Soroti Kurangnya Minat Baca Di Indonesia, Fadli Zon: Buku Masih Menjadi Barang Mewah

Soroti Kurangnya Minat Baca Di Indonesia, Fadli Zon: Buku Masih Menjadi Barang Mewah

Soroti Kurangnya Minat Baca Di Indonesia, Fadli Zon: Buku Masih Menjadi Barang Mewah
Wakli Ketua Umum DPR RI Fadli Zon

REINHA.com – Di peringatan Hari Buku Nasional Kamis (17/15) Wakil Ketua Umum DPR RI Fadli Zon, mengatakan bahwa Indonesia mengalami beberapa persoalan di dalam dunia perbukuan, salah satunya adalah rendahnya minat baca.

Minat baca selama ini hanya sekedar sebagai hobi yang sifatnya personal belaka, sehingga kita jadi miskin rekayasa yang sifatnya kolektif atau struktural untuk mempengaruhi hal tersebut, kata Fadli Zon melalui akun media sosial miliknya.

“Sayangnya, soal minat baca selama ini didudukkan semata sebagai soal hobi yang sifatnya personal belaka, sehingga kita jadi miskin rekayasa yang sifatnya kolektif atau struktural untuk mempengaruhi hal tersebut.”

Salah satu hambatan struktural terbesar untuk menumbuhkan minat baca di Indonesia, adalah kurangnya daya beli masyarakat. Dimana jika dibandingkan negara lain seperti India, harga buku di Indonesia relatif mahal. Di India harga buku sangat terjangkau oleh masyarakat kebanyakan.

(Baca juga: ISIS Kembali Klaim Sebagai Dalang Dalam Serangan Di Mapolda Riau)

Sebagai contoh Fadli Zon mengatakan di India dengan uang 50 ribu, para pelajar bisa membeli dua eksemplar buku pelajaran, sementara di Indonesia buku pelajaran sekolah menengah harganya lebih dari 50 ribu, bahkan bisa ratusan ribu rupiah.

Mengenai harga buku Fadli Zon mengatakan sekitar 65 persen pasar buku Indonesia memang didominasi buku pelajaran, dengan pangsa pasar mencapau 61 juta eksemplar per tahun.

“Soal harga buku pelajaran ini memang tak bisa dilewatkan begitu saja. Apalagi, sekitar 65 persen pasar buku di Indonesia memang didominasi buku pelajaran, dengan pangsa pasar mencapai 61 juta eksemplar per tahun.”

“Terdiri dari 31 juta eksemplar buku SD, 15 juta eksemplar buku SMP, 9 juta eksemplar buku SMA, dan 5 juta eksemplar buku perguruan tinggi. Jadi, kita punya pasar yang cukup besar” kata Fadli Zon.

Fadli Zon pun menyayangkan sikap pemerintah yang lebih memberikan insentif bagi industri hiburan dan barang-barang mewah, seperti dulu diwakili oleh Peraturan Menteri Keuangan No. 158/2015.

Pemerintah lebih rela menghapus pajak hiburan, degan potential loss pajak sekitar Rp900 miliar, daripada mengurangi pajak buku yang punya multiflier effect strategis.

Masih menurut Fadli Zon, buku saat ini masih dianggap sebagai barang mewah karena mahalnya harga buku tersebut. Mahalnya harga buku karena kurang tepatnya kebijakan yang telah dibuat pemerintah.

“Buku, misalnya, masih dikenai PPN 10 persen, dan penulis dibebani PPh royalti sebesar 15 persen. Pajak-pajak itu telah menyebabkan insentif kepada para penulis jadi sangat kecil.”

“Royalti pada penulis di Indonesia paling besar biasanya hanya 10 persen dari harga buku. Pemerintah mestinya meninjau kembali pajak-pajak yang selama ini telah membebani industri perbukuan, termasuk memutus rantai monopoli impor kertas.”

Tahun lalu, kata Fadli Zon kita membaca ada seorang penulis best seller yang terpaksa menghentikan peredaran bukunya, karena menilai pajak yang harus dibayar sebagai penulis sangat mahal. Ia melakukan aksi itu sebagai bentuk protes.

Untuk kembali menggairahkan industri perbukuan, Fadli Zon mengatakan perlu untuk meninjau kembali aturan perpajakan. Pemerintah perlu menyadari bahwa buku adalah pilar peradaban. Tak ada peradaban besar yang tidak ditopang oleh buku.

Itu sebabnya, kebijakan publik kita harus mendukung berkembangnya industri perbukuan dan memberikan perlindungan terhadap para penulis, kata Fadli Zon di ujung tweet memperingati Hari Buku Nasional.

# Soroti Kurangnya Minat Baca Di Indonesia, Fadli Zon: Buku Masih Menjadi Barang Mewah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.