyak orang. Termasuk kawan kita sendiri yang lugu dan kurang akal. Perang ini memakan banyak korban tetapi umumnya, sebagaimana perang, perang ini korbannya rakyat. Kejahatan adu domba telah menjadi narasi resmi negara kata Fahri Hamzah.
Pemerintah menurut Fahri Hamzah seperti membawa dendam. Gagal mencerna makna pertarungan dan arti kemenangan. Karenanya negara justru digunakan untuk mempertahankan dualisme. “Sampai di situ Ok. Tapi kemudian melabel lawan dengan tuduhan ideologis itu masalahnya.” Lanjut Fahri Hamzah.
Mesin negara terus saja memproduksi tuduhan. Lalu upaya menjadi Seluler didendangkan. Dengan berbagai cara, ada yang sukses ada yang gagal. Tetapi ketegangan tak bisa dihindarkan. Sampai muncul episode kedua; Ahok sebagai aktor dari seluruh yang tak nampak.
Fahri pun mengatakan bahwa sampai saat ini dirinya mendua, apakah Ahok dikirimkan ke pentas politik menjadi kebaikan bagi bangsa atau bagi agama? Atau bagi keduanya? Atau sebaliknya? Sebab sepertinya ia telah melakoni sesuatu secara sempurna; menyeruak lah apa yang ada di alam bawah sadar kita.
Fahri kemudian menuturkan tentang peristiwa penistaan yang terjadi terhadap Alqur’an dimana sebelumnya peritiwa tersebut dianggap remeh hingga akhirnya jutaan orang dengan damai datang tanpa dendam dan amarah, datang tanpa komando mengungkapkan rasa “kami ada dan kami hanya ingin agar keadilan tetap ada”.
Setelah peristiwa tersebut semuanya menjadi berbeda, Fahri membaca bahwa ada dendam kesumat tak hentinya datang. Kepada bangsa Indonesia, kepada Ummat beragama dan Islam khususnya. Dendam itu kadang muncul seperti erupsi gunung berapi. Tak ada hentinya.
Sekarang jelas Fahri ada label baru, “Mendukung gerakan Radikal”. Label ini membuat seorang dosen pengajar Pancasila mau dipecat, mahasiswa mau di-drop out, ulama dan Ustadz kena delik ujaran kebencian dan partai politik minta dibubarkan, pejabat dilarang mengkritik penegak hukum, dll.
Ruang gerak sebagai warga negara pun mulai tak bebas oleh cap yang sedang dikampanyekan. Ini ujian kecil bagi kita sebelum kita betul-betul memimpin bangsa ini supaya tenang, tenteram dan berdaulat. Ujian kita adalah para pengkhianat dari dalam.
Lebih lanjut lagi Fahri Hamzah mengatakan “Bersabarlah. Kita tahu apa yang sedang terjadi. Mereka tahu bahwa kita akan menang. Mereka dihantui rasa takut yang tidak terbayangkan. Adu domba mereka kita akan halangi. Indonesia raya akan bergema melayani jiwa bangsa Indonesia yang mereka tak kunjung paham.”
# Fahri Hamzah: Siapa Yang Radikal Dalam Sejarah?


