Perang Komentar Fadli Zon Vs Bonnie Triyana Siapa Yang Salah Fokus?

Perang Komentar Fadli Zon Vs Bonnie Triyana Siapa Yang Salah Fokus?

Perang Komentar Fadli Zon Vs Bonnie Triyana Siapa Yang Salah Fokus?
Fadli Zon, saat mengikuti sidang IPU – @DPR_RI

REINHA.com – Menjadi salah satu partai terbesar di tanah air, sekaligus menjadi partai tereksis di media sosial, partai Gerindra sering terlibat aktif dalam perdebatan di dunia sosial dengan netizen.

Pertarungan adu argumen dan data tersebut sering kali menyebabkan kader Gerindra turun tangan dan ikut dalam arus perdebatan.

Hal ini terlihat dalam perdebatan yang baru-baru ini terjadi. Salah satu netizen mempertanyakan perkataan partai berlambang burung garuda tersebut “Jangankan satu pabrik (gula) tercipta, pabrik yang lama saja tidak diperhatikan (jokowi) dan hajat hidup petani gula makin tertekan”.

(Baca juga: Terjun Membawa Bendera Merah Putih Raksasa, Paskhas Pecahkan Rekor MURI)

Netizen tersebut menyertakan sebuah video dalam pertanyaannya, dimana dalam video tersebut menjelaskan keberhasilan Presiden Joko Widodo untuk mengubah bekas pabrik gula Colomadu menjadi tempat konser dan wisata sejarah. Tempat ini akan menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik di wilayah Solo Raya, Jawa Tengah.

Pertanyaan tersebut kemudian dibalas Gerindra dengan mengatakan “Bekas Pabrik Gula yang dirubah fungsinya menjadi “Concert Hall” sahabat benarkan? Biar sahabat sadar, Indonesia bisa dikatakan menjadi gudang gula dunia. Tahun 1930, Indonesia merupakan eksportir gula terbesar di dunia. Sayangnya sekarang kita saat ini malah jadi importir gula”.

Debat ini menjadi seru, ketika Bonnie Triyana, pemimpin redaksi majalah sejarah popular pertama Indonesia, Majalah Historia terlibat dalam percakapan tersebut.

Bonnie mengatakan “Belum ada Indonesia tahun 1930, masih Hindia Belanda. Dan saat jadi “exportir gula terbesar di dunia” itu Hindia Belanda dipimpin oleh ACD de Graeff, gubernur jenderal paling reaksioner yang memenjarakan Sukarno, Hatta dan Sjahrir”.

Tanggapan dari Bonie ini membuat Fadli Zon Wakil Ketua DPR sekaligus politisi partai Gerindra tersebut turun gunung.

Membalas perkataan Bonie yang mengomentari pernyataan Gerindra, Fadli Zon mengatakan “Pointnya,di zaman Hindia Belanda mereka bisa jadi eksportir terbesar. Kok di zaman merdeka now jadi importir. Padahal semboyannya kedaulatan pangan”.

(Baca juga: Jambret Rampas HP Korban Saat Live, Wajah Pelaku Terekam)

Bonnie kemudian mengatakan “Poinnya jadi tidak tertangkap akibat perbandingan yang anakronisme”. Perkataan Bonnie ini di koreksi Fadli Zon.

“Koreksi: anakronime atau anakronistis? Kata yang benar anakronistis. Tapi membandingkan ekspor impor dalam suatu zaman ya tidak anakronistis”.

“Tengkyu koreksinya, Bangbro. Tapi tahun 1930 “Indonesia” “presidennya” masih Gubernur Jenderal Hindia Belanda.”

Menjawab pernyataan Bonnie Fadli Zon mengatakan memang belum ada Republik Indonesia tapi penyebutan Indonesia sudah biasa. Majalah Sinpo sejak 1926 ubah sebutan Hindia jadi Indonesia. Fadli Zon kemudian mengunggah beberapa foto sebagai buktinya.

Perang Komentar Fadli Zon Vs Bonnie Triyana Siapa Yang Salah Fokus?
Buku Traveller’s Handbook Van Stockum terbitan The Hague tahun 1930
Perang Komentar Fadli Zon Vs Bonnie Triyana Siapa Yang Salah Fokus?
Buku Moh Hatta “Indonesie Vrij” (Indonesia Merdeka) terbitan Perhimpoenan Indonesia tahun 1928

Perdebatan tersebut terus berlanjut dan semakin seru. Berikut kutipan lanjutan perdebatan Fadli Zon vs Bonnie Triyana.

Bonnie : Indonesia sebagai identitas bangsa sudah ada. Tapi sebagai “eksportir gula”?? Pemerintah Hindia Belanda dong, Bangbro..

Fadli : Indonesia sudah ada, RI yang belum ada. Soal ekspor gula, kenapa di zaman “penjajahan” bisa, kok sekarang tak bisa, semua impor 3x. Padahal jargon Trisakti.

Bonnie : Kalau cara membandingkannya begini, kenapa tak sekalian harga BBM zaman penjajahan jauh lebih murah dari zaman Jokowi? Begitu juga harga segelas cendol.

Fadli : Banding dengan zaman mardika saja. Masalahnya sekarang harga-harga makin mahal. Impor makin banyak. Janjinya kedaulatan pangan dan energi. Lidah tak bertulang.

Bonnie : Sepertinya Bangbro @fadlizon, kita harus cari karung gula zaman 1930 supaya kita bisa buktikan itu karung gula eksprot capnya “van Indonesia” atau “van Nederlandsch-Indie”

Fadli : Salah fokus bro, kok bisa Londo itu ekspor terus kita nggak bisa. Pak Harto aja bisa swasembada beras 1984. Pemerintah sekarang kok impor melulu.

Bonnie : Fokus saya kepada penggunaan nama “Indonesia” sebagai “eksportir gula terbesar di dunia pada 1930” yang anakronistis. Seakan-akan pemerintah Republik Indonesia adalah pewaris pemerintah kolonial yang tiada terputus sejarahnya. Lupa konteksnya.

Fadli : Kalau gitu kita beda fokus. Saya pada substansi ekspor impor dan kemampuan sebuah kekuasaan. Anda soal istilah “Indonesia” atau “Hindia Belanda” tahun 1930.

Bonnie : Soal ekspor lagi: Hindia Belanda eh Indonesia pernah jadi eksportir kopi yg kuasai pasaran dunia. Hasil tanam paksa. Kalo fokusnya “pernah jadi eksportir terbesar” sementara sekarang tidak, ya berarti fokus kita memang beda.

Fadli : Tanam paksa atau setelah liberalisasi 1870?

Perang Komentar Fadli Zon Vs Bonnie Triyana Siapa Yang Salah Fokus? (jmw-reinha)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.