Suster Ann Nu Thawng Berlutut Di Depan Polisi Myanmar Memohon Agar Mereka Tidak Menembaki Pengunjuk Rasa

Suster Ann Nu Thawng Berlutut Di Depan Polisi Myanmar Memohon Agar Mereka Tidak Menembaki Pengunjuk Rasa

Sr Ann Nu Thawng berlutut di depan Polisi Myanmar

REINHA.com – “Hari ini, kerusuhan meledak di seluruh negeri. Polisi menangkap, memukuli, dan bahkan menembaki masyarakat. Dengan penuh air mata, Sr. Ann Nu Thawng memohon dan menghentikan polisi untuk berhenti menangkap dan menembaki para pengunjuk rasa” ungkap akun twitter @CardinalMaungBo.

Sekitar 100 pengunjuk rasa bisa melarikan diri dari polisi karena suster tersebut kata @CardinalMaungBo.

Selain foto Suster Ann Nu, beredar juga di media sosial foto seorang biksu yang dengan berani duduk di jalan antara polisi dan pengunjuk rasa, memberi tahu polisi di negara mayoritas Buddha ini untuk menembaknya terlebih dahulu.

Sr Ann Nu Thawng

(Baca juga: Myanmar Berdarah, 18 Demonstran Dilaporkan Tewas)

Duta besar Myanmar untuk PBB, Kyaw Moe Tun, dengan berani berbicara di PBB untuk keluar dari junta ilegal dan memohon bantuan dunia.

Dalam laporan terbaru, sebanyak 18 orang meninggal dunia dalam aksi unjuk rasa tersebut. Salah satu pengunjuk rasa yang meninggal dunia dalam kerusuhan tersebut adalah seorang insinyur jaringan internet bernama Nyi Nyi Aung Htet Naing.

Sebelum meninggal dunia, dia sempat membuat unggahan di Facebook mengenai tindakan keras dari junta militer yang semakin meningkat terhadap pengunjuk rasa di Myanmar.

“#How_Many_Dead_Bodies_UN_Need_To_Take_Action,” tulisnya di Facebook, mengacu pada PBB.

Nyi Nyi Aung Htet Naing ditembak beberapa ratus meter dari Persimpangan Hledan di Yangon, tempat aksi protes biasa digelar.

(Baca juga: Targetkan Pasukan Iran, Israel Serang Daerah Sekitar Damaskus)

Para pengunjuk rasa mengambil bagian dalam upacara untuk berdoa bagi mereka yang tewas selama demonstrasi menentang kudeta militer Myanmar di Yangon pada 28 Februari (Foto: Ye Aung Thu / AFP)

Dikutip dari ucanews, korban tewas pada 28 Februari lebih dari 20, dengan tak terhitung jumlah yang terluka, dipukuli, ditangkap. Pembantaian itu mengingatkan pada penumpasan militer sebelumnya – khususnya pada tahun 1988, 1996 dan 2007.

Satu bulan yang lalu, panglima tertinggi angkatan bersenjata, Jenderal Min Aung Hlaing, secara ilegal merebut kekuasaan, menolak keinginan rakyat dalam pemilihan November lalu. NLD yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi, memenangkan mayoritas kursi dan berhak membentuk pemerintahan. Min Aung Hlaing menuduh kecurangan pemilih tetapi tidak menunjukkan bukti dan malah menuduh Suu Kyi dengan kejahatan mengimpor walkie-talkie secara ilegal.

# Suster Ann Nu Thawng Berlutut Di Depan Polisi Myanmar Memohon Agar Mereka Tidak Menembaki Pengunjuk Rasa

  • 16
    Shares

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.