Migran Jadi Isu Hangat Di Perpas XII Nusra

Migran Jadi Isu Hangat Di Perpas XII Nusra

Migran Jadi Isu Hangat Di Perpas XII Nusra

Perpas XII Nusra

REINHA.com – Masalah migran merupakan isu kompleks yang mencakup beberapa aspek sosial, ekonomi, hukum dan kemanusiaan, hal ini pun menjadi perhatian serius dari Gereja dan Pemerintah Provinsi NTT

Dalam pertemuan Pastoral (Perpas) XII Regio Gerejawi Nusa Tenggara (Nusra) dihadiri sembilan uskup se-Nusra serta Gubernur NTT, Melki Laka Lena, Rabu, 2 Juli 2025, membahas persoalan migran lewat diskusi untuk bagaimana mencari solusi atas masalah serius para pekerja migran yang kerap menjadi korban eksploitasi, kekerasan, bahkan kematian.

(Baca juga: Delapan Uskup Hadiri Perpas XII Nusra Di Larantuka)

“Provinsi NTT merupakan salah satu daerah pengirim pekerja migran terbesar. Sejak lama minat masyarakat NTT bekerja di luar negeri, di luar NTT juga sangat tinggi,” ungkap Gubernur Melki Laka Lena.

Melki juga menyoroti kebiasaan masyarakat NTT yang merantau melalui “jalur tikus” alias non prosedural. Pekerja ilegal via calo itu menjadi tantangan besar, apa lagi masyarakat terbuai dengan iming-iming tanpa tahu fakta saat tiba di perantauan.

“Banyak saudara/saudari NTT di seluruh daerah yang dikirim tanpa mekanisme hukum dan persiapan yang benar,” ujarnya.

Melki berujar, pihaknya melarang penempatan tenaga kerja yang rawan terhadap eksploitasi, seperti pekerja rumah tangga. Pekerja rawan ini harus diberi pelatihan dan kompetensi.

“Ini menjadi langkah untuk mencegah (praktik) perdagangan orang,” tuturnya.

Langkah berikut terkait penguatan layanan terpadu satu atap (LTSA) yang fokus terhadap reaktivasi di setiap kabupaten/kota sehingga mempermudah migrasi legal. Sejauh ini hanya Kota Kupang yang aktif menerapkan cara itu.

“Ada empat LTSA, di Kota Kupang, Kabupaten Kupang Sikka, dan Sumba Barat Daya. Hanya satu yang aktif, di tempat lain belum berjalan dengan baik,” ucapnya.

Ketua Pengarah Perpas XII, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, mengapresiasi Gubernur NTT dan menyambut baik sinergi antara program pastoral gereja dan rencana pembangunan pemerintah daerah.

“Ini telah menjadi perhatian serius sejak Perpas Nusra X di Mataloko yang menyoroti keluarga para perantau, dilanjutkan dalam Perpas XI di Atambua yang kembali mengangkat persoalan migran,” jelas Uskup.

Namun, menurutnya, realisasi pastoral sempat terhambat pandemi Covid-19. Hal ini menjadi tantangan bagi gereja dalam menindaklanjuti amanat Perpas sebelumnya.

Ia mengajak seluruh peserta mengevaluasi seluruh kondisi para migran pascapandemi. Perpas XII kali ini harus menjadi ruang untuk menemukan solusi pastoral yang praktis dan implementatif. Isu migran akan terus diangkat untuk menandakan pentingnya keberlanjutan pelayanan terhadap komunitas.

Ia juga menekankan pentingnya saling berbagi pengalaman antar-keuskupan sebagai dasar pemetaan persoalan dan pencarian benang merah yang akan memperkaya pendekatan pastoral ke depan.**(JMW)

# Migran Jadi Isu Hangat Di Perpas XII Nusra

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.