Lompatan Jauh Dalam Independensi Pemimpin Flotim Yang Terbuka Dan Kolaboratif

Lompatan Jauh Dalam Independensi Pemimpin Flotim Yang Terbuka Dan Kolaboratif

Lompatan Jauh Dalam Independensi Pemimpin Flotim Yang Terbuka Dan Kolaboratif

Mikael Balamaking@REINHA.com

Proyek besar “Lompatan jauh” dalam program Bupati Anton Doni Dihen dan Wakil Bupati Ignas Boli Uran di masa kerja lima bulan memimpin Flores timur tentu menjadi hal menarik untuk di kemas dalam diskusi publik.

Sorotan publik yang terus beredar dalam kritikan dan saran akan kinerja dua pemimpin baru Flotim ini terus mencuat baik dalam diskusi pinggiran di tempat ngopi ataupun tercetus didalam media sosial.Hal yang tentu selalu menyuguhkan informasi menarik dan memicu diskusi lanjutan di ruang publik lainnya.

Dalam konteks diruang diskusi ini, saya mencoba membidik beberapa hal sebagai poin penting dalam refrensi tulisan ini untuk telaahan saya atas pernyataan putra Adonara, Bupati Flotim, Anton Doni Dihen dan Putera Ilebura, Wabup Flotim Ignas Boli Uran sebagai catatan saya dan mungkin bisa menjadi refrensi kita bersama.

Saya mencoba memahami aspek “Lompatan jauh” dengan korelasi prinsipil terhadap makna “independensi, terbuka dan kolaboratif seperti yang disampaikan Wabup Ignas Boli Uran pada kesempatan acara syukuran kemenangan di Desa Lamapaha, Kecamatan Klubagolit (Minggu,20/7/2025).

Sebagai yang tidak terlibat langsung di dalamnya, Saya mencoba memahami sisi terdalam dari yang disampaikan pemimpin baru Flotim tersebut terhadap “Lompatan jauh” dalam visinya sebagai cita-cita “tertinggi” dalam tataran finalisasinya sebagai puncak yang bisa terwujud bukan karena banyaknya gelontoran anggaran yang di alokasikan dengan membangun infrastruktur, melainkan ada hal yang lebih prinsip seperti yang disampaikan Wabup, Ignas Boli Uran dalam sambutannya.

Kesadaran diri – perubahan mindset – perubahan perilaku – peningkatan kinerja adalah benang merah sebagai catatan krusial dalam solusinya menuju “Lompatan jauh” yang produktif.

Saya mencoba kembali sedikit lebih masuk sekaligus mengaris bawahi pernyataan Wabup Flotim tentang pembagunan Flotim seutuhnya untuk perubahan besar demi kesejateraan masyarakat ” harus datang dari semangat, niat dari dalam diri untuk mulai berubah”.

Perubahan mindset itu kata Wabup Flotim “dapat mempengaruhi prilaku dan kinerja dan bisa berdampak pada visi Lompatan jauh yang produktif”.

Hal ini menjadi menarik untuk di garis bawahi lagi tetang kesadaran diri – mindset – prilaku – kinerja – dan dampaknya terhadap – Lompatan jauh yang produktif. Bahwa kerangka pijakan ini menjadi pendasaran untuk bisa tiba pada “Lompatan jauh” yang sesunghuhnya.

Jika mengacu pada uraian diatas, saya berkeyakinan bahwa kita bersepakat tetang kesederhanaan konsep dasar dalam menuju cita-cita “Lompatan jauh” yang produktif. Tentu hal mendasar diatas harus diperjuangkan oleh Bupati Anton Doni Dihen dan Wabup Ignas Boli Uran dalam memenuhi targetnya untuk capaian Lompatan jauh. Tentu tantangan pasti tetap akan berada pada karakter dan pola – pola lama yang cenderung statis dan pastinya dalam pengamatan mereka menjadi kendala untuk perubahan signifikan terhadap pembangunan masyarakat Flotim.

Hemat saya, hal inilah yang mungkin menjadi beban moril pemimpin baru Flotim dalam menerobos sistem yang sudah berakar. Pastinya kemampuan pemimpin untuk membokar dan menata kembali sistem yang kurang menguntungkan bagi perkembangan Flotim merupakan jaminan keberlanjutan menuju “Lompatan jauh” yang ideal. Karena pastinya kita bersepakat bahwa semua cita – cita membawa Flotim lebih maju harus datang dalam diri semua yang terlibat langsung dalam program pemerintah dan pastinya juga bergantung pada kekuatan pemimpim dalam membangun kesadaran diri untuk setiap komponen yang berada dalam “kendalinya” untuk berubah dalam mindset, pola kinerja dengan garansi yang penting untuk di garis bawahi yakni tetap memberi ruang”otoritas” dan “independensi” bagi pemimpin untuk menentukan arah.

Ditengah kritikan atas kinerja pemimpin Flotim dalam konteks lima bulan memimpin masih merupakan hal yang belum terlalu penting sebagai pendasaran evaluasi. Kritikan dan saran masih menjadi hal normatif karena garansi hadirnya pemimpin baru merupakan cita – cita untuk bisa merubah wajah Flotim kepada yang lebih baik. Tentu hal prinsipil sudah di sampaikan Wabup Flotim dan ini membutuhkan kesadaran komplit dengan sentuhan tanggung jawab moril yang harus tumbuh dari dalam diri atas refleksi akan keberadaan masyarakat kita sehingga tidak lagi yang terlibat dalam ego pribadi, ego sektoral dan ego politik yang mengeyampingkan persoalan real masyarakat Flotim dan menghambat proses kemajuan daerah.

Memberi ruang otoritas dan independensi kepada pemimpin memicu ketegasan pemimpin untuk membongkar dan merombak sistem dan pola – pola lama dalam target perubahan mindset dan prilaku kinerja untuk efektifnya Lompatan jauh.

Terhadap pernyataan sederhana Wabup Ignas Boli Uran diatas , Saya mencoba sedikit berhayal tentang pemikiran kedua pemimpin ini tentang cita – citanya, tentang apa yang di pikirkan oleh mereka berdua soal kesadaran diri- soal perubahan mindset- soal kinerja. Tentu semua ini terlepas dari presepsi akan karakter Bupati Anton Doni Dihen yang serba kalem dalam menghadapi situasi dan berbeda dengan Wabup Ignas Boli Uran dalam tampilan tegas dengan intonasi penekanan agak kasar tetapi saya melihat dari sisi yang disebutkan diatas.

Pertanyaan sederhana tentu mengarah kepada siapa yang perlu di rubah dan dibenahi dalam kesadaran diri, mindset , prilaku dan kinerja..? Apakah pola prilaku birokrat ataukah pelaku dalam pola prilaku politiknya.?

Sudah tentu bukan masyarakat yang menjadi titik bidikan kalimat ini ,tetapi lebih mirip kepada pola kerja birokrat yang menjadi sentuhannya yang pastinya perlu di tata dengan pola baru yang bisa memicu kesadaran diri, memicu perubahan mindset, memicu peningkatan kinerja karena sudah pasti masyarakat menunggu kebrakan pemimpin dan selalu berharap adanya kesiapan sumber daya birokrat dalam mendukung visi lompatan jauh.

Karena sekian lama memantau pola birokrasi Flotim dan pelaku dalam prilaku politiknya, Saya cendrung bersepakat dengan apa yang disampaikan Wabup Ignas Uran, Bahwa kesadaran diri, perubahan prilaku, kualitas kinerja tentu akan menghasilkan produktivitas terhadap capaian pembangunan daerah dalam kerangka lompatan jauh.

Hal ini tentu bisa terwujud dengan kembali memberi ruang otoritas dan independensi bagi pemimpin.

Saya juga merasa benar dengan ucapan ini. ” perubahan harus datang dari diri sendri”. Mungkin hal ini juga ingin saya maknai dari ucapan Wabup Flotim Ignas Boli Uran, tentang ” kita bekerja sama tetapi berikan kebebasan terhadap Bupati dan Wakil bupati untuk menentukan sikap” sebagai ungkapan tentang tendensi tertentu dan memicu pertanyaan baru “mungkinkah peran politik cendrung melahirkan kekuasaan – kekuasan kecil dalam komplain jasa dan kecenderungannya menekan ? Sehingga tidak adanya ruang otoritas dan independensi seperti yang disampaikan Wabup? Ini tentu akan menjadi soal jika kita menghadirkan pemimpin baru tetapi masih dengan pola – pola lama yang menghabat pencapaian target dalam visi – misinya.

Memang kita perlu mengakui terkadang peran politik cendrung mengahadirkan posisi tawar yang berlebihan dalam otoritas dan independensi pemimpin yang berdampak buruk terhadap presepsi masyarakat akan buruknya kepemimpinam politik dan menghabat perkembangan daerah, disisi lainnya kondisi ini juga berdampak pada peran elite birokrat yang berada juga dalam posisi tawar untuk kepentingan diri, kepentingan sektoral sehingga lupa akan porsinya dalam mendampingi pemimpin untuk capaian visi – misi nya.

Banyak pengalaman politik membuktikan posisi tawar politik yang masuk kedalam ruang otoritas dan independensi pemimpin selalu menghasilkan” konflik” dan berujung perpecahan. Namun saya meyakini kedua pemimpin ini ada dalam karakternya dan konsepnya untuk membawa Flotim ini lebih baik dan menghindari konflik dan perpecahan. Untuk itu pesan moral Wabup Ignas Uran untuk ” tetap bersama kami, tetap dalam arahan Bupati dan Wakil bupati dan jangalah mengatur Bupati dan Wakil Bupati” menjadi sinyal sekaligus penegasan untuk memberi otoritas dan independensi kepada pemimpin sekaligus untuk tetap dijaga bersama.

Hal ini saya maknai sebagai langkah awal untuk melahirkan ruang keterbukaan dan kolaboratif dalam menjalankan pemerintahan demi capaian Lompatan jauh.

Pola kepemimpinan dengan keterbukaan dan kolaboratif menjadi esensi dari karakter kepemimpinan dalam kerendahan hati sebagai pemimpin yang menyadari keterbatasan peran dan menyadari dukungan peran semua pihak untuk suksesnya Lompatan jauh yang produktif.

Oleh Mikael Balamaking
Wartawan dan Penggiat Media

# Lompatan Jauh Dalam Independensi Pemimpin Flotim Yang Terbuka Dan Kolaboratif

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.