Fadli Zon: Tanpa Penerapan Teknologi Baru, Pertanian Akan Menjadi Industri Usang

REINHA.com – Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon dalam pidatonya di Asia Young Farmers Forum 2018 di NH Training Building, Buan, Korea Selatan, Selasa, (18/9), menyampaikan bahwa masalah yang dihadapi dunia pertanian Indonesia adalah mandegnya regenerasi petani. Usia rata-rata petani di Indonesia adalah 52-54 tahun.
Asia Young Farmers Forum 2018 di Korea Selatan dihadiri oleh ratusan petani muda dari puluhan negara Asia. Acara pembukaan dihadiri oleh sejumlah pejabat pemerintah dan anggota parlemen dari Korea Selatan, Cina, Malaysia, Vietnam, dan Thailand.
Menurut sensus, antara 2010 hingga 2014, di Indonesia jumlah petani dengan usia produktif, yaitu antara 15-29 tahun, mengalami penurunan signifikan, yaitu dari 9,3 juta, menjadi sekitar 8 juta. Ini adalah masalah yang dialami oleh dunia pertanian Indonesia, kata Fadli Zon melalui akun media sosial miliknya.
Fadli Zon mengatakan dirinya tidak menyangka, jika masalah serupa juga dialami oleh Korea Selatan. Di Korea, jumlah petani di bawah usia 30-an kurang dari 10 ribu orang.
Dengan jumlah petani yang semakin sedikit tersebut menurut Fadli Zon akan membuat masalah dalam ketahanan dan kedaulatan pangan. Ada 263 juta orang yang harus makan tiga kali sehari di Indonesia, ungkap Fadli Zon.
(Baca juga: Sindir Lawan Prabowo Sandiaga, Fadli Zon Tulis Syair Lagu)
Fadli Zon dalam kesempatan tersebut juga memberikan apresiasi yang sangat besar kepada petani muda di Korea dimana mereka mempunya inisiatif yang baik dengan terus mengembangkan teknologi di bidang pertanian untuk menarik minat generasi muda terhadap sektor pertanian termasuk melibatkan teknologi digital.
Selaian itu, The Korea Federation of Young Farmers Association juga telah berinisiatif untuk mengumpulkan dan membentuk Forum Petani Muda Asia ini. Ini upaya yang luar biasa yang dilakukan oleh para petani muda Korea. Mereka umumnya petani muda yang berhasil dan pendapatannya relatif besar.
Menurut Fadli Zon kemajuan pertanian Korea sangat luar biasa, dimana dirinya bertemu dengan Direktur Rural Development Administration (RDA), dan diajak ke National Institute of Horticultural and Herbal Science.
“Mereka sudah menyusun skenario pembangunan dan teknologi pertanian untuk mengantisipasi perubahan iklim. Meskipun telah menjadi negara industri maju, namun 30 persen penduduk Korea hidup dari sektor pertanian. Itu sebabnya mereka terus menjaga dan berinovasi denagn sektor pertaniannya.” Ungkap Fadli Zon.
Lebih lanjut lagi Fadli Zon mengatakan selain memenuhi kebutuhan pangan dan gizi, Korea Selatan juga mengembangkan riset pertanian untuk industri kosmetik. Ini membuat nilai tambah produk mereka menjadi tinggi, dimana produk kosmetik bisa dijual mahal.
Oleh karena itu Indonesia menurut Fadli Zon semestinya tidak ketinggalan dengan Korea, dimana Indonesia secara tradisional mempunyai teknologi pembuatan jamu juga kosmetik.
Industri pertanian merupakan salah satu sektor ekonomi terpenting di dunia. Dimana generasi muda Asia khususnya Indonesia cenderung menghindar untuk terjun ke pertanian. Hal ini merupakan persoalan yang harus dipecahkan bersama oleh negara-negara Asia, ungkap Fadli Zon.
“Sekarangg saatnya kita berpikir radikal untuk merevitalisasi pertanian dan menjadikannya sebaga salah satu mesin pembangunan ekonomi.” kata Fadli Zon.
Lebih lanjut lagi Fadli Zon mengatakan tanpa penerapan teknologi baru, dalam masyarakat digital, pertanian hanya akan menjadi industri usang. Inilah sebabnya kenapa kita membutuhkan kerjasama teknologi global untuk membantu para petani muda.
Fadli Zon pun menyarankan kepada Korea supaya bersama-sama menciptakan Asia Young Farmers Venture Startup Center untuk kerjasama teknologi di kalangan para petani muda.
Organisasi tersebut harus menjadi inisiasi swasta, tapi dengan dukungan publik. Para anggota parlemen, pemimpin pemerintahan, dan pimpinan universitas harus membantu para petani muda ungkap Fadli.
Selaian itu, dalam pidato di Asia Young Farmers, Fadli Zon juga menyampaikan sebagai inisiatif awal, tiga negara, Indonesia, Korea dan RRC, mungkin perlu memulai pekerjaan ini lebih dulu sebelum kemudian memperluasnya ke negara-negara Asia lain.
Petani muda Asia perlu membuat pusat kerjasama teknologi mereka sendiri dan membantu mewujudkan visi mereka untuk masa depan pertanian. Korea dapat memulai upaya ini untuk mendirikan pusat di Korea dan mengundang para petani muda Asia bekerja bersama di pusat tersebut.
Sekali lagi, masa depan pertanian Asia ada di kalangan generasi mudanya. Kita tak bisa memaksa mereka terjun ke sektor pertanian jika kita tidak menyiapkan terlebih dahulu. Ini juga menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia, kata Fadli Zon.
# Fadli Zon: Tanpa Penerapan Teknologi Baru, Pertanian Akan Menjadi Industri Usang


