Rekka Lamak, Tradisi Lebaran Unik Di Lamahala, Flores Timur

Rekka Lamak, Tradisi Lebaran Unik Di Lamahala, Flores Timur
Bupati Flores Timur menghadiri Festival Rekka Lamak di Lamahala

REINHA.com – Kegiatan Rekka Lamak merupakan sebuah tradisi makan bersama ala adat di Desa Lamahala Jaya, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT. Makan adat ini biasanya dilakukan setiap tahun pada momentum Lebaran, usai masyarakat Lamahala melaksanakan sholat ied.

Semua masyarakat Lamahala datang membawa nasinya dari rumah masing-masing dan akan diberikan lauk pauk, biasanya berupa sup daging sapi, oleh para Raja (pembesar/ Ata Kebelen/ Bela Tello).

(Baca juga: Rayakan Idul Fitri Di Lamahala, Anton Hadjon: Rekka Lamak, Budaya Yang Kian Memudar Di Flores Timur)

Mekanisme pelaksanaan Rekka Lamak ini dilakukan dengan cara, setiap isteri atau anak perempuan Lamahala menjunjung nampan atau dulang besar dari rumahnya berisi dua tiga piring nasi sesuai jumlah anggota keluarga.

Mereka berangkat dari rumah dipimpin oleh suaminya atau Ayahnya masing-masing menuju rumah suku untuk berkumpul bersama seluruh anggota suku lalu berjalan menuju rumah Kapitan (kumpulan beberapa suku).

(Video: Para Wanita Lamahala Membagikan Makanan Di Festival Rekka Lamak)

Dari rumah kapitan rombongan kapitan berjalan menuju Bela (Raja) masing-masing. Dari rumah raja (ada 3 raja di Lamahala) mereka berjalan menuju Bale Adat. Sesampai di Bale Adat, makanan digelar di hadapan suami atau Ayah mereka, setelah itu Raja memerintahkan anak dan isterinya untuk memberikan kuah atau sup daging sapi kepada seluruh rakyat.

Beberapa nilai budaya yang dapat dipetik dari pelaksanaan kegiatan ini, yakni:

1) Kakan kerun, arin baki. Secara sempit berarti Kakak mendamaikan dan menenteramkan adik. Nilai budaya di sini yakni bahwa sebagai Kakak (Raja) wajib melindungi, menjaga, dan mensejahterakan rakyatnya. Hal ini terlihat pada saat Raja memberikan lauk pauk bagi rakyatnya.

2) Puin taan uin tou, gahan taan kahan ehan. Paham ini mengandung nilai adanya rasa persatuan dan kesatuan dalam pelaksanaan upacara ini. Hal ini tampak dalam kebersamaan yang dibangun selama pelaksanaan kegiatan. Bahwa semua unsur terkecil sampai terbesar saling menguatkan untuk menyukseskan acara.

3) Tekan tabe gike hukut, tenu tabe lobo luan. Filosofi ini mengandung arti sedikit pun makanan atau minuman mari sama dirasa. Hal ini ditandai dengan pembagian lauk pauk yang sama rata, mulai dari ukuran, rasa, dan jenis. Kesemuanya ini menjadi ciri bahwa keadilan akan menimbulkan kesejahteraan.

(Video: Tanggapan Bupati Flores Timur, Anton Gege Hadjon Tentang Festival Rekka Lamak)

Rekka Lamak dilakukan di saat Lebaran karena momen Lebaran adalah momen saling maaf memaafkan. Ketika makan bersama maka semua rasa benci dan dendam hilang dengan sendirinya dan berganti saling memaafkan dan cinta kasih.

# Rekka Lamak, Tradisi Lebaran Unik Di Lamahala, Flores Timur

  • 542
    Shares