Tolak Proposal Inalum, Lukas Enembe: Stop Bodoh-Bodohin Orang Papua

REINHA.com- Gubernur Papua, Lukas Enembe menolak dengan tegas proposal yang disodorkan oleh PT. Inalum terkait dengan divestasi 51 persen saham PT. Freeport Indonesia pada hari Kamis (22/11). Dengan respon yang cukup keras Gubernur Papua menyampaikan penolakan tersebut.
“Kita kaya pengemis, ini milik kita bukan milik orang lain, tidak boleh kita mengemis…”kata Lukas Enembe.
Dikutip dari viva.co.id Gubernur Papua mengatakan bahwa sudah ada kesepakatan awal pada pertemuan di Jakarta beberapa waktu lalu dengan Menteri Keuangan. Dimana jika mau membuat perusahaan Badan Usaha Milik Daerah atau perusahaan baru, semua harus melalui kesepakatan bersama.
(Baca juga: Fadli Zon Terpilih Menjadi Ketua Himpunan Seni Budaya Islam)
Tapi pertemuan kali ini PT. Inalum malah menyodorkan proposal di luar kesepakatan bersama terkait dengan divestasi PT. Freeport Indonesia dengan menyodorkan nama perusahaan daerah PT. Indocopper Investama, ungkap Lukas Enembe.
Perusahan PT. Indocopper Investama itu sebelumnya adalah milik Aburizal Bakri, yang kemudian dibeli oleh PT. Freeport Indonesia.
“Jelas ini tak sesuai dengan kesepakatan awal. Ini perusahaan BUMD namun kepemilikan saham 26 persen milik PT. Inalum, lalu 10 persen saham milik Papua dan sisanya tidak tahu siapa yang punya,” papar Gubernur.
Untuk itu ia meminta pembentukan perusahaan BUMD harus dibahas ulang lagi.
“Setop bodoh-bodohin orang Papua, jangan ulang lagi kesalahan yang sama,” tegas Gubernur.
Jika PT Inalum keberatan dengan kesepakatan awal, mestinya disampaikan juga sejak awal, agar Pemprov Papua bisa mencari investor lain untuk divestasi saham PT. Freeport Indonesia ini.
Dalam divestasi saham PT. Freeport Indonesia, pemerintah melalui PT Inalum bersedia membayar saham sebesar 51 persen kepada PT Freeport Indonesia. Lalu 10 persen saham Pemprov Papua itu, PT Inalum akan mengambil deviden milik Papua.
“Papua itu kaya, pemilik hak ulayat, tapi kok dibuat seperti pengemis,” ketusnya.
Sementara itu, PT. Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau yang biasa disebut PT. Inalum memastikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua dan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Mimika mendapatkan 10 persen saham PT. Freeport Indonesia, setelah 51 persen dibeli oleh Pemerintah Pusat.
Tapi setelah 51 persen saham itu dibeli, nantinya Pemprov Papua dan Pemda Mimika diharuskan membayar cicilan utang melalui pemotongan sebagian dari deviden, setiap tahunnya.
“PT. Inalum akan menjadi pihak yang menalangi pembelian saham PT. Freeport atas kedua pemerintah tersebut, yang totalnya sebanyak 10 persen atau senilai 820 juta dollar AS, ” ujar Kepala Komunikasi Perusahaan dan Relasi Pemerintahan PT. Inalum, Rendi A. Witular kepada Wartawan di Jayapura.
# Tolak Proposal Inalum, Lukas Enembe: Stop Bodoh-Bodohin Orang Papua (viva)


