Fadli Zon: Krisis Utang BUMN Pasti Berimbas Pada APBN

Fadli Zon: Krisis Utang BUMN Pasti Berimbas Pada APBN

Fadli Zon: Krisis Utang BUMN Pasti Berimbas Pada APBN
Fadli Zon

REINHA.com – Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon mengatakan BUMN kini sedang berada di ambang krisis utang yang serius. Dimana dalam empat tahun terakhir utang BUMN melonjak hingga Rp 1.300 triliun.

Untuk menyeimbangkan neraca keuangan dari cengkraman utang, sejumlah BUMN, terutama yang bergerak di bidang energi dan infrastruktur terancam harus menghentikan investasinya dalam lima tahun ke depan, ungkap Fadli Zon melalui akun Twitter miliknya.

Lebih lanjut lagi Fadli Zon mengatakan bahwa Gerindra, partai dimana dirinya bernaung sudah memperingati bahwa pembangunan infrastruktur disaat ekonomi sedang lesu adalah berbahaya.

“Kita sudah mengingatkan dari awal bahwa pembangunan infrastruktur yang dilakukan saat perekonomian sedang lesu dan negara tak punya uang sangatlah berbahaya. Tapi Presiden berdalih bahwa pembangunan infrastruktur tak akan membebani APBN. @Gerindra” tulis Fadli Zon.

Kini, kita melihat bahwa dalih tersebut tidaklah benar. Dimana pada kenyataannya pembangunan tersebut telah dibiayai oleh utang BUMN yang pasti akan berimbas pada APBN.

(Baca juga: Fahri Hamzah: Siapa Yang Radikal Dalam Sejarah?)

Sebagai gambarannya Fadli Zon menjelaskan tentang total untang BUMN yang kini mencapai Rp 4.825 triliun, atau naik Rp 1.337 trilun dibandngan utang tahun 2014 sebesar Rp 3.488 triliun. Dari data-data mengenai utang Indonesia, lonjakan utang sektor publik terjadi sejak tahun 2014 hal ini disebabkan karena melonjaknya utang BUMN.

Fadli Zon pun mengungkap dua persoalan fatal terkait melonjaknya utang BUMN tersebut.

Pertama, sebagian besar utang itu merupakan utang jangka pendek. Dimana hal tersebut sangat berbahaya, sebab situasi perekonomian, baik global maupun domestik, sedang mengalami kontraksi.

Kedua, dari data yang dipegang Fadli Zon, sekitar 60 persen utang tersebut berbentuk valuta asing yang rentan tehadap fluktuasi nilai tukar Rupiah. Jika nilai tukar Rupiah melemah, BUMN tentu akan semakin berdarah-darah.

(Baca juga: Ribuan e-KTP Tercecer, Fadli Zon: Wajar Timbul Banyak Prasangka, Ini Tahun Politik)

Meski total aset BUMN naik menjadi Rp 7.212 triliun pada akhir 2017, dengan angka utang Rp 4.825 triliun, rasio utang BUMN sudah mencapai 67 persen aset.

Ini menurut Fadli Zon sudah melampaui lampu merah. Namun dalam kondisi semacam itu, Kementerian BUMN masih menargetkan untuk menambah utang hingga Rp 5.253 triliun sepanjang tahun ini.

Selanjutnya Fadli Zon mengatakan dalam tiga tahun terakhir sejak 2014 semua BUMN mengalami kenaikan utang di atas 100 persen bahkan ada yang lebih dari 600 persen.

PT Waskita Karya Tbk, misalnya, utangnya meroket hingga 669 persen. Meskipun tak sampai meroket, PT Wijaya Karya Tbk lonjakan utangnya mencapai 181 persen. PT Adhi Karya Tbk utangnya naik 155 persen, dan PT Pembangunan Perumahan Tbk utangnya naik 125 persen. Dari sudut pandang manapun, kenaikan tersebut sangat tidak sehat, kata Fadli Zon.

Oleh karena itu Fadli Zon mengatakan dirinya tidak merasa heran jika Standard & Poor’s Global Ratings memberi kartu kuning untuk BUMN. Dimana neraca BUMN terus memburuk sesudah terlibat dalam berbagai proyek infrastruktur pemerintah.

Selain itu Fadli Zon juga mengatakan BUMN, terutama yang berada di sektor kelistrikan dan konstruksi, telah mencetak utang yang sangat besar. Hal ini telah menyebabkan neraca perseroan jadi berdarah-darah.

Ini diakibatkan karena perencanaan yang ceroboh dari pemerintah, sehingga kita masuk dalam jebakan utang yang sangat berbahaya. Masyarakat tak boleh lupa, seluruh krisis ekonomi yang pernah terjadi selalu terkait dengan utang, kata Fadli Zon.

Krisis pada tahun 1997-1998, misalnya, terjadi akibat akumulasi utang yang terjadi pasca-liberalisasi sektor keuangan pada dekade 1980-an. Begitu juga dengan krisis utang di Amerika Latin pada dekade 1980-an, disebabkan oleh ekspansi fiskal dan akumulasi utang pemerintah yang berlebihan.

Bagaimana pemerintah akan mengatasi krisis utang BUMN ini? Degan PMN (Penyertaan Modal Negara)!? Dari mana pemerintah mendapatkan uang untuk memberikan PMN? Dari menambah utang pemerintah!? Ini kan jadi seperti lingkaran setan, karena ujung-ujungnya tetap kembali ke APBN.

“Itu sebabnya, saat Presiden dulu mengklaim bahwa pembangunan infrastruktur tidak akan membebani APBN, sejak awal saya menganggapnya omong kosong. Cukup jelas semua itu kini sedang mengarah untuk membebani APBN” tulis Fadli Zon diujung tweetnya.

# Fadli Zon: Krisis Utang BUMN Pasti Berimbas Pada APBN

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.